Pengelolaan aset rumah sakit :: Studi pada RSUD Bayu Asih Purwakarta tahun 2009
SUPRIYADI, Nandang, Prof. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D
2010 | Tesis | S2 Magister Ekonomika PembangunanRumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang idealnya dikelola dengan baik agar mampu memberi pelayanan berkualitas berdasarkan aspek fisik, keandalan, responsivitas, jaminan dan empati. Sebagai rumah sakit yang dibangun pada 1930, RSUD Bayu Asih mempunyai beberapa bangunan tua dengan kondisi fisik tidak terawat, dan beberapa di antaranya tidak dihuni, bahkan sudah hancur. Karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi konsumen maupun manajemen mengenai arti penting dan kinerja pengelolaan aset RSUD Bayu Asih, mengetahui kinerja pengelolaan aset yang perlu dipertahankan dan diperbaiki, dan mengetahui perbedaan persepsi arti penting dan kinerja pengelolaan aset di rumah sakit antara konsumen kelas VIP, Kelas I, Kelas II, dan Kelas III, serta antara manajemen atas, menengah dan bawah. Penelitian ini dilakukan metode kuantitatif, yang didukung dengan metode kualitatif. Data primer diperoleh dari kuesioner dan wawancara, sementara data sekunder diperoleh dari dokumen seperti laporan, Internet, buku, dan literatur lain yang menunjang penelitian. Sampel dikumpulkan menggunakan teknik purposive sampling. Analisis importance-performance digunakan untuk mengevaluasi penilaian responden. Uji Kruskal-Wallis digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan persepsi antara level konsumen dan level manajemen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan aset di RSUD Bayu Asih dinilai oleh konsumen dan manajemen sebagai penting dan baik. Beberapa indikator pengelolaan aset yang kinerjanya dianggap perlu dipertahankan adalah: 1) kondisi dan penyediaan air, 2) kelengkapan pelayanan laboratorium, 3) perencanaan kebutuhan barang milik daerah dengan berpedoman pada standar barang, standar kebutuhan, dan standar harga, 4) inventarisasi meliputi pendataan, pencatatan, dan penyimpanan informasi berkaitan dengan aset. Di samping itu, beberapa indikator yang dianggap masih harus diperbaiki adalah: 1) kebersihan dan kenyamanan toilet, terutama pada ruang perawatan, 2) perlindungan terhadap serangga berbahaya, 3) transparansi biaya yang berkaitan dengan pengelolaan aset, 4) pemenuhan syarat kesehatan pencahayaan ruangan, sirkulasi udara, sanitasi dan pengolahan limbah. Mengenai arti penting pengelolaan aset itu, empat kelompok konsumen (Kelas VIP, Kelas I, Kelas II, dan Kelas III) memiliki persepsi yang sama, kecuali untuk indikator kelengkapan pelayanan laboratorium, sedangkan mengenai kinerjanya, mereka memiliki persepsi yang sama. Sementara itu, mengenai arti penting pengelolaan aset tersebut, ketiga kelompok manajemen (atas, menengah, dan bawah) memiliki persepsi yang sama, kecuali untuk indikator penyerahan barang yang tidak dimanfaatkan kepada kepala daerah melalui pengelola barang oleh rumah sakit (satuan kerja), sedangkan mengenai kinerjanya mereka mempunyai persepsi yang sama.
Hospital is a health service institution that is ideally managed well in order to provide patients with quality services in view of tangibility, reliability, responsiveness, assurance, and empathy. As a hospital built in 1930, Public Hospital Bayu Asih has several old buildings with physically sleazy conditions and some of them were not occupied, or even severely damaged. Therefore, purposes of this study are to find out perception among both consumer and management on the importance and performance of asset management in the hospital, to find out the performance of asset management that is should be continued and improved, and to find out difference in perception on the importance and performance of asset management in the hospital between consumers of Class VIP, Class I, Class II and Class III, and between upper, middle, and lower managements. The study used a quantitative method, supported by a qualitative method. Primary data was obtained by using questionnaire and interview, while secondary data was obtained by using documents such as report, Internet-based data, book and other supported literatures. Sample was collected by using a purposive sampling technique. An importance-performance analysis was used to evaluate assessment done by respondents. The Kruskal-Wallis test was used to find out whether or not there was difference in perception between consumer and management. Result of the study indicates that the asset management in Public Hospital Bayu Asih was assessed by consumers and management as important and good. Several indicators of asset management whose performance was considered as to be continued were: 1) water condition and supply, 2) completeness in laboratory services, 3) the planning of need for assets based on asset standard, need standard, and price standard, 4) inventorization, including data collection, recording, and asset-related information maintenance. Moreover, several indicators considered to be still improved were: 1) the cleanness and comfort of washroom, particularly in treatment rooms, 2) protection from dangerous insect, 3) cost transparency related to asset management, 4) compliance with the health requirements of room lighting, air circulation, sanitation, and waste processing. Concerning the importance of asset management, all the four levels of consumer (Class VIP, Class I, Class II, Class III) had the same perception, except on completeness in laboratory services, and concerning its performance, they had the same perception. Meanwhile, concerning the importance of asset management, all the three levels of management (upper, middle, and lower managements) had the same perception, except on the returning of unused asset by the hospital to asset manager, and concerning its performance they had the same perception.
Kata Kunci : RSUD Bayu Asih,Pengelolaan aset,Kinerja rumah sakit, Public Hospital Bayu Asih, Asset Management, and Hospital Performance