Laporkan Masalah

Analisis motivasi tenaga perawat di puskesmas dan puskesmas pembantu melanjutkan pendidikan di Kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau

MANAF, Lisnar, Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc., Ph.D

2009 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar belakang: Pelaksanaan otonomi daerah yang dituangkan dalam Undang-undang No 32 Tahun 2004 dan Undang-undang No. 33 Tahun 2004 cukup luas, jelas dan utuh menjelaskan tentang penerapan azas desentralisasi. Dengan kedua Undang-Undang tersebut maka pemerintah Kabupaten/Kota mempunyai otonomi dalam mengatur sumber dana atau keuangan dan sumberdaya ilmu pengetahuan/teknologi (termasuk investasi sarana/prasarana). Saat ini yang paling mendesak untuk dilakukan adalah peningkatan keterampilan dan pemberdayaan sumberdaya manusia khususnya tenaga perawat. Harapannya agar terbentuk tenaga perawat yang profesional. Kabupaten Indragiri Hulu sendiri saat ini masih memiliki 81 (39,32 %) tenaga perawat yang masih berijazah SPK. Ada indikasi bahwa perawat dengan lulusan SPK enggan untuk melanjutkan pendidikan ke D III Keperawatan. Tujuan penelitian: Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab keengganan tenaga perawat (lulusan SPK) yang bertugas di puskesmas dan puskesmas pembantu di Wilayah Kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau untuk melanjutkan pendidikan ke D III keperawatan. Metode penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian deskriftif dengan rancangan cross sectional menggunakan metode kualitatif untuk memperoleh informasi lengkap mengenai gejala-gejala yang ada dalam kehidupan masyarakat yang diteliti, sesuai dengan sasaran atau masalah penelitian Hasil: Berdasarkan penelitian, belum ada kebijakan secara tertulis yang mengatur secara khusus tentang perawat yang lulusan SPK untuk melanjutkan pendidikan ke D III Keperawatan. Saat ini perawat yang hendak melanjutkan pendidikan membuat proposal yang diajukan ke Pemkab. Tujuannya adalah untuk meminta bantuan dana pendidikan dan izin tugas belajar jika seandainya diterima. Tidak adanya kebijakan tersebut mengakibatkan tidak ada pula bantuan dana kepada perawat yang hendak melanjutkan pendidikan. Walaupun ada bantuan, tetapi bantuan tersebut tidak sepenuhnya dipenuhi Pemkab. Sementara itu, dorongan keluarga umumnya hal yang penting jika perawat tersebut hendak melanjutkan pendidikan. Dorongan keluarga dapat berbentuk secara lisan maupun tertulis. Umumnya perawat menyukai jika izin dari keluarga dalam bentuk tertulis, hal ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di masa yang akan datang. Kesimpulan: Motivasi perawat umumnya tinggi. Walaupun belum adanya kebijakan secara tertulis. Sementara itu perawat berharap bahwa biaya pendidikan dapat dibantu sepenuhnya oleh Pemkab maupun Dinas Kesehatan. Dorongan keluarga merupakan salah satu yang terpenting. Artinya jika tidak adanya izin keluarga, perawat enggan untuk melanjutkan pendidikannya. Tetapi hal ini tidak mutlak sebab walaupun ada izin dari keluarga belum tentu perawat tersebut mau untuk melanjutkan pendidikannya.

Background: Local autonomy as stated in Act No. 32/2004 and Act No. 33/2004 clearly and comprehensively explained the implementation of decentralization. Based on the two acts district/municipal governments have autonomy to manage financial resources and knowledge/technological resources (including investment on facilities). Presently the most urgent to do is increasing skills and human resource empowerment particularly nurses, in order to ensure nurse professionalism. At District of Indragiri Hulu there are 81 (39.32%) nurses with Diploma I certificate. There is an indication that they are unwilling to continue their education to Diploma III Nursing. Objective: To identify factors causing unwillingness of Diploma I nursing graduates working at the health center and secondary health center in the district area of Indragiri Hulu, Province of Riau to continue education to Diploma III nursing. Method: This descriptive study used a cross sectional design and qualitative method to obtain complete information on phenomena in the community observed according to target or problem of the study. Result: There was no written policy that specially regulated nurses of Diploma I graduates to continue education to Diploma III Nursing. Nurses who wanted to continue education wrote a proposal to the district government for educational finance and permit to continue education when accepted. Absence of such a policy resulted in absence of financial support for nurses who wanted to continue education. When there was financial support it was not given in full. Meanwhile family support was also important for nurses to continue education. Family support would be in oral or written form. Generally nurses preferred written permit from the family to avoid the unexpected in the future. Conclusion: Nurses' motivation was generally high despite absence of written policy. Meanwhile nurses expected the fund for continuing education could be fully supported by the local government or health office. Support from the family was also important. Nurses were unwilling to continue education when there was absence of family support. However this might be relative; although there was family support nurses might be unwilling to continue education.

Kata Kunci : Perawat,Pendidikan lanjutan,motivasi,nurses,continuing education,motivation


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.