The effect of Wonokromo Market revitalization on traditional merchants
SYAIFULLAH, Bactiar Andrian, Ir. Leksono Probo Subanu, MURP., Ph.D
2009 | Tesis | S2 MPKDSetelah revitalisasi pada tahun 2004, pengoperasian Darmo Trade Center (nama baru Pasar Wonokromo) dibagi menjadi dua manajemen terpisah. Lantai atas di bagian mal dikelola oleh perusahaan swasta yang juga merupakan pengembang, sementara lantai 1/lantai dasar dan ground floor di mana kebanyakan bekas pedagang tradisional yang sekarang berlokasi dikelola oleh pemerintah setempat (melalui manajemen PD Pasar Surya). Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh revitalisasi pasar tradisional terhadap pedagang tradisional, khusunya terhadap perubahan pendapatan mereka. Studi ini pada dasarnya menggunakan analisis rasio dan persentase yang diterapkan pada sampel terdiri dari 100 pedagang tradisional. Data dikumpulkan dengan menyebarkan kuesioner dan wawancara dengan teknik simple random sampling. Kuesioner ini disebar ke 10 jenis kelompok pedagang (tekstil, makanan dan minuman, daging, sayuran, buah-buahan, bahan makanan sehari-hari, sepatu, peralatan, sabun/kosmetik, dan makanan kecil), jadi ada 10 pedagang di setiap jenis komoditas. Hasil survei menunjukkan bahwa revitalisasi Pasar Wonokromo telah membawa dampak yang merugikan, sebagai contoh: penurunan pendapatan, untuk kedua kelompok pedagang: penjual makanan dan penjual non-makanan. Namun, secara umum, revitalisasi telah membawa dampak yang sedikit merugikan terhadap pedagang tradisional yang menjual makanan segar (daging, sayuran, buah-buahan) dibandingkan dengan pedagang tradisional yang menjual barangbarang lainnya yang tidak tahan lama seperti makanan dan non-makanan. Temuan dapat mencerminkan perubahan peran atau fungsi pasar tradisional di Surabaya, dari penyedia berbagai jenis barang (seperti kebutuhan dasar, menyiapkan makanan, elektronik, dan lain-lain) menjadi penyedia barang khusus, yaitu makanan segar. Dengan demikian, dominansi pangsa pasar tradisional di Surabaya mengalami penurunan
After revitalization in 2004, the operation of Darmo Trade Center (new name for Wonokromo Market) is divided into two separate managements. The upper ground (2nd and 3rd floor) at the mall section is managed by private firm which was also the developer, while 1st floor/ground floor and the basement where most ex-traditional merchants are now located is managed by local government (through PD Pasar Surya management). This research aims to investigate the effect of market revitalization to traditional merchants particularly to their income changes. This study basically uses ratio and percentage analysis applied to sample of 100 traditional merchants. The data were gathered by distributing questionnaire and interview with simple random sampling technique. Questionnaire was spread to 10 types of commodity group-merchants (textile, food and beverage, meats, vegetables, fruits, daily food stuff, shoes, equipment, soaps/cosmetics, and snacks), so there are 10 merchants in each type of commodity. The results indicate that revitalization of Wonokromo Market has brought adverse impact, exemplified such as income decrease, to both merchants selling food and also non-food. However, in general, the revitalization has brought less adverse impact to traditional merchants selling fresh food items (meats, vegetables, fruits) than on traditional merchants selling other items like nonperishable foods and non-food items. The finding may reflect the changing roles or functions of traditional markets in Surabaya, from provider of various kinds of items (such as basic necessity, prepared meals, electronics, etc) to provider of special items, i.e. fresh foods. Thus, the dominant share of traditional market in Surabaya is decreasing.
Kata Kunci : Revitalisasi,Perubahan pendapatan, Revitalization, income changes