Perbandingan antara rasio kas, rasio lancar dan siklus konversi kas sebagai alat ukur likuiditas keuangan :: Studi kasus perusahaan pembangkit tenaga listrik
INDRIANI, Noesita, Jogiyanto Hartono, Prof., Dr., MBA
2009 | Tesis | S2 Magister ManajemenLikuiditas keuangan telah diidentifikasikan sebagai risiko utama dan sekaligus menjadi faktor yang sangat penting dalam mendukung kelangsungan usaha dan daya saing PT. X, yang bergerak di bidang pembangkit tenaga listrik. Oleh karena itu, metode pengukuran dan analisis tingkat likuiditas yang tepat sangat diperlukan guna mengelola modal kerja dan menjaga likuiditas keuangan secara efektif. Ukuran likuiditas yang selama ini digunakan untuk menyatakan tingkat kesehatan keuangan PT. X adalah rasio lancar dan rasio kas. Namun, mengingat pola penerimaan kas serta tantangan usaha yang dihadapi PT. X, serta mempertimbangkan beberapa pendapat dan teori mengenai kelemahan yang ada pada indikator berbasis neraca tersebut, maka dalam penelitian ini akan dilakukan studi banding antara rasio lancar, rasio kas dengan siklus konversi kas (cash conversion cycle). Siklus konversi kas merupakan indikator likuditas yang bersifat dinamis yang menitik beratkan pengukuran likuiditas kepada aktivitas operasi. Dalam penelitian ini ingin disimpulkan, apakah siklus konversi kas dapat lebih efektif mendukung manajemen puncak dan share holder PT. X dalam mengevaluasi serta mengendalikan kondisi likuiditas keuangan perusahaan. Penelitian dilakukan melalui analisis kuantitatif yang didasarkan pada data historis PT. X, serta analisis kualitatif yang merupakan kajian mendalam atas karakteristik dan fenomena yang terjadi selama periode amatan. Kriteria perbandingan adalah keefektivan alat ukur, yang dilihat dari akurasi, konsistensi dan predictive ability (kemampuan memprediksi) atas kapasitas perusahaan untuk menghasilkan kas serta tingkat keuntungan yang diharapkan di masa yang akan datang. Terlepas dari keterbatasan rujukan pada industri yang sama, hasil penelitian ini mendukung teori maupun hasil penelitian-penelitian sebelumnya, yang menggarisbawahi pentingnya PT. X memanfaatan siklus konversi kas sebagai komplemen terhadap rasio lancar dan rasio kas, sebagai indikator likuiditas keuangan untuk mendukung manajemen modal kerja serta mendukung mitigasi risiko likuiditas yang lebih baik.
Financial liquidity had been identified as PT. X’s key risk, as well as key enabler to support its sustainability and strategic competitive advantage in electricity and power generation industry. Hence, an appropriate liquidity measure and analysis tool shall act as key support for an effective liquidity management. Traditional and static measure of liquidity, in this case current ratio and cash ratio, had been the main analysis tools used by the top management and shareholder to assess PT.X’s financial soundness. However, considering its receipt and disbursement pattern and key strategic challenges that PT. X have to deal in the near future, and considering the fact that there is a significant downturn to those static measures theoretically, that this research is becoming an important breakthrough. This research will perform a thorough comparison between the static liquidity ratio and cash conversion cycle, a dynamic liquidity measure that offers more accurate perspectives of the individual flow of each current asset as it progress towards liquidity in the form of collections and deposits. It is stated that the aim of this research is to conclude the importance of cash conversion cycle to be used as the company’s liquidity measure. Quantitative analysis will be performed using three main comparison criteria, namely accuracy, consistency and the ability to predict the capacity to generate cash and achieve profitability in the future. Qualitative analysis will also be carried out, provided that this research is a case study research, and an in depth study of the company is necessary to enhance the quality of the conclusion. Despite its lack of industry benchmark information, the result of this research will support theories and earlier research, that at a minimum, the cash conversion cycle is a necessary complement to liquidity analysis that can offer important insights into both operational and strategic aspects of business, and supporting the effectiveness of working capital managemen as well as liquidity risk mitigation.
Kata Kunci : manajemen modal kerja, siklus konversi kas, predictive ability, likuiditas, working capital management, cash conversion cycle, liquidity