Pemberdayaan masyarakat nelayan melalui budi daya perikanan di Kecamatan Pulau Tiga
SURYANTO, Dra. Agnes Sunartiningsih, M.S
2009 | Tesis | S2 SosiologiLetak geografis Kabupaten Natuna yang strategis dengan karakteristik yang unik yaitu hampir + 99,01% merupakan luas lautan, menjadikan Kabupaten Natuna memiliki potensi unggulan yang kaya dengan sumber daya perikanan. Kondisi ini dapat di lihat dari banyaknya kapal-kapal dari negara lain yang mencuri dan mengambil sumber daya kelautan dengan tiada hentinya. Seiring dengan semakin berkurangnya hasil tangkapan nelayan dalam memenuhi kebutuhan perekonomiannya, menyebabkan banyak para nelayan mengalihkan profesi dari nelayan tangkap ke budi daya perikanan dengan nilai jual yang tinggi. Kenyataanya permasalahan bukan hanya pada pengalihan profesi, berbagai persoalan dan hambatan banyak dirasakan oleh para nelayan dalam usaha budi daya perikanan. Kondisi ini disebabkan faktor sumber daya manusia yang kurang, dukungan modal yang minim, ketergantungan dengan beberapa tauke ikan, kurangnya kelembagaan yang dapat mendukung majunya usaha budi daya serta tidak berjalannya program pemberdayaan dari pemerintah. Budi daya perikanan atau lebih dikenal dengan memelihara ikan hidup adalah suatu usaha yang populer di kalangan masyarakat Kabupaten Natuna. Karena dengan memelihara ikan dari sisi kehidupan sosial ekonomi dapat dinilai orang yang sudah mapan atau berada. Budi daya perikanan memerlukan modal yang tidak sedikit baik finasial, kesabaran dan ketekunan. Dengan melihat potensi yang menjanjikan tersebut sudah selayaknya pemerintah daerah dalam hal ini harus berani melakukan intervensi-intervesi yang tertuang dalam program kegiatan pembangunan yang berupa bantuan modal guna mendukung usaha budi daya perikanan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Lokasi sasaran yang dijadikan dalam kajian ini adalah masyarakat nelayan di Kecamatan Pulau Tiga, yaitu di Dusun Teluk Melam, Desa Tanjung Kumbik, dan Desa Sededap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keadaan nelayan tahun 1980-an bergerak dalam usaha penangkapan ikan-ikan konsumsi masyarakat saja. Namun lambat laun terjadi perubahan permintaan pasar yaitu ikan-ikan kualtas ekspor, berawal dari penangkapan sampai dengan usaha budi daya. Usaha tersebut mulai gencar sekitar tahun 2000-an. Dalam perjalanannya, kehidupan para nelayan juga terdapat kesenjangan antara satu dengan yang lainnya. Nelayan yang memilki modal yang kuat seperti tauke ikan mampu mengembangkan usahanya dengan cepat. Namun sebaliknya nelayan yang tidak memiliki modal hanya mampu melakukan usaha seperti berjalan di tempat. Artinya usaha yang mereka jalani hanya mampu untuk memenuhi tuntutan hidup mereka. Program-program yang direncanakan oleh pemerintah belum berhasil dengan maksimal. Ini dikarenakan oleh tidak transparannya penyaluran dana, kurangnya dana sharing dan regulasi dari pemerintah, tidak profesionalnya tenaga fasilitator serta tidak adanya kelembagaan yang mampu memberikan bargaining position kepada nelayan. Oleh karena itu diperlukan strategi pemberdayaan berupa peningkatan sumber daya manusia, peningkatan dan pengawasan bantuan modal serta peningkatan kapasitas kelembagaan.
The geographical position is strategically Natuna regency with a unique characteristic that is almost + 99,01% is a vast ocean, making Natuna regency has excellent potential with a rich of marine resources. In this case, it resources can be seen from the many ships from other countries who steal and taking of marine resources, with no constans. With the reduction in fishing catches to meet the needs of the economy, many fishermen from the fishing profession shifted to the cultivation of catching fish with a high trading value. In fact, problems not only in the transfer of the profession, the various problems and obstacles much felt by the fishermen in the mind of cultivation of catching fish business. This condition is because the human factor is less, support for minimun capital, dependence on a few fish boss, lack of institutions that can support the cultivation of business progress and its not running from the goverment’s empowerment programs. This research was conducted by using qualitative descriptive methods. Target locations used in this study is teh fishing communities int the Pulau Tiga ragency, the Teluk Melam village, the Tanjung Kumbik village, and the Sededap village Cultivation of fish or better known as the live fish is a popular business in Natuna regency. Because among communities with fish from the socio-economic life can be the values of an established or wealthy. Aquaculture departement requires no small amount of capital, whether financial, patience and perseverance. By looking at the potential of these promising local goverments for granted in this case should dare to do interventions outlined in the program development activities in the from of capital assistance to support fisheries cultivation efforts. The results showed that the condition of the fishermen in the 1980’s engaged in fishing efforts and fishing consumption only. But gradually the market demand changes is the quality of fish exports, begins from catching up with the cultivationof business. This efforts began intensively around the 2000’s. In this way, the life of the fishermen there is also a gap between one another. Fishermen who have a strong capital as fish employer was able to develop their business quickly. But the fishermen who do not otherwise have the capital is only able to do business like walking in place. That means businesses in which thes live is only able to meet the demands of their lives. Programs planned by the goverment has not succeeded with the maximun. This because the lack of transparency in the distribution of funds, lack of funds and the sharing of goverment regulation, not professional staff of facilitators and not capable of providing institutional bergaining position of the fishermen. Ther for, it needs a strategy to increase the empowerment of human resources, improvement and supervision of capital assitance and institutional capacity building.
Kata Kunci : Pemberdayaan, Nelayan, Budi daya perikanan, empowering, fishermen, cultivation of fish