Laporkan Masalah

Perencanaan dan penganggaran pertahanan :: Strategi peningkatan penangkalan wilayah perbatasan laut Propinsi Kepualauan Riau

MOELJADI, Prof. Dr. Irwan Abdullah

2009 | Tesis | S2 Ketahanan Nasional

Letak geografis suatu wilayah sangat menentukan posisi daya tangkal (deterrence) negara, mempunyai letak yang sangat strategis dibandingkan dengan wilayah lainnya. Kepulauan Riau yang mempunyai wilayah lautan yang berbatasan dengan 4 negara tetangga, Malaysia, Singapura, Vietnam, dan Sabah. Setiap program yang akan dilaksanakan dan pendanaan pembangunan harus benar-benar diperhitungkan dengan posisinya yang strategis ini, karena dapat menimbulkan daya tangkal negara. Seperti halnya pembangunan yang dilakukan negara lain, Sabah, negara bagian Malaysia, saat ini telah membangun jalan bebas hambatan (highway) di wilayah perbatasan dengan wilayah Indonesia yang dapat mengakibatkan daya tangkal negara tersebut lebih baik dibandingkan dengan NKRI, karena dibandingkan pembangunan yang ada daerah perbatasan di Kalbar relatif masih tertinggal. Pembangunan wilayah lautan di Kepulauan Riau juga relatif tertinggal dibandingkan pembangunan di negara Singapura, karena kebijakan pembangunan daerah di propinsi ini masih belum mengutamakan faktor deterrence wilayah tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui secara mendalam proses perenca-naan pembangunan dan perencanaan anggaran pertahanan di wilayah perbatasan, mempelajari faktor-faktor apa yang menentukan keberhasilan perencanaan anggaran di wilayah perbatasan. Dan memberikan saran strategi perencanaan dan pengelolaan anggaran pertahanan di wilayah perbatasan yang lebih tepat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam proses perencanaan & anggaran pertahanan yang ada di daerah ini, dan terutama jika dikaitkan dengan peningkatan detterence, serta dalam menghadapi perkembangan ekonomi di wilayah perbatasan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kwalitatif deskriptif, artinya menggunakan pengamatan fakta dan data untuk diambil kesimpulan (penelitian induktif). Dengan metode penyimpulan seperti ini akan bisa diperoleh gambaran proses perencanaan dan penganggaran dan diberikan saran strategi yang tepat untuk mengatasi peningkatan deterrence. Hasil-hasil penelitian, menunjukkan perencanaan dan penganggaran yang dilakukan pusat dan daerah selama ini masih belum dapat meningkatkan deterrence. Hal ini disebabkan kebijakan yang diambil oleh perencana dan penganggaran daerah dan pusat belum menempatkan faktor deterrence ini dalam prioritas, disamping pemanfaatan dana masih belum dapat efisien. Sehingga diperlukan relokasi penentuan anggaran dan perlunya perubahan visi dan misi perencanaan pertahanan ini untuk mengadakan perubahan dalam penyusunan prioritas utama dalam pembangunan pusat dan daerah, karena wilayah perbatasan menjadi komponen penting dalam pertahanan negara, apalagi dalam menghadapi pembangunan wilayah perbatasan negara, yang nampaknya negara-negara tetangga mempunyai strategi yang lebih deterrence offensive. Visi dan misi kepala derah di daerah terdepan harus lebih mengutamakan perencanaan wilayah yang dapat menciptakan detterence, dengan mengaplikasikan konsep perencanaan wilayah. Model perencanaan pembangunan mendatang harus memprioritas-kan pembangunan wilayah perbatasan, dan menjadikan wilayah perbatasan menjadi wilayah terdepan dalam menghadapi perkembangan pembangunan negara lain. Dengan model perencanaan seperti ini akan dapat meningkatkan deterrence dan pertahanan suatu negara, yang pada akhirnya dapat meningkatkan ketahanan nasional.

A geographic position of a region is somewhat very establishing in terms of the deterrence position of the country, where it is very strategic compared to the other regions. Riau archipelagoes (Kepri) has a sea territorial which is within bounds of four neighbor countries; Malaysia, Singapore, Vietnam, and Sabah. Each program that is going to be conducted and the development budget has to really be accounted by considering this strategic position because this can formulated the country’s deterrence position. Like those development done by Sabah, a country district of Malaysia; today they have built highways at the border area which can craft a better country deterrence position compared to Indonesia, where the development within West Kalimantan Province is still relatively left behind. The development of Kepri sea territorial is also relatively left behind compared to the development in Singapore, as the district development policies in this province is still unprioritized the region deterrence factor. The aim of this study is to distinguish more the process of the development contemplation and defense budget planning on the border areas, analyzing factors which can determine the achievement of the planning and defense budgeting management in the border areas, and to give a more appropriate planning strategy and budgeting management ideas that suit for border areas. This study is hope to contribute benefits for planning and defense budgeting process in Kepri, particularly if related to the enhancement of country deterrence position, as well as to provide inputs in developing the economics within the border areas. Research method used in this study is descriptive qualitative. This research exploits facts observation and data to reach a conclusion (inductive study). Such conclusion method will produce planning and budgeting process descriptions so that it can give inputs to a better strategies in enhancing deterrence. The result indicates that the planning and budgeting that has been prepared through all this time by government or the province is still unable to enhance deterrence. Policies taken by government and the province are still having not posted deterrence as the main priority, beside the inefficiency that is still occur in exercising the budget for the province development. Therefore, relocation of budgeting and changes in vision and mission of defense planning are needed to boost adjustment in constructing priority scales for central and region or province development. This is because border areas have been an important element for country defense, especially in facing the development of country’s border areas and avoiding the influence of neighbor countries which employ deterrence offensive strategies. Vision and mission of the governors of the forefront provinces has to give priority to the planning of the region itself which can create deterrence such as by building the region planning concept. The future model of the development planning has to prioritize the developing of border areas and making them as the forefront regions in responding the progress of the development in the neighbor countries. With such planning model, it is hope that it can increase deterrence and defense of a country, and finally enhance the national endurance.

Kata Kunci : Visi pimpinan,Prioritas pendanaan,Daya tangkal,Leaders vision, budgeting priority,deterrence


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.