Pemanfaatan bantak sebagai bahan campuran agregat kasar dan asbuton Lawele sebagai agregat halus pada lapis AC-base
YUDHANTA, Ricko, Dr. Ir. Latif Budi Suparma, M.Sc
2010 | Tesis | S2 Magister Sistem dan Teknik TransportasiMelihat kondisi permintaan kebutuhan aspal nasional yang semakin tinggi, dalam hal ini untuk peningkatan, pemeliharaan, dan pengembangan aksesibilitas transportasi jalan di Indonesia, adalah ± 1.200.000 Ton, dan diperkirakan akan terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan pembangunan. Keterlibatan PT. Pertamina sebagai supplier utama pengadaan aspal hanya mampu memenuhi sekitar 600.000 Ton dalam waktu 1 tahun. Sehingga, untuk mengatasi kekurangan yang hampir setengah tersebut dilakukan impor, hal ini berdampak negatif terhadap devisa negara yang semakin berkurang. Pertimbangan-pertimbangan dilakukan untuk mengurangi impor aspal tersebut, salah satunya memperbaiki performa dari campuran beraspal, dengan cara memanfaatkan penggunaan aspal alam Asbuton yang ada di pulau Buton Sulawesi Tenggara. Penelitian ini dilakukan dengan cara mencampurkan Asbuton dengan variasi Asbuton berturut-turut 0%, 25%, 50%, 75%, dan 100% pada campuran gradasi agregat kasar yang terdiri dari 40% Bantak dan 60% Clereng yang telah mencapai suhu pemanasan sebesar 160 0C pada suhu dalam oven. Kemudian, dilakukan pengujian untuk memperoleh nilai KAO yang akan digunakan untuk pengujian lanjutan mencari nilai Indeks Perendaman (IP) dari campuran AC-Base, yang kaitannya terhadap durabilitas (keawetan) campuran. Hasil penelitian menunjukkan analisis stabilitas dari campuran AC-Base yang mengalami perendaman pada suhu 60 0C selama 48 jam, akan terjadi penurunan nilai stabilitas lebih besar, jika dibandingkan dengan perendaman 24 jam dan ½ jam. Nilai Indeks Perendaman dari hasil penelitian, menunjukkan nilai indeks perendaman 24 jam dan 48 jam dari semua variasi campuran AC-Base memenuhi batas minimum yang diisyaratkan, hal ini mengindikasikan bahwa campuran tersebut memiliki durabilitas yang cukup baik, yaitu ketahanan terhadap pengaruh cuaca dan beban lalu lintas selama umur rencana. Indeks penurunan stabilitas terbesar terjadi pada campuran dengan kadar variasi substitusi 25% Asbuton, sebaliknya indeks penurunan stabilitas terkecil terjadi pada campuran dengan variasi substitusi 100% Asbuton. Nilainya semakin rendah akibat terbentuknya rongga-rongga, sehingga air dapat dengan mudah untuk masuk ke dalam campuran, dan mempengaruhi daya lekat aspal terhadap agregat.
The demand of asphalt in Indonesia, especially for upgrading, maintenance and development of road transportation is about 1,200,000 tons and is predicted to increase in line with development growth. PT Pertamina’s role as prime asphalt supplier only meet a demand for asphalt about 600,000 tons per year. To overcome this shortage, asphalt import was made, but this condition give negative effect to the national foreign exchange. Considerations were made to cut down the asphalt import, one of the solution was to improve the performance of asphalt mixtures, by utilizing the use of Asbuton natural asphalt in Buton island, Southeast Sulawesi. This research was conducted with the way mixing Asbuton with a variation of Asbuton consecutive are 0%, 25%, 50%, 75% and 100% on the coarse aggregate gradation mixture consisting of Bantak 40%, and Clereng 60% who have reached the heating temperature on 160 0C at a temperature in the oven. Then, perform a test to obtain the value of KAO to be used for further tests to finding the value of Immersion Index (PI) of a mixture of AC-Base, which is related to the mixture durability. The results showed the stability analysis from the mix AC-Base that experienced immersion at 60 0C for 48 hours, will have bigger declined stability value than soaking at 24 hour and ½ hours. Soaking index value from research results, showed that the index value soaking for 24 hours and 48 hours of all the variations of AC-Base mix meets the requirements of minimum limit. This indicated that the mixture has quite good durability, namely endurance to the effects of weather and traffic load during the plan life. The biggest declined stability index occurs at the mixture with substitution 25% Asbuton, meanwhile the smallest index occurs at the mixture of 100% Asbuton. The value is decreased because of the formation of cavities, so that water can easily get in, and affect the viscidity of asphalt towards aggregate.
Kata Kunci : Asbuton,Agregat,AC,base,Bantak,Indeks,KAO,Stabilitas