Laporkan Masalah

Jaringan kerja dikalangan masyarakat nelayan dan dampaknya terhadap pemberdayaan masyarakat nelayan di Kecamatan Bunguran Timur

ISKANDAR, Drs. Djoko Suseno, S.U

2009 | Tesis | S2 Sosiologi

Sebagai salah satu wilayah perairan laut Cina Selatan, perairan di Kabupaten Natuna memiliki Potensi sumber daya kelautan. Di Kabupaten ini pada tahun 2005 mencapai 19.000 ton untuk penangkapan 608 karamba, 175 ha tambak dan 278 ha kolam, dengan total produksi mencapai 10.222 ton, yang melibatkan 6.192 RTP. Sementara itu permasalahan yang dihadapi Kabupaten Natuna berkaitan dengan pengelolaan potensi yang ada tersebut adalah masih rendahnya sumber daya manusia ( SDM ) yang menguasai bidang kelautan. Keterbatasan sumber daya manusia yang ada tersebut sangat berkaitan dengan kondisi kemiskinan yang melingkupi kehidupan masyarakat nelayan. Kondisi ini kemudian diperparah dengan munculnya kesenjangaan sosial (social gap ) diantara para nelayan yang ada, yaitu antara para penampung, nelayan pemilik alat, dan nelayan tradisional / buruh nelayan ( buruh tangkap ) yang terlihat sangat kontras. Jumlah populasi nelayan kategori penampung dan pemilik alat yang tergolong kedalam strata tinggi, sebenarnya jumlahnya relatitif sedikit diantara masyarakat nelayan. Tetapi yang sedikit ini kemudian mendominasi hubungan sosial dan ekonomi yang ada. Hubungan antara nelayan buruh dengan pemilik alat dan penampung ternyata tidaklah sekedar hubungan bagi hasil atupun jual beli, karena ternyata hubungan mereka jauh lebih dalam dari itu. Penampung biasanya memberikan pinjaman uang saat nelayan buruh tidak dapat melaut atau terbentur kebutuhan mendadak . Penampung kemudian menjadi sumber keuangan bagi nelayan buruh dalam situasi keterdesakan. Dan ini menyebabkan nelayan buruh akan tunduk dan setia kepada pemilik alat ataupun penampung karena sebagian besar kebutuhannya sudah tercukupi. Nelayan buruh merasa berkuajiban untuk tetap setia terhadap hubungan yang selama ini sudah terjalin. Guna memutus mata rantai ketergantungan diatas maka perlu penguatan perekonomian komunitas nelayan buruh maka dengan pengembangan jaringan sosial yang kemudian mengarah pada pembentukan dan penguatan lembaga ekonomi di tingkat lokal. Pemberdayaan nelayan melalui lembaga ekonomi ini akan mempermudah nelayan dalam menangkap peluang yang tersedia baik peluang dari pemerintah daerah maupun peluang dari pihak lain. Disamping itu perlu adanya program pemberdayaan yang tepat untuk para nelayan ini karena sebenarnya yang dibutuhkan bagi komunitas nelayan buruh adalah peningkatan kapasitas mereka dalam sektor perekonomian, yang akan membuat mereka lebih berdaya dalam memanfaatkan potensi kelautan di perairan Natuna ini.

As one of waters regions of South Chine ocean, waters area in Natuna Regency had an ocean resource potency. In this regency, in 2005, reached 19.000 tons from 608 fish baskets, 175 ha embankment and 278 ha pond, with total production reached to 10.222 tons, which involved 6.192 RTP. Whilst, the problem that Natuna Regency had faced correlated to management of its potency was the low of human resource which mastering ocean challange. The limited of human resource was very correlated to poverty condition that surrounding the fisherman community lives. This condition, then was severed by the rising of social gap between fisherman, that is between collectors, equipment owners, and traditional fisherman/ labor fisherman (catch labor). The population of fisherman belong to collectors and equipment owners which belong to high strata, actually was small compared to fisherman community. But, they dominated the social and economic interaction of the fisherman community. The relation between labor fisherman with equipment owners and collectors, not just enough result sharing relation or trade, but more depth. The collectors, usually provide a monetary loan when labor fisherman could not fishing or had faced an urgent needs. The collectors then be financial source for the labor fisherman in urgent situation. This caused the labor fisherman would obedient and loyal to the equipment owners or collectors, because their most needs was meet by them. The labor fisherman feel had obligation to keep loyalty to this relation. To cut this dependency chain, thus need economic fostering for labor fisherman community by developing social network that directed to establish and fostering economic institution in local level. Fisherman empowerment through this economic institution would ease the fisherman in utilizing opportunity both from government and others. Others of that, its need appropriate empowerment program for fisherman because actually what was needed by this fisherman community is increasing capacity in economic sector, which made them more had power in utilizing ocean resource in the Natuna waters.

Kata Kunci : Kabupaten Natuna,Nelayan buruh,Pemberdayaan nelayan,Lembaga ekonomi lokal, Natuna, fisherman, empowerment, economic fostering.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.