Analisa penyebab rendahnya partisipasi bersekolah tingkat SMP di Kabupaten Manggarai Barat tahun 2008
DAHAT, Yoseph Hironimus, Dr. Soetatwo Hadiwigeno, M.A
2009 | Tesis | S2 Magister Ekonomika PembangunanMaksud Penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadi penyebab rendahnya partisipasi bersekolah tingkat SMP di Kabupaten Manggarai Barat (Provinsi NTT), pada tahun 2008, 16 tahun setelah digulirkannya program wajib belajar Sembilan tahun secara Nasional. Penelitian ini menggunakan sampel yang diambil dari hasil sensus CBMS (Bappeda Kab. Manggarai Barat), 2008, dan PODES (BPS) tahun 2008. Penelitian ini menemukan bahwa jenjang SMP adalah jenjang dimana anak-anak usia sekolah paling sering mengalami drop out dibandingkan dengan jenjang pendidikan lainnya, dan pola ini bertahan selama beberapa generasi. Selanjutnya terdapat disparitas kesempatan pendidikan antara laki-laki dan perempuan dengan pola yang sama pada dua generasi terakhir. Untuk mengetahui sebab-sebab rendahnya partisipasi bersekolah tingkat SMP, Penelitian ini menggunakan analisis probit, dan menemukan bahwa status pekerjaan, status gender dari anak perempuan, keluarga yang dikepalai oleh perempuan, jarak tempuh yang jauh, dan ketersediaan transportasi publik berpengaruh negatif terhadap probabilitas seorang anak untuk bersekolah. Sementara tingkat pendidikan yang tinggi dari Ayah dan Ibu, jumlah SMP, Rasio Murid terhadap guru dan ruang kelas, serta modus transportasi air berpengaruh positif terhadap probabilitas bersekolah anak. Implikasi kebijakan dari temuan penelitian ini adalah re-desain kebijakan-kebijakan pendidikan menengah agar dapat mendorong peningkatan partisipasi bersekolah tingkat SMP.
The aim of this study was to investigate the causes of low junior secondary school enrollment in Manggarai Barat Regency, (Province of East Nusa Tenggara) in 2008, 16 years after the “compulsory 9 years education attainment†program, first initiated by the National Government in 1993. The study uses data collected from two census: CBMS (Community Based Monitoring System, conducted by Bappeda Manggarai Barat in 2008), and PODES (Potensi Desa, conducted by BPS in 2008). This Study finds that among all level in the school system, junior secondary school has been the level at which children drops out most often, and the pattern sustains for generations. Moreover, there has been gender disparity in school enrollment, and despite the development in recent years, the pattern still share similar feature today as twenty years ago. To be able to identify the causes of low junior secondary school enrollment, this study employs probit estimation, and found that employment status, gender status of females, family which headed by female, far distance schools, and availability of public transport are negatively correlate with children’s probability to attend school. Meanwhile, higher educational attainment of Father and Mother, Number of Junior Secondary Schools, student to teacher and student to classroom ratio, and sea transportation mode, are correlates positively with children’s probability to attend school. The policy implication of the findings included the need to redesign local government education policy to promote higher junior secondary school enrollment.
Kata Kunci : Pendidikan, Partisipasi bersekolah, Disparitas partisipasi, Education, School Enrollment, Gender disparity in schooling.