Pengembangan angkutan pemadu moda di Bandara Adisutjipto Yogyakarta
SANTOSO, Teguh Ilman, Prof. Ir. Sigit Priyanto, M.Sc., Ph.D
2009 | Tesis | S2 Magister Sistem dan Teknik TransportasiTren perkembangan jumlah penumpang angkutan udara di Bandara Internasional Adisutjipto dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan sehingga diperlukan fasilitas layanan angkutan darat yang mampu mencukupi peningkatan kebutuhan tersebut. Namun, penyediaan layanan angkutan umum seperti kereta api dan Trans Jogja di bandara belum dimanfaatkan secara efektif oleh penumpang angkutan udara. Sebagian besar penumpang angkutan udara masih menggunakan kendaraan pribadi untuk dari/menuju Bandara Internasional Adisutjipto dengan prosentase mencapai 43.58%. Hal ini disebabkan disamping kondisi pelayanan yang ada belum terintegrasi dengan baik, serta kualitas layanan yang diberikan tidak sesuai dengan keinginan pengguna angkutan udara juga karena layanan yang ada belum dapat menjangkau seluruh wilayah baik di dalam maupun di luar Provinsi DI. Yogyakarta. Oleh karena itu perlu dilakukan usahausaha dalam rangka mengembangkan jaringan trayek angkutan pemadu moda di Bandara Internasional Adisutjipto. Studi ini mencoba mengembangkan angkutan pemadu moda melalui perencanaan jaringan trayek dan kebutuhan angkutan berdasarkan pada potensi permintaan angkutan yang ada. Metode yang digunakan adalah metode perencanaan transportasi yang berdasar pada analisis jaringan trayek serta kebijakan-kebijakan pemerintah dan peraturan perundangan yang berlaku. Untuk keperluan analisis dilakukan survai wawancara langsung pada 390 responden yang mewakili penumpang angkutan udara. Kemudian dilakukan analisis potensi permintaan, distribusi perjalanan, jaringan trayek dan kebutuhan angkutan. Hasil penelitian ini menunjukkan banyak daerah yang memiliki potensi permintaan cukup tinggi namun belum terlayani oleh angkutan pemadu moda. Daerah tersebut terbagi menjadi 2 wilayah yaitu wilayah di dalam Provinsi DI. Yogyakarta yaitu Sleman yang memiliki potensi permintaan 25.38%, Bantul (12.82%), Kulonprogo (2.05%), Gunungkidul (2.05%) dan wilayah di luar Provinsi DI. Yogyakarta yaitu Magelang (4.62%), Klaten (3.59%), Temanggung (2.56%), Solo (2.31%) serta Purworejo dan Sragen masing-masing 1.28%. Pada daerah-daerah potensial tersebut, selanjutnya ditentukan 8 trayek pemadu moda yang terdiri dari 5 trayek pemadu moda perkotaan yaitu BAS-Bantul, BASSleman, BAS-Wates, BAS-Wonosari dan BAS-Pakem dan 3 trayek pemadu moda AKAP yaitu BAS-Temanggung, BAS-Solo, BAS-Kebumen dengan prediksi jumlah penumpang yang dapat terlayani sebanyak 3.402 penumpang/hari. Jumlah kebutuhan angkutan untuk melayani penumpang tersebut sebanyak 101 kendaraan.
The trend of air transport passenger number at International Airport of Adisutjipto continually increasing, so it is necessary to provide land transportation service facilities that can suffice the needs. But, public transport service providing as train and Trans Jogja at airport was not utilized effectively yet by air transport passengers. Most of air transport passengers still use private vehicle for of / making for Adisutjipto's International Airport by 43.58%. It is caused of beside the services that are not integrated yet and service quality that are not appropriate with the air transport user, but also because of the service can't cover all the regions yet, not only in the Province DI.Yogyakarta region but also outer regions of that province. Therefore needs to be done the effort in order to develop inter mode route networks at Adisutjipto's International Airport. This study tries to develop inter mode transport by route network and transport needs planning based on existing transport demand. Method that is used is transportation planning methods based on route network analysis, government policies and recent regulation. For analysis's process, it was done the interview survey on 390 respondents that represent air transport passengers. From the survey results then done the analysis of demand potency, trip distribution, route network and transportation needs. This observational result points out a lot of regions that have high enough demand potency of inter mode transport but haven't serviced. That region is divided to be 2 regions that are regions in Province DI.Yogyakarta (Sleman that has demand potency 25.38%, Bantul (12. 82%), Kulonprogo (2. 05%), Gunungkidul (2. 05%)) and outer region of Provinces DI.Yogyakarta (Magelang (4. 62%), Klaten (3. 59%), Temanggung (2. 56%), Solo (2. 31%) and Purworejo and Sragen each 1.28%). On that potential regions, then determined 8 inter mode routes consisting of 5 urban inter mode routes, that is BAS-Bantul, BAS-Sleman, BAS-Wates, BAS-Wonosari and BAS-Pakem and 3 AKAP'S inter mode routes, that is BAS-Temanggung, BAS-Solo, BAS-Kebumen with total passenger prediction that can be serviced are about 3.402 passengers / days. Total transport needs to service that passenger is about 101 vehicles.
Kata Kunci : Jumlah penumpang angkutan udara,Angkutan pemandu moda,Analisis jaringan trayek,Kebutuhan angkutan, air transport passenger number, inter mode transport, route network analysis, transport needs