Laporkan Masalah

Sikap terhadap perceraian ditinjau dari tingkat pendidikan, jenis kelamin dan persepsi pola asuh orangtua

MARHENI, AG. Krisna Indah, Dr. Tina Afiatin

2009 | Tesis | S2 Magister Psikologi

Maraknya kasus kawin-cerai di berbagai kalangan masyarakat menandakan adanya pergeseran nilai perkawinan bagi sebagian orang. Banyak faktor yang menjadi pendukung munculnya keputusan untuk bercerai pada pasangan suami- isteri. Salah satu prediktor pendukung terbentuknya sikap positif maupun negatif terhadap perceraian adalah tingginya tingkat pendidikan dan pola asuh orangtua yang diterima individu. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari hubungan antara tingkat pendidikan, jenis kelamin dan pola asuh orangtua dengan sikap terhadap perceraian. Subjek penelitian ini adalah pegawai pemerintah daerah kabupaten Klaten yang telah menikah 2–10 tahun, tidak mengalami perceraian, berusia 25– 35 tahun (N= 90). Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini berupa skala sikap terhadap perceraian dan persepsi pola asuh orangtua yang authoritatif, sedangkan analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis regresi dan uji ttes. Hipotesis mayor pada penelitian adalah; (a) ada hubungan antara tingkat pendidikan dan pola asuh orangtua dengan sikap terhadap orangtua, (b) ada perbedaan sikap terhadap perceraian antara kelompok perempuan dan laki- laki. Hipotesis minornya adalah; (a) ada hubungan positif antara tingkat pendidikan dan pola asuh orangtua dengan sikap terhadap perceraian, pada kelompok perempuan, (b) ada hubungan negatif antara tingkat pendidikan dan pola asuh orangtua dengan sikap terhadap perceraian, pada kelompok laki- laki. Hasil analisis regresi menghasilkan model regresi yang signifikan (F= 4.551, R2= 0.308, p = 0.013). Hal ini menunjukkan tingkat pendidikan dan pola asuh orangtua secara bersama-sama berperan positif pada sikap terhadap perceraian. Hasil uji t-test (t= -3.164 dan p= 0.039) menunjukkan ada perbedaan sikap terhadap perceraian antara kelompok perempuan dan kelompok laki- laki. Hasil analisis regresi pada kelompok perempuan menghasilkan model regresi tidak signifikan (F=1.263, (r)squer=0.073=7.3% dan p=0.296). Hal ini berarti ada hubungan negatif antara tingkat pendidikan dan pola asuh orangtua dengan sikap terhadap perceraian. Tingkat pendidikan dan pola asuh orangtua dapat menjadi prediktor pada sikap terhadap perceraian sebesar 7.3%. Sedangkan pada kelompok laki- laki diperoleh nilai F=3.458, (r)squer=0.117=11.7%, p=0.039, artinya ada hubungan positif antara tingkat pendidikan dan pola asuh orangtua dengan sikap terhadap perceraian, pada kelompok laki-laki. Tingkat pendidikan dan pola asuh orangtua dapat menjadi prediktor pada sikap terhadap perceraian sebesar 11.7%. Berdasarkan hasil uji t-tes dapat disimpulkan bahwa ditinjau dari tingkat pendidikan dan pola asuh orangtua, kelompok laki-laki memiliki hubungan yang lebih positif dengan sikap terhadap perceraian.

The frequent cases of divorce in various social groups indicated a shift of marriage value among people. Many factors contributed in encouraging spouses to decide a divorce. One of the predictors of the emerging of both positive and negative attitude towards divorce was the level education and parenting model experienced by the spouses. This research aimed in studying the relevance between levels of education, gender, and parenting model to the attitude towards divorce. The subjects of the research were several staffs of the Regional Government Office of Klaten who have been married for 2-10 years, had never divorced, aged 25-35 years (N=90). The measuring tool used in collecting data was a scale of attitude towards divorce and perception on authoritative parenting model, while the analysis was conducted using regression analysis and t-test. The major hypothesis of the research were: (a) there was a correlation between level of education and parenting model to the attitude towards divorce, (b) there was a difference in attitude towards divorce in man and woman. The minor hypothesis were: (a) there was a positive correlation between level of education and parenting model in woman, to the attitude towards divorce, (b) there was a negative correlation between level of education and parenting model in man, to the attitude towards divorce. The regression analysis showed a significant result (F= 4.551, R2=0,308, p=0.013) which showed that level of education and parenting model had positive contribution to the emerging of the attitude towards divorce. T-test (t= -3.164 and p= 0.039) showed a difference attitude towards divorce in man and woman. The regression analysis on woman showed an insignificant regression model (F=1.263, (r) squer=0.073=7.3 % and p=0.296), which meant that there was a negative correlation between level of education and parenting model with the attitude towards divorce. Level of education and parenting model might predict the attitude towards divorce as much as 7.3 %. Meanwhile, in man, the result showed F=3.458, (r) squer=0.117=11.7 %, p=0.039, which meant there was a positive correlation between level of education and parenting model with the attitude towards divorce in man. Level of education and parenting model might predict the attitude towards divorce as much as 11.7 %. Based on t-tes analysis, it can beconcluded that ma n have more positive interrelation between educational background and parenting pattern and their attitude towards divorce.

Kata Kunci : Sikap terhadap perceraian, Tingkat pendidikan, Jenis kelamin, Pola asuh, attitude towards divorce, level of education, gender, parenting model


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.