Laporkan Masalah

Analisis pendapatan usaha budidaya ikan dengan keramba :: Studi pada Kecamatan Arut Selatan Kabupaten Kotawaringin Barat, 2009

HADI, Amir, Dr. Soeratno, M.Ec

2009 | Tesis | S2 Magister Ekonomika Pembangunan

Penelitian ini bertujuan untuk (1) menghitung besarnya penerimaan pembudidaya ikan dengan keramba, per unit keramba, per periode produksi, (2) menganalisis pengaruh faktor-faktor (biaya pakan, biaya bibit, tingkat pendidikan, lama pengalaman dan tingkat kematian ikan) terhadap penerimaan atau pendapatan kotor pembudidaya ikan dengan keramba, (3) menghitung besarnya pendapatan atau laba pembudidaya ikan dengan keramba per unit keramba, per periode produksi. Penelitian dilakukan di Kecamatan Arut Selatan Kabupaten Kotawaringin Barat pada bulan September dan Oktober 2009. Data yang digunakan adalah data primer yang diambil dari 60 orang sampel pembudidaya ikan dengan keramba. Faktor-faktor yang dianggap berpengaruh terhadap penerimaan petani keramba bersifat konfirmatori. Alat analisis yang digunakan adalah fungsi penerimaan, regresi berganda (OLS), dan fungsi pendapatan. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa penerimaan atau pendapatan kotor pembudidaya ikan dengan keramba di Kecamatan Arut Selatan per unit keramba sebesar Rp6.322.800, untuk sekali periode produksi. Dari hasil analisis regresi diketahui bahwa faktor biaya pakan, biaya bibit, pendidikan, dan pengalaman berpengaruh positif dan siknifikan terhadap penerimaan pembudidaya ikan dengan keramba, sedangkan tingkat kematian ikan berpengaruh negatif dan siknifikan terhadap penerimaan pembudidaya ikan dengan keramba. Pendapatan atau laba untuk satu unit keramba per periode produksi sebesar Rp1.143.506. Proporsi pendapatn terhadap biaya sebesar 0,22. Dibandingkan dengan proporsi analisis pendapatan pembudidaya ikan dengan keramba yang dilakukan oleh Departemen Kelautan dan Perikanan sebesar 0,68, maka proporsi pendapatan terhadap biaya di Kecamatan Arut Selatan lebih kecil. Ini artinya terjadi inefisiensi pembudidaya ikan dengan keramba di Kecamatan Arut Selatan. Hasil studi ini menyarankan beberapa hal antara lain (1) agar pemeritah mengoptimalkan BBI untuk menyediakan bibit ikan yang dibutuhkan oleh pembudidaya sesuai dengan standar; (2) Pemda melalui Dinas Perikanan dan Kelautan mengoptimalkan penggunaan mesin pakan yang ada di BBI untuk memenuhi kebutuhan pakan pembudidaya, serta memberikan pelatihan cara-cara pembuatan pakan secara sederhana; (3) harus ada koordinasi lintas instansi (Dinas Perikanan dan Kelautan, Bapedalda dan Lingkungan Hidup, Bagian Hukum Setda, Satpol PP, dan Kepolisian) untuk menjaga kondisi perairan agar bisa dimanfaatkan secara optimal untuk pembangunan yang berkelanjutan.

This study aims to (1) calculate the amount of revenue of fish farmers using keramba, per unit of keramba, per period of production, (2) analyze the influence of some factors such as (cost of feed, cost of breed, level of education, long experience and level of fishing death) toward the revenue or gross income of keramba fish farmers, (3) calculate the amount of income or profits of keramba fish farmers per unit of keramba, per period of production. This research is conducted in South Arut Sub District, West Kotawaringin regency in September and October 2009. The data used consist of primary data which are taken from 60 samples of keramba fish farmers. The factors that are considered influential to the income of keramba fish farmers have confirmatory characteristics. The analysis instrument used is revenue function, multiple regression (OLS), and the income function. The calculations show that the revenue or gross income of keramba fish farmers in South Arut sub district per unit of keramba is Rp6,322,800, for one production period. Based on the results of regression analysis, it is found out that the factors of food cost, the cost of breed, education, and experience give positive and significant influence toward the revenue of keramba fish farmers, while the death rate negatively and significantly affect the revenues of keramba fish farmers. The income or profit for one unit keramba per production period is Rp1,143,506. The proportion of revenues to the cost is 0.22. Compared to the proportion of income analysis of keramba fish farmers which is conducted by the Ministry of Marine Affairs and Fisheries which is 0.68, the proportion of income to the cost in the Sub district of South Arut is smaller. This means that there is inefficiency in the keramba fish farmers in the District of South Arut. The results of this study suggest several things such as (1) the government should optimize BBI to provide fish breed needed by fish farmers based on the standards; (2) the local government through the Office of Marine and Fishing should optimize the use of feed machines in BBI to fulfill food needs, and provide a training on how to make simple food; (3) there must be cross-instances coordination (the Office of Marine and Fishing, Bapedalda and Environment, Law division of regional secretariat, Satpol PP, and the police) to keep the water conditions in order to be optimally utilized for sustainable development.

Kata Kunci : Budidaya,Keramba,Penerimaan,Pendapatan,cultivation,cultivation using keramba,revenue and income


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.