Laporkan Masalah

Implementasi pembiayaan murabahah di perbankan Syariah :: Studi di Bank Syariah Mandiri Yogyakarta

SUHARTINI, Yulkarnaen Harahab, S.H., M.Si

2010 | Tesis | S2 Magister Hukum

Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana perkembangan akad pembiayaan murabahah di bank syariah mandiri serta kesesuaiannya dengan prinsip fiqih Islam, serta mengetahui kendala-kendala bank syariah mandiri dalam menerapkan prinsip syariah pada pembiayaan murabahah. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat yuridis normatif dengan menggunakan studi dokumen. Adapun ruang lingkup penelitian ini ditujukan pada praktek akad pembiayaan murabahah pada perbankan syariah yaitu Bank Syariah Mandiri Yogyakarta. Untuk metode pengumpulan data, penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan untuk mendapatkan data-data yang akurat tentang keadaan riil praktek pembiayaan murabahah di lapangan. Pengumpulan data sekunder merupakan data-data yang ada dalam dokumen, buku, kitab dan lain-lain. Data-data yang sudah terkumpul kemudian dianalisis menggunakan metode analisa deskriptif (descr iptive analysis). Hasil dari penelitian ini adalah : bahwa pembiayaan Mura>bahah telah mengalami perkembangan-perkembangan sampai pada tingkat yang cukup kompleks. Pembiayaan Mura>bahah masa ini telah melibatkan 3 (tiga) pihak yaitu pembeli (nasabah), penjual (bank) dan supplier. Untuk implementasi pembiayaan Murabahah di Bank Syariah Mandiri cabang Yogyakarta, setidaknya ada 3 pola pengembangan yang diterapkan. Akad pembiayaan murabahah pada Bank Syariah Mandiri cab Yogya masih terdapat beberapa aspek yang kurang relevan dengan prinsip-prinsip dasar murabahah dalam fikih Islam, Diantara kendala/masalah pembiayaan murabahah yang ditemui di lokasi penelitian adalah : Pertama, terkesan bahwa antara nasabah dan pihak bank bukan terjadi akad jual beli, tapi terjadi pemberian pinjaman uang komoditas. Selanjutnya dikredit/ dicicil oleh nasabah sehingga nasabah tidak merasa berhutang pada bank secara langsung terhadap jual beli komoditas tersebut. Kedua, Jika komoditas yang diakadkan antara nasabah dan bank dimiliki penuh, dibeli dulu atas nama bank kemudian dijual kembali pada nasabah, maka terjadi dua kali proses jual beli.

This thesis research focused on changes / developments that occurred murabahah contract at the level of practice in Islamic banking, especially in the Yogyakarta branch of the Bank, Is the development is in conformity with the principles of murabaha in Islamic fiqh, Then constraints -what obstacles encountered in the process murabahah in research sites. This research is a normative juridical nature by studying the documents. The scope of this study is directed at the practice murabahah agreement on Islamic banking, Bank Syariah Mandiri Yogyakarta. For data collection methods, this study uses primary and secondary data. Primary data collection is a research field (Field resea rch) is performed to obtain accurate data about the real situation murabahah practices in the field. The collection of secondary data is data that exists in the document, book, books, etc. The data have been collected and then analyzed using descriptive analysis method (descriptive analysis). The results of this study are: that the financing murabahah has undergone developments to a level that is quite complex. Financing Murabahah this period has involved three (three) parties, namely the buyer (customer), sellers (banks) and suppliers. For the implementation of Murabaha financing at Bank Syariah Mandiri branch of Yogyakarta, there are at least three patterns of development are applied. murabahah contract with Bank Syariah Mandiri cab Yogya still there are some aspects that are less relevant with the basic principles of Islamic jurisprudence murabaha in, Among the obstacles / problems encountered murabahah in research sites are: First, it seems that between the customer and the bank sale and purchase agreement is not happening, but happening commodity money lending. Furthermore credited / payable by the customer so that customers do not feel indebted to the bank directly to the buying and selling commodities. Second, if the commodities diakadkan between customer and bank wholly owned, first bought in the name of the bank and then sold back to the customer, then there is double process of buying and selling, then this will hit sales tax twice.

Kata Kunci : Pembiayaan,Murabahah,Bank Syariah, Financing, Murabahah, and Islamic Banking


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.