Tradisi keagamaan dan kekuasaan simbolik di kalangan masyarakat Amuntai Kalimantan Selatan
HEREYANTO, Prof. Dr. Sunyoto Usman
2009 | Tesis | S2 SosiologiPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui tradisi keagamaan di kalangan masyarakat Amuntai yang menjadi media dalam memperoleh kekuasaan serta strategi yang digunakan oleh kelompok-kelompok dalam memperoleh kekuasaan melalui tradisi keagamaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Proses pengumpulan data mengunakan cara pengamatan baik secara terlibat maupun tidak terlibat serta dengan wawancara mendalam. Data-data yang diperoleh dari lapangan disajikan secara deskriptif kualitatif. Sebagai masyarakat memiliki karakteristik tradisionalis dalam hal keagamaan, masyarakat Amuntai dianalisis dengan menggunakan kerangka konseptual Pierre Bourdieu dengan konsep kunci yaitu habitus dan kekuasaan simbolik. Tumbuh dan berkembangnya tradisi keagamaan dalam masyarakat Amuntai merupakan sebuah habitus dalam masyarakat. Kondisi masyarakat yang agamis dapat terlihat dari kehidupan masyarakatnya yang senantiasa menekankan nilai-nilai agama (Islam) dalam kehidupan baik secara individu maupun kelompok. Pelaksanaan kewajiban dan ajaran-ajaran dalam menjalankan kehidupan agama diwujudkan pula kedalam kehidupan sehari-hari. Hidup dan berkembangnya unsur-unsur keagamaan dalam masyarakat Amuntai adalah sebagai habitus yang terus dipertahankan oleh masyarakat Amuntai. Dengan kondisi masyarakat Amuntai yang agamis maka berbagai strategi yang digunakan oleh kelompok-kelompok yang berupaya merebut dan mempertahankan kekuasaan adalah dengan melakukan investasi berbagai modal seperti ekonomi, sosial, budaya dan simbolik melalui jalur-jalur keagamaan. Saluran-saluran yang dipakai untuk melakukan investasi tersebut adalah melalui saluran komunitas masyarakat serta saluran institusi kemasyarakatan. Investasi yang dilakukan diupayakan untuk melahirkan kekuasaan simbolik yang dapat mempengaruhi keputusan berbagai kalangan masyarakat Amuntai dalam memberikan dukungan pada pemilihan umum. Implikasi sosial politik yang terjadi adalah masyarakat cenderung untuk tidak melihat kepada berbagai program yang ditawarkan oleh partai-partai politik, akan tetapi masyarakat cenderung untuk memilih dan mendukung partai-partai dimana terdapat kelompok-kelompok yang telah banyak melakukan investasi modal. Kekuasaan sebagai hasil dari investasi modal oleh kelompok-kelompok di kalangan masyarakat Amuntai mengisyaratkan bahwa masyarakat Amuntai yang agamis cenderung bersifat tradisionalis dengan hubungan yang didasarkan pada sistem patron-klien.
The researcher discusses religious tradition in Amuntai society was be media to get the power and strategic of group to get the power by religious tradition. The researcher incorporates a qualitative method with a descriptive approach. Data collecting is conducted by observations and interviews. Data analysis with qualitative discription. The religious life of Amuntai society can be analyzed using Pierre Bordieu conceptual framework. It consists of two key concepts as follow: habitus and symbolic power. Religious tradition in Amuntai society that is a habitus was grow in community. The religious life of Amuntai society can be visible by stressing religious value (Islam) in communities life. Condition religious life of Amuntai society then so strategy of group to get power with capitals investment like economic, social, culture, and symbolic by religious media. Capital investment do it by helpful money or relationship building with religious leader like ulama and kiai, and relationship building with religious community. With capitals investment all group wish get the sympathy from people and the last can get the symbolic power. With symbolic power can get the reality power in general election. The power from capital investment by groups in Amuntai society describe that character of Amuntai society is primordialis and relation character by patron-klien.
Kata Kunci : Tradisi keagamaan,Investasi modal,Kekuasaan,religious tradition, capital investment, power