Evaluasi hasil penatalaksanaan penderita obstruksi duodenum kongenital di RSUP Dr Sardjito
ADIPURWADI, Candra, dr. Akhmad Makhmudi, SpB., SpBA
2010 | Tesis | S2 PPDS 1-Ilmu Bedah AnakLatar belakang: Obstruksi kongenital pada duodenum merupakan letak yang sering ditemukan pada neonatus (0-30 hari). Bentuk obstruksi ini sangat mudah untuk ditegakkan diagnosisnya dikarenakan untuk menegakkan diagnosis kita cukup dengan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan foto abdomen polos. Dengan semakin majunya teknik operasi dan peralatan pendukung operasi serta perwatan menyebabkan semakin berkurangnya angka kesakitan dan kematian kasus ini. Akan tetapi kematian sering kali berhubungan dengan adanya kelainan kongenital lain yang menyertai. Metode: Digunakan metode penelitian retrospektif dengan pengumpulan data antara tahun 2004 sampai 2009 dengan jumlah kasus 49 di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta. Dilakukan evaluasi tentang perbedaan hasil kehidupan penderita yang dirawat berdasarkan atas umur datang, berat datang, umur kehamilan, tindakan operasi, diagnosis penyerta yang dilakukan uji statistik dengan chi square dan fisher exact tes. Hasil: Terdapatnya diagnosis penyakit yang lain mempengaruhi survival seluruh penderita obstruksi duodenum kongenital baik (p= .010), pada penderita yang dilakukan operasi. Terdapat perbedaan yang bermakna tentang terdapatnya penyakit penyerta pada penderita yang dilakukan operasi dengan metode penyambungan usus yang berbeda (p = .020). Kesimpulan: Kehidupan penderita dengan obstruksi duodenum kongenital berbeda bermakna berdasarkan atas terdapatnya penyakit yang lain. Jenis tindakan shunting tidak berbeda bermakna terhadap kehidupan penderita.
Background: Congenital obstruction of the duodenum is a common intestinal obstruction was found in neonatal (0-30 days). This form of obstruction is very easy to be established for the diagnosis because the diagnosis is sufficient to make anamnesis, physical examination and plain abdominal image examinations. With more advanced techniques and equipment operation and maintenance support operations led to the reduction in morbidity and mortality of this case. However, death is often associated with other congenital abnormalities that accompany. Method: a retrospective study method was used with data collection between the years 2004 to 2009 with 49 cases in RSUP Dr Sardjito Yogyakarta. Do an evaluation of the differences in the lives of patients being treated on the basis of age coming, weight comes, age pregnancy, surgery, diagnosis of the broadcaster which statistical tests performed by chi square and fisher exact tests. Result: there is another diagnosis affects survival all patients either congenital duodenal obstruction (p: 0010), in patients who performed the operation. There were significant differences about the presence of accompanying diseases in patients who performed the surgery with bowel switching method is different (p = 0020). Conclusion: Life of patients with congenital duodenal obstruction differ significantly based on the presence of other diseases. Shunting action type was not significantly different to the life of the patient.
Kata Kunci : Obstruksi duodenum kongenital,KOndisi preop,Perawatan,Keluaran,congenital duodenal obstruction,preoperative condition,care, outcome