Laporkan Masalah

Pengembangan kawasan pariwisata terpadu sebagai strategi pertumbuhan pusat kegiatan pariwisata di Yogyakarta :: Studi kasus kawasan Segitiga Gabusan Manding Tembi

SUDARTA, Made, Prof. Ir. Wiendu Nuryanti, M.Arch., Ph.D

2009 | Tesis | S2 Teknik Arsitektur MPAR

Gabusan, Manding, Tembi (GMT) adalah sebuah klaster baru pariwisata di Yogyakarta yang diresmikan oleh Gubernur DIY pada tahun 2007, terletak di Kabupaten Bantul. Sejak diresmikan GMT tidak mengalami perkembangan yang signifikan, bahkan beberapa pihak menilai GMT tidak atau kurang berhasil. Dalam kurun waktu selama kurang lebih 3 tahun, segenap pihak seperti pemda, masyarakat, dan pelaku usaha telah berupaya mensukseskan GMT sebagai salah satu produk unggulan. Akan tetapi berbagai keterbatasan sumberdaya menyebabkan kawasan GMT kurang berkembang. Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan terhadap pihak pemda, masyarakat, wisatawan, dan pelaku usaha diketahui bahwa dalam aspek aksesibilitas, atraksi dan daya tarik wisata, sarana dan prasarana pendukung, promosi dan pemasaran, kebijakan, dan nilai manfaatnya bagi masyarakat, secara umum adalah baik. Namun demikian, apa yang dilakukan terhadap komponenkomponen tersebut masih sangat terbatas atau bahkan kurang, sehingga yang terjadi GMT belum mampu menggerakan kunjungan wisatawan ke kawasan ini. Faktor-faktor sumberdaya yang kurang terkait dengan pengembangan kawasan ini adalah terbatasnya anggaran dari pemerintah daerah, minimnya sumberdaya yang terlibat, dan rendahnya antusiasme dari para pelaku usaha/ masyarakat karena cenderung hanya menunggu program dan fasilitasi dari pemerintah. Dalam konteks kebijakan pendukung, GMT berada pada posisi lokasi yang sangat strategis yang sangat memungkinkan kawasan ini dapat berkembang lagi kemudian. Kedudukannya pada jalur utama Yogya – Parangtritis merupakan keunggulan tersendiri. Selain itu aspek akses dan posisi GMT sebagai kawasan wisata budaya dengan basis kerajinan yang kompleks dan komplementer dengan obyek-obyek di sekitarnya, aspek kejenuhan terhadap produk pariwisata konvensional di DIY, serta persaingan antar destinasi adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kawasan ini ke depan. Penggabungan secara komplementer dengan potensi obyek-obyek wisata di sekitarnya (lokal – Bantul dan regional DIY) akan sangat membantuk mengangkat posisi GMT sebagai salah satu destinasi wisata potensial di DIY.

Gabusan, Manding, Tembi (GMT) is a new tourism cluster was officially launched by Governor of Yogyakarta Special Province in 2007, it was located at Bantul Regency. GMT was judged has no significant growth, even some opinion said that GMT is failed. In almost three years, the stakeholders such as local government, community, and industry has been try to support to success GMT as a main attraction. However, lack of any resources indicate as the main cause of unsuccess of GMT . Based on evaluation by local government, communities, tourists, and industry was known, that the majority of destination aspect such as accesibilities, attraction and tourism object, infrastructure, promotion and marketing, policy, and the benefit for local community, is generally good. However, the effort from the stakeholders is being just a bit part of the needs of development, GMT could not attract the tourists to visit, yet. Some factor that influenced of unsucces of GMT including the limited budget from the government, lack of resources such as human resource, lower anthusiasm from the communities and industry. They are tend to be waited the facilitating program from the government, rather than initiative to promote GMT. Based on related tourism policy in Bantul Regency, GMT was actually has strategic position which give possibilities for advance development in the future. The location which nearby main acces of Yogya – Parangtritis is one of competitive factor. Other factors such as positioning GMT as a culture tourism area which some potential craft product and complementary by some tourism object, chance of market saturation for conventional product in Yogyakarta, destination competitiveness are being influenced for developing GMT in the future. The compilation of the potential resources of GMT with other tourism attractions (both local Bantul and regional Yogyakarta) is an opportunities to endorse the positioning of GMT as a potential tourism destination in Yogyakarta.

Kata Kunci : Klaster pariwisata,Sumberdaya, tourism cluster, resources


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.