Kinerja Badan Pelayanan Terpadu Kota Pekanbaru
SETIADI, Wira, Dr. Samodra Wibawa
2009 | Tesis | S2 Magister Administrasi PublikKeinginan pemerintah untuk tetap melayani masyarakatnya terutama Kota Pekanbaru dengan mengeluarkan terobosan membentuk lembaga pelayanan yang dimulai dari Unit Pelayanan Umum Terpadu, Kantor Pelayanan Terpadu hingga Badan Pelayanan Terpadu. Pada saat masih berstatus Kantor Pelayanan Terpadu lembaga pelayanan ini telah mendapatkan ISO 9000/2001 yang mengatur prosedur secara menyeluruh mencakup syarat-syarat kelengkapan administrasi, waktu penyelesaian dan biaya pengurusan. Namun demikian masih saja ditemukan permasalahan adanya keluhan-keluhan masyarakat sebagai pengguna layanan mengenai prosedur perizinan yang kurang jelas, tarif/biaya yang tidak transparan, penyelesaian tidak tepat waktu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kinerja Badan Pelayanan Terpadu dalam penerbitan perizinan dan non perizinan dan faktorfaktor yang mempengaruhinya serta bagaimana meningkatkan kinerja organisasi tersebut. Kinerja Badan Pelayanan Terpadu Kota Pekanbaru dapat dilihat dengan 4 (empat) indikator, yaitu produktivitas, responsivitas, efisiensi dan koordinasi yang dipengaruhi oleh faktor-faktor kepemimpinan dan sistem insentif. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan metode kualitatif, karena data dalam penelitian ini berupa kata-kata, gambar dan pengamatan Adapun teknik pengumpulan datanya adalah dengan wawancara, dokumentasi dan observasi. Sedangkan yang menjadi sumber data untuk penelitian ini dikategorikan menjadi 2 (dua) perspektif yang terdiri dari perspektif koordinator pelaksana dalam hal ini Badan Pelayanan Terpadu Kota Pekanbaru dan perspektif penerima layanan yaitu masyarakat sebagai pengguna jasa. Berdasarkan hasil analisis data penelitian dapat disimpulkan bahwa kinerja Badan Pelayanan Terpadu Kota Pekanbaru dalam penerbitan perizinan dan non perizinan masih rendah, kecuali pada indikator produktivitas.Hal ini terbukti dari masih banyaknya keluhan dari pengguna layanan, belum adanya kepastian biaya dan waktu penyelesaian dalam penerbitan perizinan dan non perizinan serta koordinasi yang masih kurang baik dengan instansi-instansi lainnya. Hal tersebut dikarenakan masih rendahnya pola kepemimpinan dalam memberi arahan dan pengawasan kepada bawahan. Dan juga insentif yang diberikan secara rutin kepada aparat terbukti tidak dapat memotivasi bawahaan dalam bekerja karena insentif yang diberikan tidak didasarkan pada kinerja. Beberapa saran yang diusulkan adalah memangkas rantai birokrasi yang ada di Badan Pelayanan Terpadu Kota Pekanbaru, mensosialisasikan serta melakukan razia-razia rutin terutama kepada pelaku-pelaku usaha, meminimalisir keluhan-keluhan dengan merespon dan menindaklanjutinya, menjalankan sungguh-sungguh ketetapan yang telah dibuat,mengoptimalkan fungsi loket pengaduan, membuat peraturan bersama yang mengatur koordinasi antara instansi-instansi terkait melakukan pembinaan kepada petugas, memberikan motivasi serta insentif berdasarkan kinerja.
Government desire to still serve people in Pekanbaru is done by establishing service institution that started from the integrated pubic service unit, the integrated service office, and integrated service agency. When the institution was the Integrated Service Office, it has got ISO 9000/2001 that regulates whole procedure including administrative requirement, completeness time and administration fee. However, there was still people complaint on unclear license procedure, untransparent tariff and not on time completion. This research aimed to identify performance of the Integrated Service Agency in issuing license and non license, factors influencing the condition and ways to increase the organization performance. Performance of the Pekanbaru Integrated Service Agency can be seen through 4 indicators: productivity, responsiveness, efficiency and coordination that is influenced by leadership and incentive system. It was descriptive research with qualitative method; data in this research was in form of words, pictures and observation. Data collection was carried out with interview, documentation and observation. Data source for this research was categorized into two perspectives: perspective of executing coordinator of Pekanbaru Integrated Service Agency and perspective of people as service user. Results of data analysis indicated that performance of the Pekanbaru Integrated Service Agency in issuing license and non license is still low, except for productivity. It is proved with many complaints from service user, uncertain tariff and completion in issuing license and non license and bad coordination with other institutions. The condition may be due to low leadership pattern in providing direction and monitoring subordinates. In addition, incentive given routinely to employee cannot motivate subordinate in doing work because it is not based on performance. Some recommendation are cutting bureaucratic chain in Pekanbaru Integrated Service Agency, dissemination of the program, and routine razzia for business actors, minimizing complain by responding and following up the complain, running regulation, optimizing complaint locket function, making joint regulation that govern coordination between related institutions, doing employee improvement, motivating employee and providing incentive based on performance.
Kata Kunci : Kinerja,Badan Pelayanan Terpadu Kota Pekanbaru,Performance