Modal sosial dalam pemberdayaan Desa Pakraman :: Studi kasus pengelolaan LPD Desa Pakraman Batuaji Kawan, Kabupaten Tabanan Propinsi Bali
PUTRA, I Made Kristiadi, Dr. Erwan Agus Purwanto
2009 | Tesis | S2 Magister Administrasi PublikKeberadaan modal sosial sangat penting dalam pembangunan. Pembangunan tanpa memperhatikan modal sosial yang ada di masyarakat sangat rentan untuk mencapai ketidaksinambungan. Hal ini berlaku pula pada proses pemberdayaan masyarakat. Strategi pemberdayaan masyarakat tidak hanya dilakukan melalui peningkatan kapasitas individu tetapi juga dapat dilakukan melalui pemberdayaan pranataâ€pranata dan organisasi sosial kemasyarakatan. Pranata dan organisasi sosial kemasyarakatan tersebut merupakan bentukâ€bentuk modal sosial yang berkembang di masyarakat. Pemerintah Propinsi Bali telah mengadopsi keberadaan modal sosial di masyarakat melalui pemberdayaan desa pakraman. Desa pakraman merupakan komunitas adat yang terbentuk berdasarkan ikatan sosio-religius. Desa pakraman melahirkan berbagai bentuk modal sosial mulai dari awig-awig (hukum adat) kepercayaan sosial, dan rasa kebersamaan di antara sesama warga. Bentuk pemberdayaan desa pakraman yang paling lazim adalah pembentukan Lembaga Perkreditan Desa (LPD). Salah satu LPD yang menunjukkan eksistensinya di tengah persaingan yang ketat dengan lembaga keuangan lainnya adalah LPD Desa Pakraman Batuaji Kawan di Kabupaten Tabanan, Propnsi Bali. Oleh karena itu tulisan ini akan memaparkan kontribusi modal sosial dalam pengelolaan LPD Desa Pakraman Batuaji Kawan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptifâ€kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpula data dilakukan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial yang berkembang di masyarakat Desa Pakraman Batuaji Kawan memiliki peran positif dalam mendukung pengelolaan LPD desa tersebut. Pertama, dalam perencanaan kegiatan dan anggaran LPD, keberadaan modal sosial berupa network di antara pengurus dan perangkat adat mampu memfasilitasi proses penyusunan perencanaan secara bersama-sama. Kedua, dalam proses rekrutmen personil LPD, rasa kebersamaan dan rasa memiliki terhadap desa pakraman memfasilitasi warga untuk memberikan suaranya dalam proses tersebut. Ketiga, dalam proses penyaluran kredit LPD, keberadaan modal sosial berupa trust menjadikan LPD berani memberikan kredit tanpa anggunan kepada warga dengan batasan tertentu. Dalam proses ini juga, network antara pengurus LPD dengan perangkat adat berperan dalam melakukan pengenalan dan kontrol terhadap nasabah. Keempat, dalam proses penyelesaian kredit macet, penerapan sanksi adat dan kebiasaan warga untuk terhindar dari rasa malu terhadap kahalayak ramai apabila diketahui menunggak di LPD memfasilitasi kepatuhan warga terhadap kewajiban transaksi. Kelima, dalam proses pengawasan dan pertanggunjawaban LPD, network antara pengurus dan peragkat adat memfasilitasi penyaluran informasi perkembangan LPD kepada masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian ini, pengadopsian keberadaan modal sosial dalam proses pemberdayaan masyarakat memiliki arti penting dalam menjaga eksistensi program tersebut. Disamping itu, penelitian ini juga diharapkan sebagai studi awal dalam penelitian pemberdayaan yang berfokus dalam melihat keberadaan modal sosial dalam pemberdayaan masyarakat.
Existence of social capital is very important in development. Development that is regardless social capital existing in society is very vulnerable to discontinuity. It occurs in society empowerment process. Society empowerment strategy is not only carried out through individual capacity improvement but also can be done through institution and society social organization empowerment. Institution and social organization are social capital forms developing in society. Bali province administration has adopted existence social capital in society through pakraman village empowerment. Pakraman village is a custom community shaped based on social religious binding. Pakraman village bear various social modal shapes such as awig-awig (adat law), social trust, and sense of togetherness among people. The most common pakraman village empowerment is establishment of Village Credit Institution (LPD). A LPD that exist amidst strict competition with other finance institution is LPD Desa Pakraman Batuaji Kawan in Tabanan regency, Bali province. This article describes social capital contribution in management of LPD Desa Pakraman Batuaji Kawan. This research is a descriptive qualitative research with case study approach. Data was collected through interview, observation and documentation. Results indicated that social capital developing in Desa Pakraman Batuaji Kawan play positive role in supporting LPD management in the village. First, in planning and budgeting, existence of social capital in form of network among administrator and custom institution can facilitate planning process. Second, in recruitment process, sense of togetherness and belonging on pakraman village facilitate people to vote in the process. Third, in credit distribution, social capital of trust encourages LPD to give credit without collateral under certain condition. In this process, network among LPD administrators and custom institution play important role in customer introduction and control. Fourth, in solving bad debt, custom sanction and people habit to avoid shame when have unpaid payment in LPD facilitate people obedience over their obligation. Fifth, in control and accountability process, network between administrator and custom institution facilitate information disbursement about LPD development to society. Based on the results, adoption of social capital in society empowerment has importance in keeping the program existence. In addition, this research is also expected as early study in empowerment research that focuses in studying social capital existence in people empowerment.
Kata Kunci : Pemberdayaan,Modal sosial,Desa Pakraman,Lembaga perkreditan desa, Empowerment, Social Capital, Pakraman Village, and Village Credit Institution