Laporkan Masalah

Evaluasi strategi implementasi kebijakan konversi minyak tanah ke LPG periode 2007-2008

HADIWIDJOYO, Saryono, Wakhid Slamet Ciptono, Drs., MBA., MPM

2009 | Tesis | S2 Magister Manajemen

Tujuan umum penelitian ini adalah: a) untuk mengevaluasi keberhasilan Program Pemerintah dalam pelaksanaan konversi energi yakni konversi penggunaan Minyak Tanah ke LPG 3 kg, periode tahun 2007-2008, b) melakukan evaluasi atas rencana implementasi strategi kebijakan konversi minyak tanah ke LPG 3 kg yang akan dilaksanakan pada tahun 2009 untuk wilayah di luar pulau Jawa, yang kondisinya jauh berbeda dengan program tahun 2007-2008, dan c) merekomendasikan perbaikan kebijakan agar program tahun 2009 juga dapat berhasil. Pada tahun 2007 telah didistribusikan paket LPG tabung 3 kg yang terdiri dari tabung LPG 3 kg, kompor gas satu tungku, selang karet dan regulator sejumlah 3,975,789 di wilayah Jabodetabek, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur,Bali dengan PT Pertamina sebagai pelaksana. Dengan Paket yang terdistribusi sejumlah di atas pada masyarakat, volume minyak tanah yang dikonversi ke LPG sebanyak 163,182 KL. Sedangkan untuk pelaksanaan program konversi tahun 2008, dari pendistribusian telah terdistribusi paket LPG tabung 3 kg sejumlah 15,037,639 paket, dengan volume minyak tanah yang terkonversi sebanyak 2,069,536 KL. Sasaran dari program pengalihan Minyak Tanah ke LPG ini adalah Zero – Kero 2012 yang kemudian dipercepat menjadi tahun 2010 dengan pertimbangan tingginya harga minyak dunia. Artinya bahwa sampai dengan tahun 2010 akan tercipta suatu kondisi dimana tidak ada lagi minyak tanah bersubsidi yang digunakan untuk memasak. Dengan adanya kebijakan percepatan program konversi minyak tanah ke LPG, kebutuhan LPG nasional (kebutuhan existing dan konversi minyak tanah ke LPG) pada tahun 2010 diperkirakan meningkat menjadi sebesar 4,8 juta Ton. Peningkatan kebutuhan ini berdampak pada terjadinya defisit suplai LPG pada tahun 2010 yang diperkirakan sebesar 2,737 juta Ton dimana defisit yang terjadi akan dipenuhi melalui kegiatan impor. Dari analisis SWOT dapat diperkirakan bahwa tahun 2009 dengan target konversi sebanyak 23 juta paket perdana sulit tercapai ditinjau dari : a) infrastruktur pendukung konversi sangat kurang dibandingkan di Jawa b) wilayah konversi yang lebih luas dibandingkan dengan di jawa (hampir seluruh Sumatera, sebagian Sulawesi dan Kalimantan) c) kondisi geografis dan demografis, d) suplay LPG tidak bisa dicukupi dari dalam negeri, tergantung dari import. Oleh sebab itu untuk mensukseskan program konversi tahun 2009 – 2010 dimana wilayah konversi diluar Jawa diperlukan suatu kebijakan strategis sebagai berikut: kebijakan penarikan mitan, pentingnya energi yang ramah lingkungan dan peningkatan dukungan daerah dan badan usaha; c) tetap memberikan subsidi atas isi ulang LPG 3 Kg; d) meningkatkan alokasi anggaran subsidi LPG jika terjadi kenaikan harga LPG internasional; e) memperkuat sistem pengawasan melalui regulasi; f) memperkuat alokasi anggaran untuk cadangan LPG nasional; g) peningkatan produksi LPG nasional dan penghentian ekspor; h) memberikan insentif dan kemudahan dalam pengembangan infrastruktur di daerah remote dan luar Jawa; i) pengawasan penerapan standar LPG, dan verifikasi isi ulang secara kontinyu; j) pengembangan rantai suplai dan infrastruktur terutama di luar pulau Jawa; k) kontrak jangka panjang LPG impor; l) pemberlakuan closed system.

General Objectives of study were to (a) evaluate success of Governmental Program in implementing energy conversion, namely conversion from kerosene to 3-kg LPG, over 2007-2008; (b) evaluate plan of implementation of conversion policy from kerosene to 3-kg LPG which would be implemented in 2009 in areas outside Java Islands, whose condition was far different from program of 2007- 2008; (c) recommend policy improvement in order that program of 2009 could also be successful. In 2007, 3,975,789 3-kg tube LPG packages, consisting of 3-kg LPG, 1- fireplace gas stove, rubber pipe and regulators, had been distributed to areas of Jabotabek, South Sumatera, West Java, Banten, DKI Jakarta, Central Java, Yogyakarta County, East Java, Bali with PT Pertamina as performer. Given such distributed quantity to society, kerosene volume converted to LPG was 163,183 KL. Whereas, for implementation of conversion program in 2008, from the distribution, 15,037,639 3-kg tube LPG packages had been distributed, with 2,069,536 KL of converted kerosene volume. Target of kerosene-to-LPG conversion program is Zero Kero 2012 which, then, is accelerated in 2010 with world oil price consideration. It means that, in 2010, a condition, where there will no subsidized kerosene use for cooking, is created. Given policy of kerosene-to-LPG conversion program, national LPG need (existing need and kerosene-to-LPG conversion), in 2010, is estimated to increase by 4.8 million tons. Increased need affects LPG supply deficit in 2010, which is estimated to be 2,737 millions ton, where resulting deficit will be met by import activity. Form SWOT analysis, it could be estimated that 2009 with 23 million packages of conversion target is difficult to achieve in terms of: (a) conversion support infrastructures are less than Java; (b) conversion areas are wider than Java (nearly all Sumatera, parts of Sulawesi and Kalimantan); (c) geographical and demographic condition; (d) LPG supply cannot be met from domestic, depending on import. Therefore, to make 2009-2010 conversion successful, conversion areas outside Java need strategic policies as follows; (a) To reinforce policy tools; (b) to strengthen policy of kerosene withdrawal, importance of ecology-friendly and increased regional support and agencies; (c) to give 3-kg LPG refill subsidy; (d) to increase LPG subsidy budget allocation if international LPG prices increases; (e) to reinforce control systems through regulation; (f) to reinforce budget allocation of national LPG supply and export elimination; (h) to give incentive and ease in developing infrastructures in remote elimination; (h) to give incentive and ease in developing infrastructures in remote areas and outside Java; (i) to control LPG standard application, and continuous refill verification; (j) to develop supply chain and infrastructures, especially outside Java Island; (k) long-term import LPG contract; (l) to pass closed system.

Kata Kunci : Konversi,LPG,Rantai nilai, conversion, LPG, supply chain


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.