Identifikasi penyebab dan upaya non-struktural pengendalian banjir Kali Sampean
MAHFUDI, Umar, Ir. Joko Sujono, M.Eng., Ph.D
2010 | Tesis | S2 Teknik SipilPada tahun 2002 dan tahun 2008 Kali Sampean mengalami banjir bandang yang menelan korban jiwa serta merusak harta benda dan infrastruktur umum yang sangat merugikan. Banjir tersebut disebabkan oleh terganggunya fungsi hidrologis di daerah aliran sungai (DAS), banyaknya alih fungsi lahan yang mempunyai daya infiltrasi besar seperti hutan menjadi lahan pertanian, hal ini menyebabkan aliran permukaan (runoff) menjadi meningkat dan resapan air hujan (recharge) semakin kecil. Untuk mengatasi permasalahan banjir di Kali Sampean perlu dilakukan identifikasi penyebab banjir dan upaya pengendaliannya, antara lain dengan memperbaiki pola tata guna lahan dan penghutanan kembali lahan yang telah beralih fungsi. Analisis faktor penyebab banjir meliputi pengaruh tata guna lahan dan curah hujan. Pengaruh tata guna lahan diperoleh dengan membandingkan besarnya debit puncak berdasar CNkomposit tahun 1998 dengan CNkomposit tahun 2008. Pengaruh hujan dianalisis dengan mengolah data hujan harian sejak tahun 1989 sampai tahun 2008 menjadi hujan harian rata-rata maksimum DAS dan mencermati waktu kejadian banjir Kali Sampean tahun 2002 dan 2008. Simulasi model hidrologi pengalihragaman hujan menjadi aliran dilakukan dengan menggunakan perangkat lunakHEC-HMS versi 3. 3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab utama terjadinya banjir di Kali Sampean adalah alih fungsi lahan yang tidak terkendali di DAS Sampean bagian hulu dan curah hujan yang tinggi yang merata di seluruh DAS. Perubahan tata guna lahan selama 10 tahun (1989-2008) meningkatkan debit puncak untuk berbagai kala ulang berkisar antara 4,60% sampai 12,69%. Banjir tahun 2002 merupakan akibat hujan sebesar 121,5 mm/hari atau mendekati hujan kala ulang 100 tahun dan banjir tahun 2008 merupakan akibat hujan sebesar 106,5 mm/hari atau mendekati hujan kala ulang 50 tahun. Pengendalian banjir secara nonstruktural dengan skenario pengaturan penggunaan lahan belum efektif untuk mereduksi debit puncak banjir secara keseluruhan. Dengan upaya pengendalian tata guna lahan ini hanya mampu mengurangi besarnya debit puncak pada kala ulang 50 tahun (Qrencana = 1575 m3/s) sebesar 6,51% untuk Skenario 1 dengan pengembangan hutan seluas 30% luas DAS dan sebesar 9,83% untuk Skenario 2 dengan pengembangan hutan seluas 40% luas DAS. Pengendalian banjir secara non-struktural dengan Skenario 2 dan secara struktural dengan pembangunan Waduk Taman yang mempunyai kapasitas tampungan 7,08 juta m3 dapat mengurangi debit puncak Kali Sampean sebesar 23,89%.
In the year 2002 and 2008, Sampean River experienced flashfloods which took casualties and damaged several property and public infrastructures. The flood was caused by the disruption of hydrological functions in the watershed, several land use changes from high infiltration capability forest into agriculture land, which caused increasing runoff and less rain water recharge. To overcome Sampean River flood problem, it is important to identify the causes of flooding and control efforts, including improved land use pattern and reforestation. Analysis of the causes of flooding include the impact of land use and rainfall. Effect of land use is obtained by comparing the peak discharge based on 1998 CNcomposite with the 2008 CNcomposite. Effect of rain was analyzed by processing the daily rainfall data from 1989 to 2008 to an average of maximum daily rainfall of the watershed and noticing flooding time of Sampean River in 2002 and 2008. Hydrologic model simulation of rain transformation into streams is done by using HEC-HMS software version 3.3. The results showed that the main cause of flooding in Sampean River was the uncontrolled land use changes in the upstream of Sampean Watershed and evenly distributed high rainfall throughout the watershed. Changes in land use for 10 years (1989-2008) increases the peak discharge at several return periods around 4.60% up to 12.69%. Floods in 2002 was the result of rain fall as much as 121.5 mm/day or equivalent to rainfall of 100 years return period and the flood of 2008 was the result of rainfall as much as 106.5 mm/day or equivalent to rainfall of 50 years return period. Non-structural flood control by regulating land use scenario only is ineffective to reduce peak flow of the flood. This land use regulating countermeasures will reduce peak flow of 50 years return period (Qdesigned = 1575 m3/s) by as much as 6.51% for Scenario 1 with 30% forest land expansion of the watershed (Scenario 1) and by 9.83% for scenario 2 with 40% forest land expansion of the watershed. Non-structural flood control using Scenario 2 combined with structural by building Taman Dam with a capacity of 7.08 million m3 storage can reduce peak discharge of Sampean River by as much as 23.89%.
Kata Kunci : Banjir,Curve number,Tata guna lahan, flood, curve number, land use