Kajian deskriptif rekonstruksi pasca bencana :: Studi kasus Disaster Response Project Yogyakarta Habitat for Humanity Indonesia pasca gempa bumi 27 Mei 2006
NUGROHO, Medianto Purnomo, Dr.-Ing. Ir. Andreas Triwiyono
2009 | Tesis | S2 Teknik SipilPeristiwa gempa bumi mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya pada tanggal 27 Mei 2006 jam 05.53, dengan kekuatan gempa 5,9 skala richter. Ini mengakibatkan 306.234 rumah rusak berat dan roboh dengan total kerusakan dan kerugian senilai 15,3 triliun rupiah. Pasca bencana perumahan yang aman sangat penting sebagai tempat berlindung dan memulihkan diri. Penyediaan perumahan tersebut juga harus sebesar mungkin melibatkan masyarakat. Penelitian ini melakukan kajian deskriptif untuk mengetahui latar belakang program rekonstruksi yang dilakukan oleh Disaster Response Project Yogyakarta - Habitat for Humanity Indonesia (DRPY-HfHI), mengetahui pengelolaan dan bentuk organisasinya, mengetahui proses pengorganisasian komunitas yang dilakukan, pelaksanaan rekonstruksi yang dilakukan, pengorganisasian relawan, dan menarik kesimpulan serta pelajaran (lesson learnt). Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data dari berbagai literatur mengenai peristiwa gempa bumi 27 Mei 2006. Data-data mengenai pelaksanaan rekonstruksi oleh DRPY-HfHI dengan pihak Habitat for Humanity Indonesia serta beberapa dokumen yang ada. Selanjutnya menganalisis dengan membandingkan dengan standar yang ada. Dari penelitian ini, dapat disimpulkan: Habitat for Humanity berada pada posisi yang penting dalam ikut memberikan kontribusi di bidang perumahan pasca bencana dan pasca konflik. Struktur organisasi DRPY-HfHI termasuk dalam jenis organisasi garis. DRPY-HfHI melakukan dengan baik proses pengorganisasian komunitas mengacu pada Pedoman Pelaksanan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Rumah Pasca Gempa Bumi Provinsi D.I. Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah. Manajemen konstruksi yang dilakukan terdapat beberapa kekurangan, yaitu: (a) tidak dilakukan perencanaan kawasan perumahan berdasarkan prinsip pengurangan resiko bencana; (b) rekonstruksi tanpa Ijin Mendirikan Bangunan (IMB); (c) perancangan rumah tidak mengacu pada peraturan yang berlaku. (d) tidak ada RKS; (e) tidak ada evaluasi struktur pasca rekonstruksi; (f) kurang efisiennya penjadwalan pekerjaan. Pengorganisasian sukarelawan telah dilakukan dengan baik serta merupakan salah satu kelebihan organisasi ini.
A 5.9 Richter scaled earthquake hit Yogyakarta and Central Java on 27 May 2006 at 05.53 am. It has caused 306.234 houses to collapse and heavily damaged. The total damage and loss was estimated until IDR 15.3 quintillion. Safer housing is important as a place of protection and restoration after a disaster. Besides that, the reconstruction of houses should involve the community. This research aims at a descriptive study of the background of Disaster Response Project Yogyakarta - Habitat for Humanity Indonesia (DRPY-HfHI); the management and type of organization; community organizing; construction management; volunteer management; the summary and lesson learnt of DRPY-HfHI. The data of 27 May 2006 earthquake was collected from various literatures. The data regarding the reconstruction project by DRPY-HfHI was collected via interview with Habitat for Humanity Indonesia and from some documents of DRPY-HfHI. After that, the data was analized and compared with the standards. The research findings show that Habitat for Humanity is in a position to make a significant contribution in post-disaster or post-conflict environments. The organization type of DRPY-HfHI is line organization. DRPY-HfHI has done community organizing well according to the guideline of post-earthquake housing rehabilitation and reconstruction for Yogyakarta and Central Java. There are some deficiencies in construction management, such as: (a) the reconstruction is done without area planning based on disaster risk reduction principles; (b) the reconstruction is done without building permit; (c) the design of houses didn’t refer to the standard; (d) the reconstruction is done without building technical specification; (e) structural evaluation is not done after reconstruction; (f) the schedule of reconstruction is not eficient. The volunteer management was done well and this is a strength of this organization.
Kata Kunci : Rekonstruksi pasca bencana,Pengorganisasian komunitas,Menajemen konstruksi,Pengorganisasian sukarelawan, post-disaster reconstruction, community organizing, construction management, volunteer management