Laporkan Masalah

Konflik penambangan pasir besi antara masyarakat perusahaan dan pemerintah daerah :: Studi tentang proyek penambangan pasir besi di Kabupaten Kulonprogo

YUSANDHY, Frenky, Drs. Djoko Suseno, SU

2009 | Tesis | S2 Sosiologi

Indonesia merupakan negara kepulauan terluas di dunia, terdiri dari pulau besar dan kecil berjumlah sekitar 17.000 pulau. Selain alam yang indah, bumi Indonesia banyak mengandung mineral kekayaan alam yang penting bagi pertumbuhan industri dunia. Kandungan melimpah mineral, minyak dan gas bumi, batu bara, Tembaga, Emas, dan sebagainya serta keanekaragaman budaya dan masyarakat yang majemuk di Indonesia, menjadikan Indonesia mempunyai titiktitik panas berupa potensi konflik yang siap menyala sewaktu-waktu. Wilayah Kabupaten Kulon Progo mempunyai kawasan pesisir pantai yang pasir besinya mengandung unsur Besi (Fe) yang cukup bagus bagi bahan pembuatan besi baja. Kawasan tersebut terletak di Pantai Selatan Kabupaten Kulon Progo sepanjang kurang lebih 22km. Potensi yang terkandung dalam pasir besi ini yaitu mengandung cadangan besi (Fe) sebanyak 33,6 juta ton Fe. Bila kemampuan maksimal angkat yang bisa dikerjakan 1 juta ton per tahun maka memerlukan waktu kurang lebih 30 tahun untuk menambang keseluruhan potensi unsur besi yang ada. Proyek ini dapat menghasilkan jutaan dollar pemasukan bagi daerah Kabupaten Kulon Progo melalui pajak, royalti dan dana pembangunan komuniti. Namun sampai saat ini, proyek tersebut mengalami kendala yaitu penolakan dari masyarakat setempat yang selama ini bermukim dan bercocok tanam di lahan pantai tersebut. Hal ini menarik penulis untuk melakukan serangkaian penelitian untuk mengetahui latar belakang terjadinya penolakan warga. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif yang dipandang penulis sebagai metode yang tepat untuk menggali informasi dan fakta tersembunyi di tengah masyarakat yang melakukan penolakan. Hasil dalam penelitian kemudian di analisis dengan menggunakan teori dan konsep-konsep tentang konflik ditengah masyarakat. Tubagus Ronny Rahman Nitibaskara mengatakan bahwa diantara konflik yang membahayakan adalah konflik antara masyarakat dan pemerintah daerah, terutama disebabkan permasalahan tanah atau lahan yang bernilai ekonomis tinggi. Kebijakan pembangunan oleh pemerintah daerah seringkali mendapatkan perlawanan dan penolakan masyarakatnya sendiri. Karakteristik dan latar belakang budaya menjadikan bentuk dan motivasi perlawanan masyarakat menjadi corak yang berbeda di tiap daerah. Dari hasil penelitian dan selanjutnya dilakukan analisis, maka penulis menemukan bahwa terdapat situasi awal yang menyebabkan timbulnya prasangka sosial di tengah masyarakat terhadap kehadiran proyek penambangan pasir besi akibat tidak maksimalnya informasi dan sosialisasi yang dilakukan oleh pihak pemerintah daerah sebelum rencana proyek tersebut digulirkan. Prasangka sosial yang semakin menguat menjadikan berbagai langkah untuk memulai proyek penambangan selalu menemui langkah buntu.

Indonesia is the largest archipelagic country in the world, consisted of big island and small amounted to around 17000 islands. Besides beautiful nature, Indonesia earth many containing natural resources mineral which necessary for industrial growth of the world. Abundance content of mineral, gas and oil, embers stone, Copper, Gold, etcetera and cultural variety and public which compound in Indonesia, makes Indonesia to have points of temperatures in the form of conflict potency readily aflame at any times. Sub-Province Region Kulon Progo has coast coastal area which its the iron sand contains element Besi ( Fe) which is good enough for steel making material. The area located in Pantai Selatan Kabupaten Kulon Progo along the length of approximately 22km. Potency which implied in this iron sand that is containing iron reserve ( Fe) 33,6 million tons Fe. If when maximum ability lifted which able to be done 1 million tons per year hence requires approximately time 30 years to mine overall of element potency of the iron. This project can yield millions of inclusion dollar to area Kabupaten Kulon Progo through tax, royalty and development fund komuniti. But till now, the project experiences constraint that is rejection from local public which during the time residence and cultivation in the shoreland territory. This thing is interesting writer to do with refer to research to know background the happening of rejection of member. Research is done with descriptive qualitative method regarded as writer as correct method to dig information and fact hidden in the middle of public doing rejection. Result in research then in analysis by using theory and concepts about conflict at the middle by public. Tubagus Ronny Rahman Nitibaskara tells that between endangering conflict is conflict between publics and local government, especially is caused problems of economic valuable soil, land, ground or farm of height. Development policy by local government often gets resistance and rejection of his own public. Characteristic and reasoning of culture makes form and motivation of resistance of public becomes different pattern in every area. From result of research and hereinafter is done analysis, hence writer finds that there is initial situation causing incidence of social prejudice in the middle of public to presence of mining project of iron sand as result of not maximum information and socialization done by the side of local government before the project plan is raised. Social prejudice that is increasingly strong makes various steps to start project of mining always meets blocked step.

Kata Kunci : Konflik,Prasangka sosial,Penolakan masyarakat ;conflict, social prejudice, rejection by public


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.