Analisis pelaksanaan standar pelayanan farmasi di Rumah Sakit Umum Daerah Tipe C di Propinsi Kalimantan Selatan
ANWAR, Fanli Yudi, Prof. Dr. Lukman Hakim, M.Sc., Apt
2010 | Tesis | S2 Ilmu FarmasiPropinsi Kalimantan Selatan memiliki rumah sakit umum daerah di setiap kabupaten. Mayoritas dari rumah sakit umum daerah tersebut memiliki tipe C. Sebagai salah satu sarana pelayanan kesehatan, rumah sakit tidak luput dari persaingan. Strategi untuk memenangkan persaingan yaitu dengan memberikan pelayanan yang baik dan bermutu, dengan berorientasi pada kepuasan konsumen. Usaha meningkatkan mutu pelayanan salah satunya pada mutu instalasi farmasi. Rendahnya mutu pelayanan di instalasi farmasi rumah sakit tidak hanya mengakibatkan rendahnya kualitas pelayanan seluruh rumah sakit tetapi juga akan mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap suatu rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan tersebut dilaksanakan dan mengetahui faktor-faktor yang mendukung ataupun menghambat pelaksanaan standar pelayanan farmasi di rumah sakit umum daerah di propinsi Kalimantan Selatan. Rancangan penelitian adalah deskriptif dengan menggunakan pedoman wawancara yang dibuat berdasarkan self assessment pelayanan farmasi yang digunakan untuk menilai instalasi farmasi rumah sakit dalam akreditasi rumah sakit dan dikembangkan dengan mengacu pada standar pelayanan farmasi rumah sakit yang tertuang pada Kepmenkes 1197 /2004. Metode pemilihan 4 rumah sakit berdasarkan metode purposive yaitu berdasarkan pertimbangan dengan alasan goegrafis. Penilaian meliputi tujuh standar yang terbagi dalam dua puluh tiga parameter. Suatu instalasi farmasi rumah sakit dikatakan telah melaksanakan standar jika nilai persentase rata-rata pencapaian standar lebih dari 75%, sebaliknya jika kurang dari 75% dikatakan belum melakukan pelaksanaan sesuai standar. Data mengenai faktor pendukung dan penghambat diperoleh dari hasil wawancara dengan pimpinan instalasi farmasi rumah sakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa instalasi farmasi rumah sakit umum daerah tipe C di propinsi Kalimantan Selatan yang telah mampu melakukan pelaksanaan standar pelayanan farmasi rumah sakit adalah Rumah Sakit B (86%), sedangkan yang belum melakukan pelaksanaan sesuai dengan standar adalah Rumah Sakit A (54.67%), Rumah Sakit C (45.81%), dan Rumah Sakit D (46.76%). Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa faktor pendukung pelaksanaan standar pelayanan farmasi di rumah sakit adalah dukungan dari jajaran direksi dan manajemen rumah sakit dalam menyediakan saran dan prasarana instalasi farmasi rumah sakit. Sedangkan yang menjadi faktor penghambat dari pelaksanaan standar tersebut adalah kurangnya dukungan manajemen rumah sakit dalam menentukan kebijakan-kebijakan berkaitan dengan instalasi farmasi rumah sakit, kurangnya evaluasi yang terus menerus dalam upaya peningkatan kinerja instalasi farmasi dalam melaksanakan pelayanan farmasi yang dilakukan, serta kurangnya komitmen dan kerja keras farmasis /apoteker yang tinggi untuk dapat melaksanakan pelayanan farmasi yang sesuai dengan standar.
South Kalimantan Province has regional hospital in every district. Most of the hospitals are categorized type C. As one of the health service facilities, hospital cannot avoid any competition. Strategy to win in such competition is by providing good and qualified service, orienting on customer satisfaction. One of efforts on improving service qualities is on pharmacy installation quality. Low quality of service in hospital pharmacy installation does not only result low quality of whole hospital services but also reduces societies’ trust on particular hospital. The goal of research to know how far the administration was carried out and to know the supporting and inhibiting the administration pharmacy service standard in hospital in South Kalimantan Province. The research was a descriptive used interview guideline utilized based on pharmacy service self-assessment which was used to assess hospital pharmacy installation within hospital accreditation and was developed by referring to hospital pharmacy service standard poured on Kepmenkes (health ministerial decree) 1197/2004. Sampling method of selecting 4 hospitals was a purposive method regarding geographical reasons. Assessment covered seven standards divided into twenty-three parameters. A certain hospital’s pharmacy installation was said had carried out the standard if the average percentage value of achievement was more than 75%, while if less than 75% was said had not carried out the administration in accordance with the standard. Data of supporting and inhibiting factors were gathered from interview with the chairperson of hospital pharmacy installation. The results of the research showed that pharmacy installation of regional central hospital type C in South Kalimantan province that had been able to carry out the administration of hospital pharmacy service standard was Hospital B (86%), while hospital A (54.67%), Hospital C (45.81%), and Hospital D (46.76%) had not carried out the administration in accordance with the standard. Based on the interview result, it was found that the supporting factor of pharmacy service administration in hospital was the support from board of directors and hospital management in providing facilities of hospital pharmacy installation. Meanwhile, the inhibiting factors of standard administration were lack of hospital management support in deciding policies related to hospital pharmacy installation, lack of continuous evaluation in order to improve pharmacy installation performance to administer the pharmacy service, and lack of high commitment and endeavor of pharmacist/apothecary to be able to administer pharmacy service according to the standard.
Kata Kunci : Standar pelayanan,Farmasi,RSUD Tipe C,Kalimantan Selatan ; Analysis, pharmacy service standard, hospital pharmacy, hospital type C, South Kalimantan