Pelatihan berjenjang pada tokoh agama dalam penanggulangan malaria di Kecamatan Gunungsari Kabupaten Lombok Barat
CEMBUN, Dra. Ira Paramastri, M.Si
2010 | Tesis | S2 IKM-Perilaku dan Promosi KesehatanGunungsari dalam 3 tahun terakhir (2004 s.d. 2006) mengalami peningkatan jumlah kasus yaitu di Puskesmas Gunungsari dari 828 (2004) dengan AMI 16, menjadi 1220 (2006) dengan AMI 24; dan di Puskesmas Penimbung sebesar 538 (2004) dengan AMI 24, menjadi 598 (2006) dengan AMI 27 (Profil Dinas Kesehatan Masyarakat Kabupaten Lombok Barat, 2007). Masalah yang masih dirasakan sebagai kendala dalam promosi kesehatan yang terkait dengan penanggulangan malaria adalah pengembangan metode promosi yang masih kurang dan kurangnya peranserta secara aktif dari tokoh agama dan tokoh masyarakat (Laporan Penyuluhan Malaria Dikes Lombok Barat : 2004). Penelitian ini mengidentifikasi dan menganalisis pelatihan berjenjang pada tokoh agama dalam penanggulangan malaria. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pelatihan terhadap pengetahuan dan sikap tokoh agama dalam penanggulangan malaria. Metode Penelitian: Quasi experimental dengan rancangan one group pre-test and post-test experimental design, menggunakan 1 kelompok perlakuan dan seluruh populasi dijadikan sample, yaitu semua tokoh agama (penghulu desa) se Kecamatan Gunungsari sebanyak 12 orang. Pelaksanaan pelatihan berjenjang menggunakan pendekatan teori multi-level social marketing (MLSM) yaitu tokoh agama yang sudah dilatih oleh peneliti melatih antara 9-30 tokoh agama/tokoh masyarakat/orang lain yang ada di wilayahnya. Analisis data menggunakan uji t (paired t-test) dengan tingkat kemaknaan Ï = 0,05 Hasil: Secara kemaknaan statistik tidak ada peningkatan/tidak ada perbedaan pengetahuan dan sikap tokoh agama/penghulu desa dalam penanggulangan malaria antara pre test dan post test, akan tetapi secara kemaknaan praktis didapatkan adanya peningkatan nilai rerata skor pengetahuan dan sikap tokoh agama (penghulu desa) dalam penanggulangan malaria setelah promosi kesehatan. Pelatihan berjenjang oleh tokoh agama (penghulu desa) dalam penyebaran informasi tentang penanggulangan malaria melalui pendekatan multilevel social marketing dapat dilaksanakan dengan jumlah peserta paling sedikit 9 orang dan paling banyak 30 orang. Kesimpulan: Promosi kesehatan melalui pelatihan berjenjang dengan metode ceramah, tanya jawab dan pemberian modul penanggulangan malaria dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap tokoh agama/penghulu desa dalam penanggulangan malaria. Tokoh agama/penghulu desa dapat melaksanakan pelatihan dalam penyebaran informasi tentang penanggulangan malaria secara berjenjang kepada penghulu dusun/tokoh masyarakat/masyarakat melalui pendekatan multilevel social marketing dengan jumlah sasaran antara 9 sampai dengan 30 orang dan hal ini melebihi target yang ditentukan, yaitu sebanyak 5 sampai dengan 12 orang.
Background: The morbidity rate of malaria in the year of 2004 through 2006 had increased in the Sub-district of Gunungsari. At Community Health Center of Gunungsari and Penimbung was found an increased of malaria cases. In fact, there was 828 malaria cases with 16 AMI found in the Gunungsari Community Health center in 2004 and increased about 1.220 cases with 24 AMI in 2006. Meanwhile, the same cases also happened in the Penimbung Community Health Center occurring 538 with 24 AMI in 2004 and increased about 598 with 27 AMI in 2006 (Profile of Community Health Office of West Lombok: 2007). There are two main problems in health promotion regarding the malaria prevention; firstly, the development of promotion method is ineffective applied. Secondly, lack of participation from religious figures and community leaders in performing malaria prevention (Malaria data record, Community Heath Office of West Lombok: 2004). This research was trying to identify and analyze the integrated training conducting by religious figures in malaria prevention. Objectives: This study aims to analyze the effect of training towards religious leaders’ knowledge and attitudes in malaria prevention. Methods: This study used quasi experimental with one group pre-test and posttest design by taking one group experiment. While the sample are whole population including 12 religious figures(community leader) who occupy in the sub-district of Gunungsari. The integrated training applies a multi level social marketing (MLSM) approach theory. The religious figures who has been trained by the researchers will have to train around 9 to 30 religious figures / community leaders/ and the residents in the respective areas. The data analysis used T-Test (paired t-test) where p = 0,05 Results: Statistically, there is no significantly changes and effect of religious figures/community leaders’ knowledge and attitudes both in the stage of pre and post test of malaria prevention. In fact, they have an added value in the forms of knowledge and good attitude of attending the integrated training. The integrated training session will be effectively conducted if the number of participants at least 9 people and maximum 30 people. Conclusions: Health promotion through integrated training by using a lecturing method, interview and distribute modules on malaria prevention may increase the religious figures/community leaders’ knowledge and attitudes towards malaria prevention. The religious figures/community figures may conduct a malaria prevention sessions to other community leaders by using multi level social marketing with number of participant 9 through 30 people are considered sufficient (5-12 participants).
Kata Kunci : Pelatihan berjenjang, Tokoh agama, Malaria, integrated training, religious figures, malaria