Laporkan Masalah

Pengaruh konsentrasi zat pengatur tumbuh napthalene acetic acid dan kinetin terhadap induksi embriogenesis somatik fase globular tanaman lamtoro (Leucaena leucocephala)

SAPSUHA, Yusri, Prof. Ir. R. Djoko Soetrisno, M.Sc., PhD

2009 | Tesis | S2 Ilmu Peternakan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai konsentrasi 2,4-D (dichloropenoxy acetic acid) yaitu 0, 1, 2, 3, 4 dan 5 mg/l terhadap pembentukkan kalus dan proses embriogenesis somatik menggunakan zat pengatur tumbuh NAA (naphthaleneacetic acid) dan kinetin dengan konsentrasi 0, 0,5, 1,0, 1,5 dan 2,0 mg/l untuk tanaman lamtoro (Leucaena leucocephala). Pengamatan dilakukan terhadap waktu inisiasi kalus, persentase serta visual kalus yang terbentuk, sedangkan Parameter yang diamati untuk embriogenesis somatik meliputi jumlah embrio somatik, dan saat tumbuh embrio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase pembentukan kalus bervariasi dari 29,34% (1 mg 2,4- D/l) pada minggu pertama (kalus berwarna putih, remah) sampai dengan 83,67% (4 mg 2,4-D/l) pada minggu keempat (kalus berwarna putih kekuningan, kompak), dan jumlah embrio somatik fase globular juga bervariasi dari 19,33±2,52 (2 mg NAA dan 0 mg kinetin/l) sampai dengan 81,33±11,50 (1,5 mg NAA dan 2,0 mg kinetin/l). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perlakuan yang optimal untuk menginduksi kalus tanaman lamtoro diperoleh pada konsentrasi 4 mg/l 2,4- D. Kombinasi fitohormon NAA dan kinetin yang optimal dalam pembentukan embrio somatik adalah 1,5 mg/l NAA dan 2,0 mg/l kinetin.

This research aimed to determine the effect of various concentrations (0, 1, 2, 3, 4 and 5 mg/l) of 2,4-D (dichloropenoxy acetic acid) on callus induction of Leucaena leucocephala (Lamtoro) and its somatic embryogenesis stimulated using different concentrations of 0, 0.5, 1.0, 1.5 and 2.0 mg/l growth regulators, namely NAA (Naphthaleneacetic acid) and kinetin. Percentage of callus were measured and somatic embryogenesis from callus were subjected to description analysis. The results showed that callus percentage were varied from 29.34% (1 mg 2,4- D/l) at first week (white color and crumb) to 83.67% (4 mg 2,4-D/l) at fourth week (white yellowish color and compact), and embryo somatic varied from 19.33±2.52 (2 mg NAA and 0 mg kinetin/l) to 81.33±11.50 (1.5 mg NAA dan 2.0 mg kinetin/l). It can be concluded that optimum callus induction (83.67%) was recorded when concentration of 2,4-D was given at the rate of 4 mg/l. The largest number of embryos in concentration of 1.5 mg/l NAA and 2.0 mg/l kinetin, and embryo somatic 81.33±11.50.

Kata Kunci : Lamtoro,In vitro,Kalus,Embriogenesis somatik, Leucaena leucocephala, In vitro, Callus, Embryogenesis somatic.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.