Perayaan Maulid Hijau di Lereng Gunung Lamongan :: Pergulatan masyarakat lokal dalam merespons kerentanan bencana di Desa Tegal Randu Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang
MALIK, Abd, Dr. Pradjarta Dirjosanjoto
2009 | Tesis | S2 Agama dan Lintas BudayaKajian bencanca selama ini banyak terjebak pada penelitian pada pasca bencana sehingga melupakan aspek kerentanan yang melekat secara historis dalam masyarakat. Di samping itu, proyek penanggulangan bencana masih sangat didominasi pendekatan modernis melalui rekayasa ilmu pengetahuan dan teknologi yang kadang secara kultural tidak bisa diterima oleh komunitas lokal. Penelitian ini mengisi kelemahan beberapa penelitian sebelumnya tersebut dengan memusatkan pada kajian bencana dalam perspektif sosial budaya dengan menekankan pada kerentanan bencana dan aspek penanggulannya dengan berbasis komunitas lokal. Penelitian ini mengambil lokasi di Desa Tegalrandu yang merupakan salah satu desa kawasan wisata di Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang Jawa Timur. Kondisi lingkungan di daerah tersebut telah mengalami krisis ekologis yang menyedihkan yang mengancam terjadinya bencana. Akan tetapi yang lebih penting dari itu adalah kerentanan yang dimiliki masyarakat dalam waktu yang cukup panjang. Mengatasi hal tersebut sebagian masyarakat menginisiasi perayaan desa yang menggabungkan antara kegiatan keagamaan, tradisi lokal dan penghijauan, yang disebut Maulid Hijau. Sebagai kajian bencana dalam perspektif ilmu sosial, penelitian ini memahami kerentanan tidak sebagai sifat dari kondisi fisik alam lingkungan yang bersifat statis. Kerentanan merupakan sifat yang melekat dalam masyarakat yang berjalan secara dinamis. Dengan pengertian itu, lahirnya bencana dalam masyarakat merupakan jalinan antara kerentanan sosial dengan ancaman alam. Dengan demikian proyek penanggulangan bencana tidak boleh menafikan terhadap dinamika kerentanan yang berlangsung dalam masyarakat tersebut. Penelitian ini mengeksplorasi bahwa kerentanan yang dimiliki oleh masyarakat Tegalrandu merupakan jalinan kompleks antara sosial, politik, ekonomi dan sistem ideologi yang berlangsung lama. Konsekuensi dari aktifitas sosio-kultural tersebut telah menyebabkan lahirnya masyarakat yang rentan yang ditunjukkan dengan kehidupan masyarakat Tegalrandu dalam kondisi yang tidak aman yang mengancam munculnya bencana. Dengan demikian, Maulid Hijau dihadirkan oleh masyarakat setempat dalam rangka mengurangi sifat kerentanan masyarakat dan ancaman alam dalam berbagai aspek. Aspek yang paling penting adalah mengubah cara pandang masyarakat terhadap alam dan lingkungannya yang berimbas pada perubahan di sektor yang lain seperti sosial, ekonomi dan politik menuju masyarakat yang berkelanjutan sebagai kebalikan dari masyarakat yang rentan.
Many previous studies of disaster often only focus on post-disaster. Consequently, the studies forget the important aspects of pre-disaster namely vulnerability that is historically embedded in a certain society for a long time. Besides that, disaster mitigation projects are still dominated by technological approaches which are culturally not acceptable to local communities. This research completes (corrects) the weakness of several previous disaster studies by considering socio-cultural perspectives which focus on the study of vulnerability and its mitigation based on local community. This research concerns Tegalrandu village, one of the tourism regions in the sub-district of Klakah, Lumajang, East Java. The condition of the environment in this area has experienced terrible ecological crisis which threaten the occurrence of disaster. However, more important than such physical crisis is the nature of vulnerability in the community. To overcome both ecological crisis and social vulnerability, the local community holds a celebration which combines religious, local tradition, and reforestation activities called “Maulid Hijauâ€. Using social perspectives on disaster, this research conceptualizes vulnerability not as a characteristic of physical environment and not static. On contrary, vulnerability is a characteristic that is embedded dynamically in certain communities. In this sense, the occurrence of disaster in a community is combination between vulnerable people and natural hazard. While vulnerable community is people living in unsafe condition. Therefore, besides concerning with the physical aspects of disaster, the management and mitigation project might not deny the dynamics of vulnerability that takes place in certain communities. This research finds that vulnerability in Tegalrandu is a complex relation among social, political, economic and the ideological system since the colonial era until the reformation era. The consequences of those socio-cultural activities have caused Tegalrandu to live as a vulnerable community in unsafe conditions. Therefore, Maulid Hijau was initiated in order to reduce vulnerability and unsafe conditions in various aspects. The important aspect is to change and redefine a system of value concerning nature and the environment. That transformational view is expectedly followed by the change in people’s behavior and attitudes about social, economic and political activities in forming a sustainable community as opposed to a vulnerable community.
Kata Kunci : Maulid Hijau,Komunitas lokal,Kerentanan bencana,Maulid Hijau,mitigation,local community,vulnerability