Hubungan antara gangguan pendengaran karena paparan kebisingan dengan perilaku pemakaian alat pelindung diri pada karyawan di ruang tenun PT. Cambrics Primissima Yogyakarta
SETIADI, Gunung, Prof. Dr. dr. Adi Heru Sutomo, M.Sc
2009 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan KerjaPendahuluan. Proses produksi yang telah menggunakan teknologi maju di PT. Primissima tidak dapat terhindar dari akibat buruk yang ditimbulkan bagi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja. Berdasarkan pengamatan departemen weaving memiliki Nilai AMbang Batas yang tinggi yaitu di atas 85 dBA. Hal ini tidak sesuai dengan yang ditentukan oleh Keputusan Menteri Tenaga Kerja yaitu KEP/51/MEN/1999 dimana Nilai Ambang Batas (NAB) di tempat kerja adalah 85 dBA. Perusahaan telah memberikan alat pelindung telinga, tetapi hanya berupa kapas, sementara itu earplug tidak tersedia. Adanya perilaku pekerja yang enggan menggunakan alat pelindung telinga menyebebkan gangguan pendengaran pada beberapa pekerja di perusahaan tersebut. Tujuan Penelitian. Untuk mengetahui pengaruh paparan kebisingan dan gangguan pendengaran telinga terhadap perilaku pemakaian alat pelindung diri di PT. Cambrics Primissima Yogyakarta. Metode Penelitian. Menggunakan metode penelitian observational dengan rancangan penelitian cross sectional yaitu observasi sekaligus pada satu saat, tiap subyek hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variable subyek pada saat pemeriksaan. Jumlah sampel sebanyak 43 orang. Hasil. Setelah dilakukan uji f didapat nilai F hitung sebesar 5,328 dengan tingkat signifikansi 0,026. Nilai signifikansinya 0,026 < 0,05 maka H diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi bisa dipakai untuk memprediksi bahwa gangguan pendengaran berhubungan dengan perilaku pemakaian alat pelindung diri. Kesimpulan. Penelitian ini menunjukkan bahwa besarnya hubungan gangguan pendengaran terhadap perilaku pemakaian alat pelindung diri yang terjadi pada tenaga kerja PT. Primissima hanya 11,5%. Hal ini menunjukkan bahwa faktor gangguan pendengaran hanya 11,5% mempengaruhi perilaku pemakaian alat pelindung diri, sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Faktor lain seperti kelelahan kerja, lamanya paparan kebisingan, lamanya masa kerja, memiliki riwayat penyakit (seperti sakit jantung). Faktor lain akibat dari gangguan pendengaran yang terjadi pada tenaga kerja di PT. Primissima adalah sarana alat pelindung diri tidak memadai. Saran. Adanya monitor dari PT. Primissima terhadap pengendalian kebisingan dan perilaku pekerja dalam memakai alat pelindung diri. Menjadwalkan tes audiogram untuk pekerja setiap tahunnya. Melakukan pengendalian teknik dan melakukan pengendalian administrative dengan melakukan rolling bagi pekerja. Sehingga pekerja yang berada di ruangan bising tidak selamanya bekerja di ruangan tersebut, tetapi dapat dipindahkan ke ruangan lain yang tingkat kebisingannya masih di bawah ambang batas.
Background: Production process that uses advanced technology at PT. Primissima undeniably can bring bad impact to occupational health and safety of workers. Preliminary observation to weaving department shows high score of permissible limit i.e. over 85 dBA. This is irrelevant with the decree of the Ministry of Manpower No. KEP/51/MEN 1999 whereby the permissible limit in the work place is 85dBA. The company has provided ear protection device; however it is only temporary cotton without earplug. Some workers are unwilling to wear ear protection device causing hearing disorder in some workers at the company. Objective: To identify the effect of noise exposure and hearing disorder and behavior of using self protection device at PT. Cambrics Primissima Yogyakarta. Method: The study used observational method and cross sectional design. Observation was done in one period, once for each subject and measurement was made to status of the character or variable of subject during the examination. There were as many as 43 samples. Result: The result of f test showed Fcalculation: 5.823 at significance 0.026. The significance 0.026 was <0.05; thus H was accepted and it could be concluded that the regression model could be used to assume that hearing disorder was associated with behavior in using self protection device. Conclusion: The study showed the degree of association between hearing loss and behavior in using self protection device among workers at PT. Primissima was only as much as 11.5%. This indicated that factor of hearing disorder affected only as much as 11.5% to the behavior in using self protection device, and the rest was affected by other factors such as fatique, duration of noise exposure, duration in occupation, co-existing disease (heart disease). Another factor causing hearing disorder among workers of PT. Primissima was inadequate self protection device. Suggestion: There should be monitoring from PT. Primissima on noise control and behavior of workers in using self protection device; annual audiogram test workers; technical and administrative control through rolling of workers. So workers would not work at the noisy room for so long, they could be rotated to work at other rooms with permissible noise limit.
Kata Kunci : Gangguan pendengaran,Paparan kebisingan,Alat pelindung diri,Kesehatan pekerja,Hearing disorder,noise exposure,self protection device,occupational health