Pengaruh penjaminan kredit agunan tambahan PMK No 135 dan suku bunga terhadap penyaluran kredit usaha rakyat :: Studi kasus PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
GUNAWAN, Ary Fajar, Jogiyanto Hartono, Prof., Dr., MBA
2009 | Tesis | S2 Magister ManajemenPemerintah telah meluncurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sejak 05 Nopember 2007 untuk meningkatkan permodalan pengusaha di sektor UMKM. Penyaluran KUR dilakukan oleh 6 bank pelaksana yang ditunjuk pemerintah. Penyaluran kredit ini dilengkapi dengan skim penjaminan kredit pemerintah untuk menjamin risiko sebesar 70%, risiko sisanya sebesar 30% ditanggung oleh bank pelaksana. Meski telah dilengkapi skim penjaminan kredit, dalam penyalurannya bank-bank pelaksana masih mensyaratkan penyerahan agunan tambahan kepada pengusaha yang mengajukan. Pada awal program ini diluncurkan, pertumbuhan kreditnya mengalami peningkatan pesat, namun kemudian pertumbuhannya menurun terutama sejak pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 135/PMK.05/2008 tahun 2008 tentang Fasilitas Penjaminan Kredit Usaha Rakyat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variable bebas berupa: penjaminan kredit, ketersediaan agunan tambahan, syarat debitur berdasarkan PMK No.135/2008, dan suku bunga pinjaman terhadap variabel terikat berupa penyaluran Kredit Usaha Rakyat. Penelitian menggunakan studi kasus di Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk sebagai salah satu bank yang ditunjuk melaksanakan penyaluran program KUR. Data diperoleh melalui penyebaran kuesioner. Sampel penelitian sebanyak 60 responden yang bertugas sebagai pengusul dan pemutus kredit yang berasal dari 30 unit bisnis yang dipilih berdasarkan maksimum penyaluran tertinggi dan terendah. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diuji dengan model regresi linear berganda dan uji t untuk melihat signifikansi pengaruh masing-masing variabel bebas yang diuji terhadap variable terikatnya. Kesimpulan hasil penelitian menunjukkan bahwa variable bebas: ketersediaan agunan tambahan, syarat debitur berdasarkan PMK No.135/2008, dan suku bunga pinjaman secara signifikan berpengaruh terhadap penyaluran KUR. Sedangkan variabel penjaminan kredit tidak signifikan berpengaruh pada penyaluran KUR. Seluruh variable yang diuji tersebut menunjukkan koefisien regresi positif, kecuali variable syarat debitur berdasarkan PMK No.135/2008. Koefisien regresi yang positif menunjukkan bahwa variabel ini memiliki pengaruh linear dengan peningkatan penyaluran KUR, sebaliknya dengan koefisien regresi yang negatif berarti keberadaannya menjadi faktor penghambat peningkatan penyaluran KUR.
This study was aimed to learned the effect of bank’s assets growth on bank’s profits growth, that predicted have negative effect. This research use bank’s growth that proxies as assets growth. Assets growth linked with profits growth based on assumption that bank’s growth bond with risk. The risk negatively influenced profits growth. Profits growth that used in this research is relative profits growth, that is profit compared with asset or called ROI (return on investment), therefore profit’s growth in this study is the change of ROI. The data’s quality in this study examined with classic assumption approach that is normality test, heterokedastisity test, and autocorrelation test. This study used simple regression analysis to test the hypothesis for the reason that the research only uses one independent variable. Eight banks are used as sample with 39 data collected. The research showed that on the sample examine period, regression coefficient was -0,0000425. That means if there were increase growth in asset will be followed with decrease on profit. The influenced called negative effect on profit. Nevertheless the effect was not significant, as a consequence of significant rate was 0,679 higher than a = 0,05, thus the result in this study was not significant.
Kata Kunci : Kredit usaha rakyat (KUR),Penjaminan kredit,Agunan tambahan,Suku bunga pinjaman KUR, assets growth, profits growth, return on investment