Analisis budaya dan efektifan organisasional merger Bank X dan Bank Y
RIZA, Mohammad, Hani Handoko, Dr., MBA
2009 | Tesis | S2 Magister ManajemenSecara hitungan finansial di atas kertas, merger antara Bank X dan Bank Y dipastikan akan mengalami kesuksesan karena adanya potensi sinergi senilai Rp. 550 milyar dan memposisikan bank hasil merger pada peringkat ke-5 bank terbesar di Indonesia. Akan tetapi, berdasarkan hasil penelitian terdahulu, kesuksesan merger akan sangat tergantung pada kemampuan organisasi untuk mengantisipasi konflik budaya yang dapat mengakibatkan kehancuran perusahaan pasca merger. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengidentifikasi budaya organisasi adalah instrumen Organizational Culture Profile (OCP) yang telah direvisi oleh Cable dan Judge (1997) dan diterjemahkan secara independen oleh peneliti ke dalam Bahasa Indonesia. Analisis dan interpretasi data dilakukan dengan bantuan free Q analysis software yaitu PQMethod – 2.11. Untuk mengetahui keefektifan organisasi terkait ekspektasi budaya organisasi sebelum dan sesudah merger, penelitian ini menggunakan metode Competing Values Framework dengan instrumen Organizational Culture Assessment Instrument (OCAI). Nilai rata-rata skor OCAI dari setiap responden akan dihitung dengan menggunakan Microsoft Excel untuk kondisi masa sekarang dan masa akan datang organisasi. Hasil penelitian menghasilkan simpulan bahwa dengan menggunakan OCP, Bank X dapat diidentifikasi memiliki profil budaya: team work & outcome orientation, prudent,rule oriented, innovation, dan stability, sedangkan Bank Y memiliki profil budaya yang developmental orientation, outcome orientation, stability, rule oriented, dan competitiveness. Dengan menggunakan korelasi dapat diketahui adanya perbedaan budaya sekarang antara kedua bank tetapi tidak berpotensi menimbulkan konflik. Hal ini diperkuat juga dengan hasil penelitian dengan OCAI bahwa ekspektasi budaya di masa mendatang responden dari kedua bank tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.
Merger between Bank X and Bank Y is financially obvious will success with the estimated run rate synergy of Rp. 550 billion and managed to post the merger bank as the 5th largest bank in Indonesia. However, based on many studies made on merger and acquisition, merger success will depend on the organization’s ability to anticipate cultural conflict which will eventually tear down the organization after merger.Instruments such as Organizational Culture Profile (OCP) revised by Cable and Judge (1997) and Oragnizational Cultural Assessment Instrument (OCAI) based on Competing Values Framework developed by Quinn dan Cameron (1983) are used to indentify each of company’s culture profile and to investigate the organiozational effectiveness.Analysis and interpretation of data collected using OCP instrument were done using software PQMethod – 2.11 while data collected using OCAI were done by using simple Microsoft Excel calculation, diagrams, and graphs for drawing up the “current†and “expected†culture of the merger bank. The results of this research have shown that Bank X is identified as having culture profile of team work & outcome orientation, prudent, rule oriented, innovation, and stability. Meanwhile Bank Y is identified as having culture profile of developmental orientation, outcome orientation, stability, rule oriented, and competitiveness. Using simple correlation technique, it is concluded that there are some differences of culture between the two but are not significantly able to raise cultural conflict. It is also empowered by OCAI’s result saying that there are no significant differences for the expected organizational culture after the merger.
Kata Kunci : Merger,Konflik budaya,Profil budaya,Organizational culture profile,OCP,Competing values framework,OCAL