Analisis efisiensi pemasaran kayu jati rakyat di Kabupaten Konawe Selatan
LAKSANANNY, Satya Agustina, Prof. Dr. Ir. Wahyu Andayani, MS
2009 | Tesis | S2 Ilmu KehutananKecamatan Kolono dan Kecamatan Lainea merupakan sentra produksi kayu jati rakyat di Kabupaten Konawe Selatan, tetapi dalam pengelolaannya tanaman jati rakyat tidak disertai dengan intensifikasi, sehingga arah pola pengembangannya masih belum jelas. Penguasaan aspek tataniaga dan penetapan harga kayu jati rakyat belum dipahami oleh petani jati di lokasi penelitian, sehingga pihak petani belum dapat memperoleh bagian rentabilitas usaha sesuai dengan pengorbanan yang dilakukannya. Kondisi ini menyebabkan distribusi profit marjin pemasaran kayu jati rakyat yang berlaku saat ini belum adil (merata) pada tiap tingkatan pelaku pemasaran yang terlibat di dalamnya. Oleh karenanya dianggap perlu dilakukan penelitian mengenai analisis efisiensi pemasaran kayu jati rakyat di Kecamatan Kolono dan Kecamatan Lainea, Kabupaten Konawe Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pemasaran kayu jati rakyat dan tingkat efisiensi pemasaran kayu bulat jati rakyat dengan menggunakan indikator marjin keuntungan (profit margin), marjin pemasaran (marketing margin), dan efisiensi operasional (nilai mark up on selling) yang dilaksanakan di Kecamatan Kolono dan Kecamatan Lainea. Data primer diperoleh dari hasil wawancara kepada responden dan data sekunder instansi terkait, yang dilaksanakan dari bulan Januari – Maret 2009. Penentuan responden dilakukan dengan stratifikasi berdasarkan luas kepemilikan lahan, selanjutnya pengambilan sampel dilakukan secara random sampling pada masing-masing strata. Dari hasil stratifikasi diperoleh 3 strata yaitu strata I (petani dengan luas lahan <1), strata II (petani dengan luas lahan 1ha – 5ha) dan strata III (petani dengan luas lahan >5ha). Responden pedagang perantara diperoleh dengan metode snowball sampling. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis efisiensi pemasaran. Dari hasil penelitian terdapat 3 (tiga) pola distribusi kayu bulat jati rakyat ; a) pola I : petani – penebas – pedagang pengumpul – konsumen akhir/industri meubelair; b) pola II : petani – koperasi ; c) petani – penebas – pedagang pengumpul – konsumen akhir/ industri hilir. Nilai marjin pemasaran (marketing margin) sebagai berikut : pada pola I (di Kecamatan Lainea) adalah sebesar Rp 456.191,021 (68,859% ) dengan nilai marjin keuntungan tertinggi (profit margin) sebesar Rp 79.423,568(20,496%) pada tingkat penebas, pola III adalah sebesar Rp 480.989,109 (72,602 %) dengan nilai marjin keuntungan tertinggi (profit margin) sebesar Rp 96.828,247 (24,207%) pada tingkat penebas. Pola pemasaran kayu bulat jati rakyat ini belum dapat dikatakan efisien, karena secara keseluruhan distribusi indikator efisiensi pemasaran tersebut tidak terdistribusi dengan adil atau merata
The subdistrict of Kolono and Lainea are product centres of people’s teak logs in South district Konawe , but the management of teak logs is not followed by intensification, so the direction of the expansion pattern is still unclear. The knowledge of marketing and the teak’s pricing have not been understood by the farmers at Kolono and Lainea sub district, so the farmers have not received the part of rentabilities equal with the efforts they have spent. This condition causes an unfair distribution of marketing margin profit of teak logs at every. Thus, research on marketing efficiency analysis of teak logs in Kolono and Lainea sub district, at South district Konawe needs be done. The aim of the study is to know the marketing pattern and the level of marketing efficiency of the teak logs by using indicator’s profit margin, marketing margin, and operational efficiency (value of mark up on selling) practiced at Kolono and Lainea sub district. The primary data is obtained from the results of respondent interviews and the secondary data from the institution collected from January - March 2009. The choice of respondent are done by stratification based on the size of the ownership of farm; the sampling is random sampling at each strata. There are found to be 3 strata : strata I (farmer with farms < 1), strata II (farmer with farms of 1ha - 5ha) and strata III (farmer with farms > 5ha). The data of middle men respondent is done by snowball sampling method. Analytical method used is marketing efficiency analytical method. It is found that there are three distribution patterns of teak logs : a) farmer – middle man I - pool trader – meubel industry; b) farmer - co-operation ; c): farmer – middle man I - pool trader – downstream industry. The first pattern is applied more in Lainea sub district and for second member of Hutan Jati Lestari cooperation and the last pattern is applied in Kolono sub district. At the first pattern (in Lainea sub district) with the marketing margin to Rp 456 191,021 (68,859% ) with the highest profit margin to be equal at Rp 79.423,568(20,496%) for the middle man. At the third pattern with the marketing margin to Rp 480.989,109 (72,602 %) with the highest profit margin to be equal at Rp 96.828,247 ( 24,207%) for the middle man too. The marketing pattern of the teak logs is not efficient yet, because the level of the operational efficiency is low and the distribution of the marketing margin is unequal and unfair.
Kata Kunci : Pemasaran kayu jati,Efisiensi pemasaran,Kayu bulat jati rakyat, community forestry, marketing margin, marketing efficiency of teak wood