Laporkan Masalah

Budaya dan perdamaian :: Upaya masyarakat Kabupaten Bantul untuk menjaga harmoni berdasarkan kearifan lokal ketika menghadapi perubahan pasca gempa

HERDIYANTO, Yohanes Kartika, Kwartarini Wahyu Yuniarti, M.Med.Sc., Ph.D

2010 | Tesis | S2 Magister Sains Psikologi

Gempa bumi yang terjadi di DIY dan Jateng pada 27 Mei 2006 memberikan dampak yang dahsyat terhadap faktor fisik dan psikologis individu, sosial, maupun berbagai kerusakan berwujud materi. Dampak gempa tersebut dapat mengubah masyarakat secara individu maupun sosial. Perubahan ini dapat berupa suatu hal yang positif, namun di lain pihak juga dapat berupa hal negatif yang mempengaruhi berbagai segi kehidupan masyarakat. Berbagai perubahan yang terjadi tersebut dapat mengancam keharmonisan hidup yang selama ini dijunjung tinggi oleh orang Jawa. Berdasarkan pemikiran tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran dari sisi psikologis secara lengkap tentang upaya individu dalam menghadapi perubahan-perubahan yang dipicu oleh gempa bumi dengan menggunakan kearifan lokal yang menuju pada keharmonisan hidup bermasyarakat. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan ethnographygrounded theory yang bertujuan memberikan gambaran terhadap suatu fenomena yang diteliti secara lengkap dan komprehensif tanpa meninggalkan pentingnya unsur budaya di tengah masyarakat. Salah satu temuan yang penting dari penelitian ini menunjukkan bahwa kearifan lokal Jawa masih dipegang teguh oleh warga dalam menghadapi berbagai macam perubahan pasca-gempa. Berbagai konflik seperti konflik yang ditimbulkan oleh penyaluran bantuan yang dirasakan tidak adil dan terjadinya praktek korupsi oleh oknum pamong dusun disikapi dengan pasif oleh warga. Sikap pasif ini menunjukkan bahwa – bagi orang Jawa – menjaga harmoni sosial merupakan suatu tujuan yang lebih utama dibandingkan dengan menuntut hak-haknya yang telah dilanggar.

The earthquake that took place in DIY (Daerah Istimewa Jogjakarta) and Central Java on 27 May 2006 gave such tremendous impact to individual and social’s physical and psychological factor, as well as material damage. Those impacts are able to alter the society both individually and socially. The alterations can be something said to be positive, yet on the other hand, it can be said as negative, which are affecting any society’s life sides. Such any alterations are potentially threatening harmonious living that has been upheld by the Javanese. Based on the above thought, this research then aims to illustrate the whole psychological overview about the individual’s effort in countenancing the alterations triggered by an earthquake, using the local wisdom which then leads them to harmonious society’s life. This study is truly a qualitative research with the ethnography-grounded theory method approach, which aims to provide overviews to a whole-andcomprehensive investigated phenomenon; without abandoning the importance of cultural and custom in the middle of such society. One of this research’s essential findings shows that the Javanese still adhering the Javanese local wisdom in countenancing any kinds of post-earthquake alterations. The society is somewhat takes any kinds of conflict, such as the unfair disaster-aid distributions and the local residence officer’s corruption acts, passively. Their passive reaction shows that – for Javanese – maintaining the social harmonious life is the most essential life purpose; comparing to claiming their violated rights.

Kata Kunci : Gempa,Bantul,Dampak,Konflik,Kearifan lokal Jawa,Harmoni,earthquake,Bantul,earthquake impact,conflicts,Javanese local wisdom,and harmony


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.