Laporkan Masalah

Dui Menre dalam pernikahan Bugis Bone di Selawesi Selatan

LATIEF, Juhansar Andi, Prof. Dr. Irwan Abdullah

2009 | Tesis | S2 Agama dan Lintas Budaya

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan aksiologi dalam budaya dui ménré pada pernikahan Bugís Bõné di Sulawesi Selatan sehingga masih tetap eksis di tengah - tengah modernisasi sekarang ini, serta untuk mengidentifikasi dan menggambarkan peran tradisi kecil dan tradisi besar di dalamnya. Gambaran dan argumentasi mengenai hal-hal tersebut dilakukan melalui analisis terhadap bentuk, dasar pertimbangan, prinsipprinsip yang diberlakukan, dan akibat-akibat sosial budaya dalam tatanan kehidupan masyarakat serta pemecahannya. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan fokus kajian pada budaya dui ménré dalam pernikahan Bugís Bõné di Sulawesi Selatan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi lapangan mengenai bentuk, tatacara dan prosesi yang diberlakukan dalam budaya tersebut; wawancara mendalam terhadap para tokoh budaya, agama, masyarakat, pemerintah, dan pelaku itu sendiri; serta dokumentasi berupa gambar dan rekaman mengenai budaya tersebut. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan pendekatan sosio-antropologis dan dipaparkan secara deskriptif kualitatif. Penelitian ini menunjukkan bahwa budaya dui ménré dalam pernikahan Bugís Bõné masih tetap eksis meskipun telah mengalami pelbagai macam pergeseran termasuk pelebaran nilai, arti, dan tujuan dari yang sebelumnya. Oleh karena itu, Pengingkaran-pengingkaran serta polemik baik antara adat itu sendiri maupun adat dan agama turut serta mewarnai budaya tersebut. Hal itu terjadi demi mengangkat harkat, martabat, harga diri dalam mempertahankan budaya prestise mereka, dan untuk mendapatkan pengakuan masyarakat, serta karena memudarnya kekuasaan politik tradisional yang menyebabkan lahirnya pemerkosaan adat demi suatu pemenuhan kebutuhan. Dalam pemenuhan tersebut, keran negosiasi pun terbuka bagi mereka sebagai sebuah jalan guna menuai legitimasi baru.

This study aims to discover the cultural axiology of dui ménré in Bõné gínese marriage, South Sulawesi, which still exists in the modernization time, and to identify and describe the role of the little tradition and great tradition in it. The description and the argument about these things done through analysis of the form, the basic considerations, the principles that apply, and social consequences in the community life and its solutions. This research is a type of qualitative research with a focus on cultural studies, dui ménré in Bõné Bugínese marriage in South Sulawesi. The data was collected by field observations on the form, procedures and applicable procession in that culture; depth interviews with leaders of culture, religion, society, government, and the actors themselves; and documentation in the form of pictures and recordings of these cultures. Data were collected and analyzed using socio-anthropological approach presented descriptively and qualitatively. This study shows that the culture of dui ménré in Bõné Bugínese marriage still exists although it has experienced various shifts including the widening of the value, meaning, and purpose of the previous one. Therefore, denials and the polemic in custom itself and between custom and religion which coloring the culture. It happened after dignity, and pride in maintaining their culture of prestige, and to gain public recognition, as well as the waning of the traditional political power that caused the birth of the rape of the custom by a fulfillment of needs. In fulfillment of these, the tap of negotiation opened as a way to reap a new legitimacy.

Kata Kunci : Dui menre,Pernikahan,Bugis,Bone,Adat,Agama, Dui ménré, Marriage, Bugínese, Bõné, Custom, and Religion


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.