Laporkan Masalah

Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi anak balita pada keluarga nelayan di Kecamatan Lembar Kabupaten Lombok Barat Provinsi NTB

KHALID, dr. Madarina Julia, MPH., Ph.D., Sp.AK

2010 | Tesis | S2 IKM-Gizi dan Kesehatan

Latar Belakang : Anak balita merupakan golongan yang rentan terhadap masalah gizi yaitu gizi kurang dan gizi buruk pada keluarga nelayan. Hasil Susenas menunjukkan adanya penurunan prevalensi balita gizi buruk yaitu : (< -3 SD indeks BB/U) menurun dari 6,58 % (2005) menjadi 3,74 % (2006). Demikian juga dengan Kekurangan Energi Protein/KEP atau gizi kurang (< - 2 SD indeks BB/U) menurun dari 29,20 % (2005) menjadi 27,34 % (2006). Di NTB masalah kekurusan (15,5%) masih merupakan masalah kesehatan, dan masih berada di atas nasional (13,8%), sehingga di NTB berada pada batas kondisi yang dianggap kritis (di atas 15%). Prevalensi gizi kurang di Kabupaten Lombok Barat : 21.28% (2005), 25,15% (2006) dan 24,43% (2007). Tujuan : Mengetahui hubungan faktor karakteristik keluarga; asupan zat gizi; sanitasi lingkugan; penyakit infeksi; dan investasi cacing terhadap status gizi anak balita keluarga nelayan di Kecamatan Lembar Kabupaten Lombok Barat. Metode : observasional analitik, cross sectional. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Lembar Kabupaten Lombok Barat pada bulan Oktober–Desember 2009. Besar sampel anak balita usia 24 -59 bulan; n = 241 sampel. Pemilihan sampel secara simple random sampling. Variabel Bebas : Pengeluaran pangan keluarga, tingkat pendidikan orangtua, jumlah balita dalam keluarga, pengasuhan anak, besar keluarga, sanitasi lingkungan, penyakit infeksi dengan wawancara dan asupan zat gizi dengan metode recall 24 jam serta investasi cacing dengan pemeriksaan tinja dengan metode kato katz; variabel terikat Status gizi, BB diukur dengan timbangan digital, TB diukur dengan mikrotoise. Hasil : Asupan energi dan protein mempunyai resiko 3,4 dan 3,8 kali lebih besar mengalami status gizi pada anak balita, lama pemberian ASI mempunyai resiko 3,8 kali lebih berisiko terhadap kejadian status gizi pada anak balita, Pengeluaran pangan keluarga mempunyai risiko 2,8 kali lebih besar terhadap kejadian status gizi, investasi cacing mempunyai risiko 2,9 kali lebih berisiko terhadap kejadian status gizi pada anak balita menurut indeks BB/TB. Pola Asuh, Sanitasi lingkungan dan penyakit infeksi (ISPA dan Diare) bukan merupakan faktor risiko terhadap kejadian status gizi. Kesimpulan : Status gizi balita mempunyai hubungan yang signifikan dengan lama pemberian ASI ≤ 2 tahun, investasi cacing positif, Pengeluaran pangan keluarga rendah dan asupan energi dan protein kurang.

Background: Underfives are age group susceptible to nutrition problem, i.e. undernourishment and malnutrition. The result of national economic survey indicated declining prevalence of malnourished underfives from 6.58% in 2005 to 3.74% in 2006. Protein energy deficiency also decreased from 29.20% in 2005 to 27.34% in 2006. At Nusa Tenggara Barat stunting (15.5%) is a problem and it is still above the national figure (13.8%), therefore it is considered critical (above 15%). The prevalence of undernourishment at Nusa Tenggara Barat was 21.28% (2005), 25.15 (2006), and 24.43% (2007). Objective: To identify association between factors of family characteristics (nutrient intake, environmental sanitation, infection and worm infection) and nutrition status of underfives in fishermen families at Subdistrict of Lembar, District of Lombok Barat. Method: The study was analytic observational with cross sectional design undertaken at Subdistrict of Lembar, District of Lombok Barat from October to December 2009. Samples were 241 children of 24 – 59 months taken with simple random sampling technique. The independent variables were family expenditure for foods, education of parents, number of underfives in the family, child rearing, size of the family, environmental sanitation, infection diseases and worm investment. Data were obtained through interview using questionnaire and nutrient intake using recall 24 hour method and worm infection examined through faeces examination with Kato Katz method. The dependent variable was nutrition status measured from index of weight/height using scale and microtoise. Result: Intake of energy and protein had risk 3.4 times and 3.8 times greater; duration of breastfeeding had risk 3.8 times greater; household expenditure for foods had risk 2.8 times greater; worm investment had risk 2.9 times greater for the incidence of stunting in underfives based on weight/height index. Conclusion: Nutrition status of underfives had significant association with duration of breastfeeding ≤ 2 years, positive worm investment, low expenditure for foods and non foods as low intake of energy and protein based on index of weight/height.

Kata Kunci : Status gizi,Karakteristik keluarga nelayan,Penyakit infeksi,Investasi kecacingan,family characteristics, fishermen, infection diseases, worm investment, nutrition intake, nutrition status


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.