Peran lembaga adat dalam mengelola konflik :: Studi kasus peran Panglima Laot Lhok Pusong Lhokseumawe dalam mengelola konflik nelayan
HIDAYAT, Rudi, Dra. Ratnawati, SU
2009 | Tesis | S2 Ilmu PolitikPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran yang dilakukan oleh Panglima Laot Lhok Pusong Lhokseumawe dalam mengelola konflik antar nelayan tradisional di wilayah kerjanya. Pengelolaan konflik di daerah pesisir secara tradisional sudah dilaksanakan sejak masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda abad IV masehi. Seiring dengan pergeseran zaman maka sukses tidaknya seorang Panglima Laot saat ini untuk melestarikan hukom adat laot dalam megelola konflik antar nelayan tradisional sangat tergantung dari peran yang dilakukannya. Peran penting yang dimilikinya bisa membangun image untuk menanamkan kesan yang positif tentang dirinya dibenak masyarakat nelayan, sedangkan pelestarian hukom adat laot untuk meningkatkan jumlah perolehan ikan dan mempertahankan kelestarian biota dan ekosistem laut serta mengelola konflik yang terjadi di komunitas nelayan. Dalam penelitian ini penulis mengunakan penelitian kualitatif dengan memakai klasifikasi mengenai gejala konflik sosial yang terjadi pada komunitas nelayan, serta penyusunan hasil penelitian secara deskriptif mengenai realitas konflik sosial yang kompleks. Selain itu istilah lain penelitian kualitatif adalah Etnografi yaitu merupakan pekerjaan mendeskripsikan suatu kebudayaan. Data diperoleh melalui data primer dan sekunder, dengan teknik pengumpulan data melalui metode wawancara/interview, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam menjalankan perannya menunjukan bahwa Ianya merupakan pemegang otoritas dikomunitas nelayan dalam mengelola hukom adat laot dan adat laot serta bisa menunjukankan eksitensinya ditengah moerdernisasi dan perkembagan hukum positif negara. Panglima Laot dalam menempatkan kesan yang positif tentang dirinya di benak masyarakat nelayan dapat dilihat dari 12 kasus yang terjadi pada tahun 2008 dapat diselesaikannya melalui hukum adat. Sehingga tidak ada satu pun proses penyelesaian konflik dikomunitas nelayan yang perlu diselesaikan melalui hukum positif negara. Kondisi ini tidak terlepas dari besarnya dukungan dan pengakuan masyarakat nelayan terhadap arti pentingnya peran Panglima Laot dalam menegakan hukom adat laot. Hal tersebut tidak lepas dari proses musyawarah yang dikembangkan Panglima Laot dalam pengelolaan konflik dengan menggandeng para pawang dalam wilayah kerjanya untuk mengambil keputusan atas setiap kasus yang diselesaikan, sehingga menunjukkan dirinya sebagai peminpin komunitas nelayan yang mengedepankan proses demokrasi, untuk menyelesaikan setiap kasus sengketa yang terjadi di komunitas nelayan dalam mengelola sumber daya perikanan kelautan. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka menjadi penting pelestarian pengelolaan daerah pesisir secara tradisional dilestarikan karena lebih mengena di komunitas masyarakat lokal selain telah menjadi adat juga timbul rasa keengganan mereka dalam melanggar hukom adat laot. Sehingga dapat dipastikan bahwa setiap pelanggaran akan mendapatkan sanksi dan jenis sanksi selalu sesuai dengan jenis pelanggaran yang dilakukan, sehingga keberadaan Panglima Laot mempunyai image yang bagus dan mempunyai perang penting dalam melindungi komunitas nelayan baik secara internal maupun dengan pihak ekternal yang kesemuanya berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan mereka ke arah yang lebih baik.
This research had a purpose to know the role the traditional fisherman’s leader / coast commander Lhok Pusong Lhokseumawe in managing the conflict and problem solving between the traditional fisherman in his work territory. The conflict manaement in the area of the coast traditionally has been carryot since the government’s period of sultan Iskandar Muda in IV masehi. By the canges of time, the ability to successfully conserve the traditional law in conflicts mangementbetween the traditional fisherman is totally depend on the role that Fisherman’s commander implemented. The important role he must owned is the abilities to build the positive leader figure to impress the fisherman and keeps the traditional law in order to increase the number of fish receipts and maintain conservation of the sea biota community. In this research the writer use the qualitative research method by using classification concerning the sign of the social conflict that happen to the fisherman’s community, writer also used a descriptivemethod concerning social conflict, moreover the term of qualitative reseach is ethnography or describing a culture. The data is received as primary and secondary data, technically the datacollecte with interviw, observation, and the documentation. Results of this reaseach show that in undertaking his role, fisherman’s commander hold the authority in traditional coast’s law management plus the coast’s cultureand traditional. Aswell as his achievement in successfuly reach his goal in modernization decade or pasitive contry law’s that developed fast. Goodimpressio and deep respect gain in marrow of the fisherman’s community could be seen from 12 cases tht happen during 2008 could be solved by him trough traditional law, not have even one conflict resolution in the fisherman community must be brought trough contry law. This condition is not free from support and acknowledgment from the fisherma’s community towards the importance role of coast commander in upholding the traditional coast law, the coast commander developed and open discussion conference in the conflict management wit the experts fisherman in his work territory to take the upper decision of each case that is resolved, he proved that he is the Leader-who put the proecess of deocracy forward resolving each case of the dispute that happen in the fisherman’s community in carrying out marine fisheries resources. Was base on the result of this research, it’s important to conserved the traditional law in regional mangement because preferable by local community as a part tradition and also they have emerge the feeling of reluctance againts the tradition coast’s law, its cofirm that each violation will get fine or punishment. The kind of fine / punishment is always in accordance with the kind of viollation tat has been made so the existence of the coast comaander has impress his community and he plays an important role in protecting the fisherman’s good communityinternally or externally link with the fulfillment of their requirement to the better.
Kata Kunci : Lembaga adat,Panglima Laot Lhok Pusong Lhokseumawe,Nelayan,konflik komunitas,The role of the coast commander / tradition fisherman’s leader Lhok Pusong Lhokseumawe in conflict management and solving the fisherman’n communityes