Laporkan Masalah

Konservasi sumberdaya air berbasis pemberdayan masyarakat

KLAU, Petrus Berek, Prof. Dr. Ir. Fatchan Nurrochmad, M.Agr

2010 | Tesis | S2 Teknik Sipil

Gerakan Penghijauan Berbasis Masyarakat sebagai upaya percepatan pemulihan lahan dan peningkatan fungsi konservasi sumberdaya air di Nusa Tenggara Timur khususnya di Kabupaten Belu dengan semangat pemberdayaan masyarakat belum berdampak signifikan terhadap perubahan lingkungan. Maka perlu dikaji bentuk kegiatan pemberdayaan yang memberi solusi alternatif pencapaian tujuan peningkatan fungsi lingkungan hidup. Penelitian ini dimulai dengan menganalisis bentuk pemberdayaan yang diterapkan, kekuatan dan kelemahan yang dimiliki pemerintah dan masyarakat dengan analisis SWOT. Analisis AHP dipakai untuk menawarkan alternatif kegiatan yang dapat diterapkan. Kemudian memperkirakan potensi air terkonservasi dari lokasi GPBM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat yang dilakukan dalam pelaksanaan GPBM baru sebatas memberikan dana insentif untuk kegiatan pengadaan anakan dan penanaman. Hasil analisis SWOT menempatkan kegiatan GPBM pada kondisi kuadran IV yang bermakna mengandung situasi tidak menguntungkan dengan selisih nilai tertimbang faktor internal -0,302 dan selisih nilai tertimbang faktor eksternal dengan nilai 1,075. Analisis AHP menunjukkan bahwa 51,64% responden menyatakan kegiatan GPBM dapat dilaksanakan dengan cara vegetatif dan sumur resapan, 26,13% responden memilih vegetatif, 15,06% menginginkan kegiatan diganti dengan sumur resapan dan 7,17% mengharapkan pembangunan embung. Perkiraan potensi air terkonservasi dari Kecamatan Laenmanan pada lokasi GPBM Desa Kapitan Meo dengan luas 5 Ha, Desa Tniumanu dengan luas 6 Ha dan Desa Uabau dengan luas 2,5 Ha diperoleh paling sedikit 292 m3 dan paling banyak 12.903 m3. Untuk itu diperlukan intervensi pemerintah mengupayakan perubahan penanganan kegiatan agar tujuan pengelolaan lingkungan hidup dapat tercapai.

Community Base Greening Movement is an accelerated effort in land recovery as well as increasing of water resources conservation in East Nusa Tenggara Province, Belu Regency in particular with the spirit of community empowerment has not significant impact yet on better environmental changes. Therefore, study on empowerment undertaken is necessary to resolve alternative solution in pursuing the goal of sustaining environmental function. Research was initiated by analyzing form of empowerment implies in the program, then identifying the strengths and weaknesses of the government and the community involved using SWOT analysis. AHP was applied to give alternative solutions. And then, predicting the water resources conservation potency from the sites. Research shows that community empowerment implied in this regard is rather limited to providing incentive for seedling and planting cost. Meanwhile, SWOT analysis proved that the activity was under fourth quadrant which conveys the meaning of threatened condition with difference internal value of -3.302 and external value of 1.075. AHP analysis showed that 51.64% respondent choose priority on vegetative and recharging well, 26.13% respondent for vegetative, 15.06% prefer recharging well and the rest 7.17% stand for reservoir construction. Prediction of water potential conservation in Laenmanen Sub District include Kapitan Meo Village with the area of 5 acres, Tniumanu Village with the area of 6 acres and Uabau Village with 2.5 acreas shows the least conservable water of 292 cubic meters and the highest is 12,903 cubic meters among those three locations. Thus, government intervention to provide adjustment changes on management of the activities is necessary to achieve the whole environmental management goal.

Kata Kunci : Perbaikan lahan,Kekuatan dan kelemahan,Solusi alternatif,Perubahan lingkungan, Land Recovery, Strength and Weaknesses, Alternative Solutions, Environmental Changes


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.