Wacana Sonteng :: Cermin pikiran kolektif masyarakat Dusun Kemiri Gunungkidul (analisis semiotik)
ITARISTANTI, Prof. Dr. Marsono, S.U
2010 | Tesis | S2 LinguistikPenelitian ini adalah penelitian mengenai wacana mantra pada masyarakat Dusun Kemiri, Gunungkidul. Mantra dalam sistem religi masyarakat Dusun Kemiri disebut dengan sonteng. Penelitian ini dilakukan untuk membongkar pikiran kolektif masyarakat Dusun Kemiri melalui penggunaan bahasa di dalam sonteng tersebut. Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada satu dusun saja, yaitu Dusun Kemiri. Dusun ini dipilih karena masih menyimpan tradisi-tradisi lisan tersebut. Dusun ini masuk dalam wilayah Desa Kemiri. Desa Kemiri merupakan sebuah desa yang terletak di Jalan Baron Km 12 Wonosari, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian ini adalah tahap pengumpulan data, tahap analisis data, dan tahap penyajian hasil analisis data. Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak dan metode wawancara. Teknik yang digunakan adalah teknik sadap. Setelah pengumpulan data dengan teknik sadap dilakukan, dilanjutkan dengan teknik rekam dan teknik catat. Pengumpulan data juga dilakukan dengan metode wawancara. Pengumpulan data dengan metode wawancara dilakukan dengan teknik cakap bertemu muka. Tahap analisis dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif. Tahap penyajian hasil penelitian ini dilakukan dengan menguraikannya dalam bentuk tabel dan menjelaskan setiap sonteng tersebut. Benda-benda yang menjadi perlengkapan akan disajikan dalam bentuk gambar. Teks mantra disajikan dalam bagian lampiran. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur sonteng dibangun oleh beberapa aspek, yaitu aspek fonologis, morfologis, leksikon, kalimat, dan wacana. Hasil analisis terhadap aspek fonologi menunjukkan adanya permainan bunyi yang dapat menimbulkan keindahan atau efoni. Keindahan tersebut dihasilkan oleh adanya repetisi bunyi. Sementara itu, permohonan yang terkandung di dalam sonteng sebagian besar diwujudkan dengan kalimat suruh sehingga di dalam sonteng sering dijumpai imbuhan yang menyatakan perintah. Imbuhan tersebut antara lain –a, –na, dan –ana. Verba bentuk –a, –na, dan –ana termasuk verba aktif imperatif. Namun demikian, permintaan itu ada juga yang diwujudkan dengan kalimat berita. Dalam hal leksikon, sebagian besar sonteng dibentuk oleh leksikon yang berasal dari bahasa Jawa. Akan tetapi, ada pula leksikon yang berasal dari bahasa Sansekerta, dan bahasa Arab. Sonteng merupakan wacana lisan. Unsur-unsur pembentuknya terdiri atas pembuka, niat, sugesti, tujuan, dan penutup. Unsur-unsur pembentuk tersebut ada yang dituturkan secara runtut, tetapi ada pula yang tidak runtut. Unsur sugesti ada yang dibaca mendahului unsur niat. Ada pula unsur sugesti yang dibaca setelah unsur niat. Selain itu, ada pula sonteng yang hanya terdiri dari dua unsur saja, misalnya dalam sonteng pengobatan. Wacana sonteng ini merupakan cermin pikiran kolektif masyarakat Kemiri mengenai pandangan mereka terhadap dunia, leluhur, Tuhan, dan keseimbangan alam semesta, misalnya mereka berpandangan bahwa untuk mencapai kesimbangan alam, masyarakat harus senantiasa membersihkan lingkungan dan menghormati roh leluhur mereka.
This study investigates the spell discourse of the people of Dusun Kemiri, Gunungkidul which is in their system of belief mainly called sonteng. It is aimed to find their collective mind through the language use of sonteng. Dusun Kemiri which is a part of Desa Kemiri located in Jalan Baron Km 12 Wonosari, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta mainly becomes the scope of the study in consideration that the people keep that oral tradition favourably. The study is fully completed through three stages; data collection, data analysis, and data presentation. The data are collected through observation and interview method under the recording technique as well as note-taking technique. Another data collection used in this study is interview which conducted by face to face technique. The results of data analysis are finally presented through descriptive method. The result of data analysis find that the structure of sonteng is constructed by some aspects, they are phonological, morphological, lexical, syntactical, and discoursal aspects. The phonological aspect find that sonteng created some beautifully euphonic sound which came from sound repetition. Morphological perspective discoveres that most of the request expressions of sonteng are formulated in imperative sentences. As the result, affixes reflecting imperative meaning oftenly appear. Some of these afffixes are –a, -na, and –ana that considered as active imperative verb. However, there are some imperatives which are formulated in a declarative sentence. In spite of the fact that in the lexical aspect there are some Sanskirt and Arabic words used in sonteng, Javaness words still dominates. Sonteng is an oral tradition which is constructed by title, opening, intention, suggestion, purpose, and closing. Some of those elements are narrated orderly, but some others are not. Some suggestions can be read before intention, while some others are after. It may also be formed from two elements, such as medicinal sonteng. Sonteng is a reflection of collective mind of Kemiri people regarding to their perspective toward world, ancestors, God, and equilibrium of the universe. They believe that to achieve the equilibrium of the universe, people have to keep the environmental condition as well as to respect their ancestors.
Kata Kunci : Sonteng,Pikiran kolektif,Struktur pembangun Sonteng,the construction of sonteng,collective mind