Determinan perilaku seksual mantan buruh migran selama bekerja di luar negeri terhadap risiko penularan HIV-AIDS di Kecamatan Suralaga Kabupaten Lombok Timur
HIDAYAH, Nur, Dra. Ira Paramastri, M.Si
2010 | Tesis | S2 IKM-Perilaku dan Promosi KesehatanLatar Belakang: Buruh migran diidentifikasi paling relevan dalam penyebaran HIV/AIDS. Besarnya jumlah buruh migran berbanding lurus dengan besarnya masalah, terutama masalah kesehatan pasca kepulangan dari tempat mereka bekerja. Penyakit yang didapat selama mereka bekerja di luar negeri, termasuk infeksi menular seksual, karena sebelum berangkat sudah dilakukan pemeriksaan kesehatan secara ketat. Banyak faktor yang diduga mempengaruhi perilaku seksual buruh migran selama bekerja di luar negeri, antara lain: pengetahuan tentang HIV/AIDS, lama bekerja, tingkat pendidikan dan pendapatan Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual mantan buruh migran selama bekerja di luar negeri terhadap risiko penularan HIV/AIDS. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Subjek penelitian ini adalah mantan buruh migran yang pulang ke Indonesia selama 1 tahun atau kurang bertempat tinggal di Kecamatan Suralaga Kabupaten Lombok Timur. Sampel penelitian sebanyak 69 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis data menggunakan uji statistik chi-square dan regresi logistik Hasil penelitian: Ada hubungan yang bermakna antara Pengetahuan tentang HIV/AIDS (p = 0,00; OR = 8,743; 95%CI = 2,85-26,85) dengan perilaku seksual. Mantan buruh migran yang mempunyai tingkat pengetahuan tentang HIV/AIDS rendah mempunyai risiko perilaku seksual tidak sehat 8,743 kali lebih tinggi daripada yang tingkat pengetahuannya tinggi. Ada hubungan yang bermakna antara lama bekerja dengan perilaku seksual (p = 0,017; OR = 3,590; 95% CI = 1,227-10,501). Lama bekerja > 2 tahun mempunyai risiko berperilaku seksual tidak sehat 3,59 kali lebih tinggi dibandingkan dengan yang bekerja < 2 tahun. Ada hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan (p = 0,002; OR = 5,1; 95% CI = 1,756-14,816) dengan perilaku seksual. Tingkat pendidikan dasar mempunyai risiko 5,1 kali lebih tinggi berperilaku seksual tidak sehat bila dibandingkan dengan tingkat pendidikan menengah. Ada hubungan yang bermakna antara pendapatan dengan perilaku seksual (p = 0,000; OR = 3,563; 95% CI = 1,087-11,672). Mantan buruh migran yang berpenghasilan tinggi mempunyai risiko berperilaku seksual tidak sehat 3,563 kali dibandingkan dengan pendapatan rendah. Hasil uji regresi logistik menujukkan variabel pengetahuan tentang HIV/AIDS paling dominan berhubungan dengan perilaku seksual mantan buruh migran selama bekerja di luar negeri (p = 0,014; OR = 5,99; 95% CI = 1,369–17,151) Kesimpulan. Ada hubungan antara pengetahuan tentang HIV/AIDS, lama bekerja, tingkat pendidikan dan pendapatan dengan perilaku seksual mantan buruh migran selama bekerja di luar negeri. Dari keempat variabel bebas tersebut, pengetahuan tentang HIV/AIDS merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan perilaku seksual mantan buruh migran selama bekerja di luar negeri
Background: Migration workers have been identified as the most relevant factor in the spreading of HIV / AIDS. The amount of migrant workers is directly proportional to the magnitude of health problems, especially problems after returning home. Health problems may be work related diseases that occurred after returning home or when they were working abroad, such as sexual transmitted diseases, because before working abroad, migrant workers will have to pass health examination. There are some factors wich are expected to determine sexual behavior of migrant workers of migrant workers during working abroad, such as: knowledge about HIV/AIDS, working period, education lavel and income levels Objectives: To determine factors associate with sexual behavior of migrant workers during working abroad toward the risk of HIV/AIDS transmission. Method: This research is an observational research with cross sectional design. Subjects of this research are former migrant workers who returned to Indonesia for a year or less, reside in the Suralaga Sub– District, East Lombok sample consist of 69 people. The data was collected using a structured questionnaire. Data was analyzed using statistical tests chi-square and logistic regression. Results: There was a significant association between knowledge about HIV/ AIDS with sexual behaviour (p = 0.00; OR = 8.743; 95% CI = 2,85-26,85). The former migrant workers who have low level of knowledge about HIV/AIDS will have a risk of unhealthy sexual behavior 8.743 times higher than the high knowledge level. There is a significant relation between working period work with sexual behavior (p = 0.017; OR = 3.590; 95% CI = 1,227-10,501). Those who has working period > 2 years had a risk of unhealthy sexual behavior 3.59 times higher than those who has working period < 2 years. There was a significant association between level of education with sexual behaviour (p = 0.002; OR = 5.1; 95% CI = 1,756-14,816). Basic education level has a risk 5.1 times higher of unhealthy sexual behavior when compared with the level of secondary education. There was a significant association between income with sexual behaviour (p = 0.000; OR = 3.563; 95% CI = 1,087-11,672). The former migrant workers with high income have a risk of unhealthy sexual behaviour 3,563 times higher than low incomes. Logistic regression test showed that the most dominant variable was level of knowledge about HIV/AIDS (p = 0,014; OR = 5,99; 95% CI = 1,369-17,151). Conclusion. There is a relationship between knowledge about HIV/ AIDS, working period, education and income levels of sexual behavior during the former migrant workers working abroad. Among the four independent variables knowledge about HIV/AIDS is the most dominant factor associated with sexual behavior of former migrant workers during working abroad
Kata Kunci : perilaku seksual, buruh migran, HIV/AIDS, sexual behavior, migrant workers, HIV/AIDS