Evaluasi enterokolitis pada penyakit hirschsprung yang diterapi dengan prosedur soave di RSUP Dr. Sardjito
SETIAWAN, Ali, Dr. Rochadi, SpBA(K)
2010 | Tesis | S2 PPDS 1-Ilmu BedahLatar Belakang Penyakit Hirschsprung merupakan kelainan tersering penyebab obstruksi dan enterokolitis pada anak dengan insiden 1 : 5.000 kelahiran hidup. Berbagai penelitian telah dilakukan sebelumnya terkait komplikasi enterokolitis pasca tindakan bedah. Prosedur Soave berupa teknik endorektal ekstramukosa merupakan salah satu teknik operasi yang digunakan dalam terapi definitif pada penyakit Hirschsprung. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai komplikasi enterokolitis pasca tindakan bedah menggunakan prosedur Soave sekaligus menilai faktor-faktor yang mempengaruhinya. Metoda Penelitian Metoda yang digunakan adalah penelitian observatif dengan data sekunder berupa Catatan Medik penderita penyakit Hirschsprung yang telah dilakukan operasi menggunakan prosedur Soave di RSUP Dr. Sardjito pada kurun waktu Januari 2005 – Desember 2009. Data yang diambil meliputi jenis kelamin, riwayat evakuasi mekonium, usia saat operasi, status gizi, kadar Hb, kadar albumin, lama waktu operasi, lama waktu mondok, enterokolitis pra operasi dan enterokolitis pasca operasi. Rancangan penelitian ini adalah analitik before and after dengan uji Chi Square Hasil Jumlah populasi pada penelitian ini 56 kasus, kejadian enterokolitis pra operasi 18 pasien (32,1%), sisanya 38 pasien (67,9%) tidak didapatkan tanda-tanda enterokolitis. Setelah dilakukan operasi dengan prosedur Soave kejadian enterokolitis pasca operasi turun menjadi 11 pasien (19,7%), sedangkan 45 pasien (80,3%) tidak didapatkan tanda-tanda enterokolitis. Hasil uji statistik dengan menggunakan Uji Chi-Square diperoleh nilai p < 0,01, Kesimpulan Kejadian enterokolitis pasca operasi Soave menurun, dan dari uji statistik terdapat hubungan yang bermakna antara proporsi enterokolitis pra operasi dengan enterokolitis pasca operasi dengan p < 0,01. Adapun faktor jenis kelamin, evakuasi mekonium pertama, usia saat operasi, status gizi, kadar Hb, dan kadar albumin secara statistik tidak memiliki hubungan bermakna terhadap terjadinya enterokolitis pra operasi, sedangkan faktor jenis kelamin, evakuasi mekonium pertama, usia saat operasi, status gizi, kadar Hb, kadar albumin, lama operasi, dan lama mondok secara statistik juga tidak memiliki hubungan bermakna terhadap kejadian enterokolitis pasca operasi.
Kata Kunci : Penyakit Hirschsprung,Enterokolitis,Prosedur soave