Konsep malaikat dalam Harut Wa Marut karya Ali Achmad Bakatsir analisis semiotik
HIDAYAH, Nur, Dr. Fadlil Munawwar Manshur, M.S
2009 | Tesis | S2 Agama dan Lintas BudayaNaskah drama HÄrÅ«t wa MÄrÅ«t karya Ali Ahmad BÄkatsÄ«r adalah salah satu karya menumental yang mengantarkannya mendapatkan penghargaan (Ad- Daulah) At-Tasyji’iyah fi Al-Adab pada tahun 1962. Naskah drama HÄrÅ«t wa MÄrÅ«t adalah transformasi dari salah satu kisah Israiliyat yang digunakan para mufassir dalam menafsirkan Al-Qur’an (02:102). Ketika menafsirkan ayat ini para mufassir menghubungkannya dengan al-Qur’an (02:30). Simbol-simbol yang ada dalam naskah drama ini dianalisis dengan menggunakan teori semiotik Riffaterre untuk mengungkapkan simbol-simbol yang terdapat dalam teks naskah drama. HÄrÅ«t dan MÄrÅ«t adalah dua Malaikat pilihan yang diturunkan ke Babylonia dan menjalani kehidupan sebagai manusia. Sebagai manusia mereka menemukan hal-hal ajaib yang belum pernah mereka temukan semasa menjadi Malaikat di langit. Naskah drama HÄrÅ«t wa MÄrÅ«t mengandung simbol-simbol yang sengaja digunakan pengarang untuk menyampaikan ideologinya. Pengarang dengan menuliskan naskah drama ini ingin mengajak manusia beriman kepada Tuhan dan tidak mendewakan materi. Sebesar apa pun sebuah peradaban, jika tidak diiringi keimanan kepada Tuhan dan hanya mendewakan materi cepat atau lambat akan binasa. Akan tetapi keberagamaan manusia harus tetap berlandaskan kepada akal pikiran. Akal adalah pembeda manusia dari makhluk-makhluk lain. Maka dalam beragama, Tuhan senantiasa meminta hamba-Nya untuk tetap menggunakan akal dan kesadarannya. Tanpa akal dan kesadaran, manusia hanya akan mengalir mengikuti arus. Jumlahnya banyak namun tidak berkualitas. Sementara manusia adalah makhluk pilihan Tuhan. Hal yang membedakan manusia dari makhlukmakhluk lain adalah kesadarannya dalam memahami segala sesuatu. Dengan kesadarannya manusia dapat menjadi manusia masa depan yang kekal dalam kebahagiaan di sisi Tuhan, di dalam surga-Nya. Kegagalan Malaikat untuk menunjukkan kedudukan mereka yang lebih mulia menjadikan harapan segar bagi manusia. Karena kegagalan mereka membuahkan doa dan permohonan ampun bagi manusia sepanjang pagi dan sore hari.
Drama script HÄrÅ«t wa MÄrÅ«t is one of the monumental works which wrote by Ali Ahmad Bakatsir then sent him got Award Ad-Daulah At- Tasyji’iyyah fi Al-Adab in 1962. The script HÄrÅ«t wa MÄrÅ«t is one transformation of the Israiliyyat stories used by the Mufassir in the interpreting Al-Qur’an (02:102). When interpreting this verse, the Mufassir connecting it with the Al- Qur’an (02:30). Analized the symbols in this script using theory of semiotic Riffaterre to reveal symbols was found in the text of script. HÄrÅ«t and MÄrÅ«t are two chosen angels who sent down to Babilonia and life as human being. As a human they find wonderful things that they never found when they are angels in heaven. This script contain symbols which intentionally by the author used to convey his ideology. He wrote this script to invite people to believe in God and not worship material things. How big a civilization if does not accompanied with faith to God and just worship in material, soon or later will die. But the faith must remain intellectuality. Intellectuality is the differ human being from others. So, God always request human being to keep using the reason and awareness. Without reason and awareness, people will only follow the stream flow. Despite of many but not quality. While human beings are God’s choice. The differ human being from others is their awareness in understanding. With it, they will be future humans that can happy beside of the God, in His heaven. The failure of angels show their position in a more noble to make fresh hope for mankind. Because they fear failure of prayer and request forgiveness for people throughout the morning and afternoon.
Kata Kunci : Semiotika Riffaterre,Babylonia,Ideologi,Malaikat,Simbol,Peradaban,Kualitas, Riffaterre, Babilonia, ideology, Angels, symbols, culture, quality