Model kelembagaan pengelolaan air bersih sensitif konflik di Kota Kupang
EOH, Threse E. Ndolu, Dr. Purwo Santoso, MA
2010 | Tesis | S2 Ilmu Politik-UGMAir bersih merupakan kebutuhan dasar manusia yang keberadaannya tidak dapat digantikan dengan komoditi yang lain. Kondisi sumber daya air amat dipengaruhi oleh kondisi topografi dan geologi. Sumber air dapat berasal dari wilayah yang secara administrasi berbeda, hal ini dikarenakan karakteristik dasar sumber daya air yang bersifat alamiah dan merupakan bagian dari siklus alam (daur hidrologi). Akibatnya ketersediaan air tidak merata baik dari aspek waktu, tempat, jumlah maupun mutu. Paradigma pengelolaan sumber daya air, konflik dan kelangkaan, serta alternatif model kelembagaan adalah inspirasi dalam pembuatan model untuk menjawab isu penting terkait ketersediaan, kebutuhan dan pemanfaatan air bersih, penyebab dan dinamika konflik penyediaan air bersih, serta model kelembagaan pengelolaan air bersih sensitif konflik. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model kelembagaan pengelolaan air bersih yang handal dalam mengelola konflik dan sanggup mengatasi kelangkaan air bersih. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Fokus penelitian ini adalah menjajagi model kelembagaan pengelolaan air bersih yang ideal yang mampu mengelola konflik serta mengatasi kelangkaan air bersih. Lokasi penelitian adalah di Kota Kupang. Kelembagaan pengelolaan air bersih di Kota Kupang yang melayani kebutuhan air bersih masyarakat meliputi kelembagaan pemerintah (PDAM Kabupaten Kupang dan PDAM Kota Kupang) dan kelembagaan masyarakat (pedagang air dan pemilik sumur gali). Dengan adanya 2 kelembagaan pemerintah (PDAM) pada satu wilayah, maka dibutuhkan kerjasama antar pemerintah daerah terutama menyangkut aset dan sumber air mengingat karakteristik air yang tidak mengenal batas administrasi sehingga dalan pengelolaannya perlu dilakukan secara terpadu. Model kelembagaan pengelolaan air bersih sensitif konflik adalah model pengelolaan yang dilakukan dengan kerjasama antar pemerintah daerah. Hal-hal yang dapat dikerjasamakan meliputi : penyediaan investasi berupa aset PDAM Kupang untuk melayani kebutuhan air bersih masyarakat Kota Kupang termasuk upaya untuk menyediakan dana guna perbaikan pipa dan kerusakan lainnya sehingga mampu meningkatkan pelayanan air bersih bagi masyarakat Kota Kupang, PDAM Kabupaten Kupang akan membayar retribusi dan kompensasi pengambilan air baku yang berasal dari sumber yang berada diwilayah Kota Kupang, PDAM Kabupaten Kupang dan PDAM Kota Kupang bertanggung jawab atas usaha pelestarian daerah tangkapan air dengan tujuan agar debit air pada sumber-sumber air tersebut dapat dipertahankan, PDAM Kota akan membayar retribusi dan kompensasi pengambilan air baku yang berasal dari sumber air yang dimiliki Kabupaten Kupang. Kerjasama tersebut dapat ditindaklanjuti dengan membentuk lembaga kerjasama dimana pembagian tugasnya adalah bahwa lembaga kerjasama akan mengelola semua air baku sedangkan PDAM Kabupaten Kupang dan PDAM Kota Kupang mempunyai tugas untuk mendistribusikannya.
Clean water is one of human basic needs that can not be substituted by another comodities. The condition of water resources is influenced by topography and geology condition. The water source can be from different administrative area. It is because the basic characteristic of water resources that is natural and is a part of natural cycle (hidrology cycle). It results in the availability of water not to be equally distributed in time, place, number and quality aspects. The paradigm of water resource management, conflict and scarcity, and institutionalization alternative model are inspirations of model making to answer important issues related to the availability of clean water and the model of clean water management institutionalization that is conflict sensitive. This study aimed to formulate a reliable model of clean water management institutionalization in managing conflict and able to solve clean water scarcity. This study was descriptive one and the method used was qualitative method. The fokus of this study was to review an ideal model of clean water management institutionalization that was able to manage conflict and to solve the clean water scarcity. The location of study was in Kupang City. The institutionalization of clean water management in Kupang City that served the community’s need of clean water consisted of governmental institution (PDAM of Kupang Regency and PDAM Kupang City) and community institution (water trader and the owner of well). By these two governmental institution (PDAM) in one area, it needed a cooperation between local government especially related to the asset and water source because the characteristic of water that did not know the administrative border so it needed an integrated management. The model of clean water management institutionalization that was conflict sensitive was a management model that was conducted by cooperation between local government. The things that could be cooperated included : investment preparation such as assets of PDAM Kupang to serve the need of clean water to Kupang City community was an effort to give fund in improving pipe and other damage, so it was able to increase the clean water service to the community of Kupang City, PDAM of Kupang Regency would pay retribution and compensation of material water taken from the source that was in Kupang City area, PDAM Kupang Regency and PDAM Kupang City was responsible for the conservation effort of water source area with a purpose that the water debit in the water source could be maintained, PDAM City would pay retribution and compensation of material water taken from the source owned by Kupang Regency. The cooperation could be followed by founding a cooperation institution in which the division of task is that the cooperation institution would manage all material water and PDAM Kupang Regency and PDAM Kupang City would have a duty to distribute.
Kata Kunci : Model kelembagaan air bersih,Kelangkaan air,Konflik, Model of clean water institutionalization, water scarcity, conflict