Kategorisasi linguistik dan strategi adaptasi di balik satuan lingual bahasa Jawa mengenai iwak ikan dan karangan rumput laut :: Kajian etnolinguistik pada masyarakat nelayan Baron Gunung Kidul DIY
WARDANI, Maria Magdalena Sinta, Prof. Dr. Stephanus Djawanai, MA., Ph.D
2010 | Tesis | S2 LinguistikKategorisasi ramai didiskusikan baik oleh para linguis maupun antropolog karena berkaitan dengan kemampuan kognitif dasar yang dimiliki manusia. Manusia mengkategorikan benda dan peristiwa yang berada di sekitarnya ke dalam kategori-kategori dan menggunakannya sebagai upaya untuk bertahan hidup dan beradaptasi. Kategorisasi secara eksplisit tampak dalam wujud bahasa. Belum banyak kajian mengenai kategorisasi linguistik pada masyarakat nelayan Jawa, khususnya kajian yang menggunakan metode linguistik-antropologis dengan pendekatan etnosains. Kajian seperti ini diharapkan akan memperkaya khazanah pengetahuan mengenai kekayaan etnis Jawa. Dengan demikian, penelitian kualitatif ini secara umum bertujuan untuk menguraikan etnosains dalam masyarakat nelayan Pantai Baron DIY yang sedang berada dalam masa transformasi mata pencaharian dari petani ke nelayan. Etnosains tampak dalam kategorisasi mengenai iwak ‘ikan’ dan karangan ‘rumput laut. Pengumpulan data dilakukan dengan kajian pustaka, observasi partisipatoris, dan wawancara mendalam. Informan diambil dari Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunung Kidul, DIY. Satuan analisis berupa kata yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari terkait aktivitas kenelayanan dan wacana yang menunjukkan struktur pikir masyarakat nelayan. Demi menjawab tujuan umum, penelitian ini menguraikan satuan lingual yang digunakan sebagai nama jenis, sistem kategorisasi, strategi adaptasi, dan pola pikir masyarakat nelayan Pantai Baron, DIY. Dalam tataran bentuk, nama jenis kategori ikan dan rumput laut berupa bentuk dasar dan bentuk turunan. Bentuk turunan mencakup kata berafiks dan kata majemuk. Sementara itu, referensi nama jenis kategori ikan dan rumput laut mencakup alat, bagian tubuh, binatang, tumbuhan, bentuk, warna, jenis kelamin, keadaan, profesi, dan mitos. Wujud strategi adaptasi yang ditemukan dalam komponen penyusun kategorisasi ikan dan rumput laut adalah adaptasi nelayan pada lingkungan alam, adaptasi nelayan pada keselamatan, dan adaptasi nelayan pada nilai ekonomi. Sementara itu, pola pikir (nalar) masyarakat nelayan yang tampak dalam data adalah nalar berdasarkan prinsip kesatuan, nalar berdasarkan prinsip mistis, nalar berdasarkan prinsip selaras (mencakup sinkretisme, liminal/ dunia ambang, dan nrima), nalar berdasarkan prinsip impresiontistik, nalar berdasarkan prinsip gotong royong, nalar berdasarkan prinsip bilateral, nalar berdasarkan prinsip penghormatan pada nenek moyang, dan nalar berdasarkan prinsip longgar pada nilai saru.
Categorisation is a topic of lively discussion amongst both linguists and anthropologists. This is due to the fact the categorisation is related to the basic cognitive abilities of humans. Humans categorise objects and events around them into categories, and use these categories in an effort to continue to live and adapt. Categorisation is explicitly visible in the configuration of language. To date there have not been many studies on the linguistic categorisation used by fishing communities in Java, especially studies using an anthropological linguistic method with an ethno science approach. A study such as this aims to enrich the wealth of knowledge regarding the richness of Javanese ethnicity. This qualitative study aims to describe ethno science in the fishing community of the Baron beach in the special district of Yogyakarta (DIY), which is currently in a period of transformation from farming to fishing as the main source of income. Ethno science is visible in the categorisation of iwak ‘fish’, and karangan ‘seaweed’. The data for this study was collected through research of previous literature, participatory observation, and detailed interviews. Informants for this research are from the village of Kemadang, in the sub-district of Tanjungsari, Gunung Kidul, DIY. The units of analysis are words that are used on a daily basis which are related to the activity of fishing, and speech which indicates the structure of thought of the fishing community. In order to address the aims of this research, this study describes language units which are used as common nouns, categorisation systems, adaptive strategies, and the mindset of the fishing community of Baron beach, DIY. In the categorisation of forms, names of types of fish and seaweeds are used for the base and derived forms. Derived forms consist of affixed words and compound words. The reference names of types of fish and seaweed consist of instruments, body parts, animals, plants, shapes, colours, gender, states, professions, and myths. The adaption strategies that are found in the categorisation of fish and seaweed are the adaption of fishermen to the natural environment, the adaption of fishermen to safety, and the adaption of fishermen to economic values. The ways of thinking (mindsets) of the fishing community that are visible in that data are a mindset that is based on principles of unity, principles of misticism, principles of harmony (which cover syncretism, thresholds/world threshold, and nrima), principles of impressionism, principles of mutual assistance, principles of bilateralism, principles of respect for ancestral, and a mindset based on principles of laxity of taboo value.
Kata Kunci : etnolinguistik, etnosains, kategorisasi linguistik, nelayan, strategi adaptasi, pola pikir, ethnolinguistic, ethnoscience, linguistic categorization, fishermen, adaptive strategies, mindsets