Strategi peningkatan daya saing industri baja nasional
YUSNITA, Arni, Hani Handoko, Dr., MBA
2009 | Tesis | S2 Magister ManajemenPerkembangan teknologi yang sangat cepat dan globalisasi ekonomi, berdampak terhadap ketatnya persaingan dan perubahan yang sangat cepat. Strategi pembangunan industri ke depan harus mampu memprediksi dan mengadaptasi dinamika perubahanperubahan yang akan terjadi, sehingga produk-produk hasil industri ke depan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga harus memiliki keunggulan kompetitif (competitive advantage) untuk bersaing di pasar global. Salah satu tantangan bagi industri baja nasional adalah belum memiliki kemampuan pengembangan teknologi. Indonesia mempunyai kekayaan sumber daya alam berupa cadangan bijih besi, batubara dan gas alam yang besar, namun belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Oleh karena itu, perlu diupayakan pemanfaatannya untuk penguatan struktur industri baja nasional menjadi lebih berdaya saing. Hasil analisis Diamond Porter (1990) terhadap kondisi industri baja nasional, diketahui bahwa industri baja nasional masih memiliki banyak kekurangan pada setiap aspek Diamond, yaitu: a. Aspek faktor, dimana belum termanfaatkannya bahan baku lokal, masih kurangnya infrastruktur dan sarana transportasi ke daerah sumber daya, teknologi dan peralatan produksi yang sudah tua dan tidak sesuai dengan bahan baku yang ada, serta kurangnya peranan pusat penelitian dan universitas; b. Kondisi strategi perusahaan, struktur dan persaingan, dimana struktur pasar cenderung monopoli dan persaingan domestik hampir tidak ada; c. Kondisi permintaan, dimana konsumsi baja nasional masih rendah dan didominasi oleh ordinary steel yang sensitif terhadap harga, serta masalah supply dan demand yang belum seimbang dengan nilai impor yang masih tinggi; dan d. Aspek industri terkait dan industri pendukung, dimana saat ini industri baja nasional tidak mempunyai akses ke industri pertambangan, dan industri hulu (iron making) hanya ada di PT Krakatau Steel sehingga industri hulu tidak bisa memenuhi kebutuhan industri antara dan hilirnya. Dari sisi peluang, dengan adanya pergesaran produksi baja dunia ke asia terutama Cina, serta kondisi bahan baku yang mengalami shortage, maka Indonesia dengan potensi bahan baku bijih besi memiliki peluang yang sangat baik untuk meningkatkan daya saingnya di dunia internasional. Hal ini tentunya harus didukung dengan berbagai kebijakan pemerintah untuk memberikan insentif serta perlindungan yang diperlukan oleh industri. Dengan menggunakan acuan tahapan pengembangan daya saing nasional yang dikemukakan porter (1990), disusunlah peta strategi peningkatan daya saing industri baja nasional yang terdiri dari tiga tahapan dimana masing-masing tahapan memiliki jangka waktu 5 tahun. Adapun ketiga tahapan peningkatan daya saing tersebut adalah sebagai berikut: Tahap I: Peningkatan daya saing yang bersumber pada kekuatan faktor (factor driven), Tahap II: Peningkatan daya saing yang bersumber pada kekuatan investasi (investment driven), Tahap III: Peningkatan daya saing yang bersumber pada kekuatan inovasi (innovation driven).
The rapid development of technology as well as economic globalization affect the business entity to become more competitive and adaptable for every sudden change. It is also valid for future strategy of industrial development. They shall be able to predict and adapt the dynamic changes which will come in near future thus make the products from industry are not merely for domestic consumption but also have their own competitive advantages to meet the requirements of global market. One of the challenges faced by national steel industry is lack of ability for technological development. Altough Indonesia has abundant natural resources such as iron ore deposit, coal, and natural gas, the benefits which can be gained from them are not optimal yet. Any efforts should be addressed to tackle this issue in order to create the national steel industry into more competitive one. Using Porter’s Diamond (1990) as a tool to evaluate the condition of the national steel industry, it turns out that there is still a lot of weaknesses on every aspect of Diamond i.e.: a. Aspect of Factor, local raw materials do not still utilized optimally, lack of infrastructures and transportation means to reach the source of resources, technology and production facilities already ran into their aging life time and no longer fit well with available raw materials, and lack of support from research centers and universities; b. Condition of Company’s Strategy, structure and competition, the market structure tends into monopoly type with no competition in domestic market; c. Condition of Demands, low-level of steel consumption nationally and dominated by ordinary steels which have high sensitivity to price’s change, and also unbalance in supply and demand with the higher inport value; d. Aspect of Related and Supported Industry, national steel industry has no direct access to mining industry, upstream industry (iron making) only provided by PT Krakatau Steel which makes upstream industry can not fullfill the demand from intermediary and dowstream industry. From opportunity point of view, the shift of steel world production into Asia region primarily China as well as shortage in raw material condition, makes Indonesia with its abundant of iron ore deposit has the best chance to improve its competitiveness internationally. It shall be provided with goverment policies to give incentives and also protections needed by the industry. According to development stages reference of national competitiveness proposed by Porter (1990), I made the strategy map for enhancing competitiveness of the national steel industry which consists of three stages with every stage in five years term. The three stages are: Stage I: Enhancement of Competitiveness based on factor driven, Stage II: Enhancement of Competitiveness based on investment driven, Stage III: Enhancement of Competitiveness based on innovation driven.
Kata Kunci : Strategi peningkatan daya saing, analisis Diamond Porter, Industri Baja, Tahapan pengembangan daya saing nasional, Strategy of Competitiveness Enhancement, Porter’s Diamond Analysis, Steel Industry, Enhancement Stages of National Competitiveness