Penerapan dan pemanfaatan sistem informasi kesehatan daerah (SIKDA) di Provinsi NTB
VERANITA, Novita, dr. Kristiani, SU
2010 | Tesis | S2 IKM-Sistem Informasi Manajemen KesehatanLatar Belakang: Kebutuhan akan informasi kesehatan dalam pengambilan keputusan di setiap level administrasi menuntut kemampuan penyediaan informasi yang memiliki akurasi dan validitas yang tinggi di semua level administrasi. Kualitas informasi ditentukan oleh kualitas hardware, software, jaringan, dan yang terpenting adalah brainware yang akan mengelola dan menggunakan informasi tersebut. Provinsi NTB mulai mengembangkan SIKDA dari tahun 2007 dikarenakan selama ini data masih terfregmentasi di setiap program, duplikasi data, dan laporan yang terlambat. Dengan adanya bantuan dari GTZ dan dana APBD Dikes Prov.NTB, pada tahun 2008 pengembangan sistem baru pada tahap pemasangan jaringan LAN, pelatihan software, pengadaan komputer. Baru pada awal bulan Juni 2009 sistem ini digunakan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana penerapan dan pemanfaatan SIKDA di Dinas Kesehatan Provinsi NTB. Tujuan : Untuk mengetahui sejauh mana penerapan dan pemanfaatan SIKDA di Provinsi NTB dari segi Input (kebijakan, infrastruktur, dan SDM), Proses (Aspek Desain Teknis dan Non Teknis), dan Output (Tepat waktu, akurasi, kelengkapan, dan pemanfaatan). Metode Penelitian : Penelitian ini adalah penelitian deskritif dengan rancangan studi kasus dan menggunakan metode kualitatif maksudnya ingin mengungkapkan secara rinci proses yang terjadi dalam penelitian agar diperoleh gambaran tentang penerapan dan pemanfaatan SIKDA di Provinsi NTB. Subjek pada penelitian sebanyak 16 orang dengan rincian sebagai berikut: kepala dinas kesehatan, sekretaris, kepala bidang (3 orang), kepala seksi (4 orang), pengolah data (6 orang), pembuat software (1 orang). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan bantuan panduan wawancara,observasi lapangan, dan telaah dokumen dengan menggunakan checklist yang ada. Hasil : dilihat dari inputnya sudah mendukung hanya yang masih kurang adalah kualitas SDM. dari segi teknisnya hardware dan software sudah cukup maksimal tapi komunikasi data belum berjalan maksimal karena jaringan dan pelatihan baru selesai dilakukan, aspek non teknis : Pengembangan SDM dengan pelatihan teknis yang terus menerus sangat diharapkan. Petunjuk teknis dan prosedur kerja belum tersosialisasi kepada pengguna SIK. Output berupa informasi yang tepat waktu, akurat, dan kelengkapannya belum dapat dilihat hasilnya karena data dari kabupaten belum semuanya masuk, manfaat lain yang dirasakan adalah pengguna tahu cara melakukan sharing file antar komputer. Kesimpulan : Penerapan SIKDA di dinas kesehatan belum maksimal karena ada beberapa yang perlu disempurnakan seperti kualitas SDM, masterplan petunjuk teknis, dan perlu memperkuat Tim kabupaten untuk pelaksanaan SIKDA satu pintu.
Background: A good decision making process in health sector requires accurate and valid information. Quality of information is determined by quality of hardware, software, network and the most important is brainware that will manage and use the information. The Province of Nusa Tenggara Barat has developed health information system (SIKDA) since 2007; however, so far data are still fragmented in each program, duplicated and delayed. Supported by funding from GTZ and local revenue expenditure budget of Nusa Tenggara Barat provincial health office in 2008 new system was developed that included installation of Local Area Network, software training, and computer procurement. The new system was used in early June 2009. Objective: To identify the implementation of SIKDA at the Province of Nusa Tenggara Barat from aspect of input (policy, infrastructure and human resources), process (technical and non technical desain) and output (timeliness, accuracy, completeness and utilization). Method: This descriptive study used a case study design and qualitative method to probe in detail the process undertaken in the study in order to get an overview on the implementation and utilization of SIKDA at the Province of Nusa Tenggara Barat. Subject of the study consisted of 16 people comprising: head and secretary of the health office, head of department (3 people), head of section (4 people), data processing staff (6 people), and software developer (1 person). Data were obtained through indepth interview using interview guide, observation in the field, and document study using checklist available. Result: Te result of the study revealed that the input was supportive but there was limitation in human resources; the process of technical aspect in hardware and software had been optimum but data communication was not yet optimum because network and training had just been set up; the process of non technical aspect in human resources required continuous training; technical guideline and operational procedure had not been well socialized to users of health information system; output in the form of realtime, accurate and complete information was not yet visible because data from district government were still incomplete; users knew how to do file sharing across computers. Conclusion: The implementation of SIKDA at Nusa Tenggara Barat provincial health office was not yet optimum; some aspects had to be improved such as quality of human resources, masterplan of technical guideline and district team needed strengthening for one door SIKDA implementation.
Kata Kunci : Penerapan sistem,Pemanfaatan sistem,Sistem informasi kesehatan daerah, system implementation, system utilization, local health information system