Analisis kewajaran nilai ekuitas sebagai dasar untuk penentuan proporsi kepemilikan yang akan ditawarkan kepada pemodal publik :: Studi kasus pada PT Asuransi Jasa Indonesia
RAHARJO, Sigit, Suad Husnan, Dr., MBA
2009 | Tesis | S2 Magister ManajemenSetiap perusahaan selalu dituntut untuk memberikan keuntungan yang maksimal bagi pemiliknya. Untuk mencapai hal itu, perusahaan membutuhkan modal baru yang diperoleh dengan melakukan privatisasi. Pelepasan sebagian kepemilikan, bertujuan agar perusahaan menjadi semakin baik, ditandai meningkatnya nilai perusahaan. Begitu juga dengan investor baru, mereka berharap bahwa nilai sahamnya akan meningkat diwaktu yang akan datang. Sebelum melakukan privatisasi, perusahaan harus dihitung nilainya terlebih dahulu. Nilai wajar dari ekuitasnya, akan digunakan sebagai dasar untuk menentukan proporsi saham yang akan ditawarkan kepada pemodal publik. Penentuan berapa proporsi kepemilikan yang akan ditawarkan terkait dengan nilai ekuitas baru yang diharapkan oleh perusahaan. Perhitungan dilakukan dengan metode dividend discount model dan biaya modal dihitung dengan capital asset pricing model, selanjutnya dilakukan forecasting premi bruto lima tahun kedepan dengan dasar pertumbuhan premi bruto lima tahun sebelumnya. Dividend dihitung menggunakan laba perusahaan setelah dikurangi pendanaan yang diperlukan untuk mendukung peningkatan kinerja perusahaan tahun depan. Pelepasan saham sebesar 20% menghasilkan dana senilai Rp. 200 miliar, hasilnya nilai perusahaan meningkat sebesar 5,58% bagi penegang saham lama dan 14,00% bagi investor baru. Dana yang diperoleh dipergunakan untuk menambah modal yang disetor. Sesuai peraturan yang ada dengan naiknya modal yang disetor, kapasitas perusahaan asuransi (retensi sendiri) meningkat, dengan kata lain premi yang dibayarkan ke perusahaan reasuransi akan berkurang, selanjutnya premi yang diterima perusahaan akan meningkat, dengan meningkatnya premi, maka keuntungan akan meningkat.
Every company always demanded to give maximal benefit for its owner. To achieve that the company needs new capital by doing privatisation. Releasing owner proportion will make the company become better, shown by greater company value. So does the new investor who expecting that their share will increase in the future. To make privatisation, the company must be count its value first. Natural value from equity of company is used as basic to determine share proportion will be offered to public investor. Determination how much owner proportion will be offered associated with new equity value expected by company. Counting use dividend discount model with cost of capital count with capital asset pricing model and then forecasting bruto premium 5 years later with basic growth bruto premium 5 years before. Dividend count using company benefit after reduced financing needed to support company performance next year. Releasing share as much as 20% that produce fund 200 billion rupiah and the results are company value increase 5,58% for old capital holder and 14,00% for new investor. Collected fund use to add capital shed. Using rule with increasing capital shed capacity (own retension) of the company will increase, with another words the premi payed to reinsurance company will decrease, and then premium accepted by company will increase, with increasing premium the profit will increase.
Kata Kunci : Dividend discount model,CAPM,Forecasting,Retensi sendiri,Dividend Discount Model,CAPM,Forecasting dan Own Retension