Studi optimasi alokasi air di daerah irigasi Cemer Atas Kabupaten Ponorogo Propinsi Jawa Timur
SULISTYANINGSIH, Dwi Tama, Dr. Ir. Rachmad Jayadi, M.Eng
2009 | Tesis | S2 Teknik SipilDaerah Irigasi Cemer Atas mendapatkan sumber air berasal dari Sungai Cemer dan sumber air Girimarto, Coban, Bendorogo dan Klereman. Penggunaan pertama air tersebut hanya untuk pengaliran irigasi, seiring berjalannya waktu maka penggunaan air juga digunakan untuk PDAM dan PAMDESA. Keberadaan PDAM dan PAMDESA tersebut dianggap sebagai penyebab terjadinya kekeringan di daerah hilir terutama oleh pengguna air untuk irigasi, sehingga menimbulkan konflik antar pengguna. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tinjauan potensi pembangunan sebuah tampungan hulu sungai. Pembangunan sebuah tampungan berfungsi untuk menampung air di saat musim penghujan dan dipergunakan airnya di saat musim kemarau. Langkah awal dari perencanaan tampungan adalah dengan mengetahui potensi air di daerah yang direncanakan. Dalam penelitian ini dipergunakan potensi air dari hulu ditambah dengan sumber air Girimarto yang kemudian dibandingkan dengan jumlah kebutuhan air di seluruh areal irigasi. Perhitungan kebutuhan air dengan dua pola tanam yaitu pola tanam yang ada dengan padi sepanjang tahun dan pola tanam baku dengan padi pada Musim Tanam I dan II. Optimasi alokasi air dilaksanakan jika imbangan air menunjukkan potensi air yang tidak mampu ditampung. Nilai faktor k digunakan untuk mengukur kondisi optimal pelayanan air irigasi sebagai perbandingan antara suplai air irigasi dengan kebutuhan air irigasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi air yang ada di Daerah Irigasi Cemer Atas tidak layak dibuat sebuah tampungan, karena jumlah volume kebutuhan air irigasi tahunan kurang dari 70% jumlah volume ketersediaan air tahunan. Dengan demikian maka dilakukan alternatif lain dengan optimasi alokasi air di daerah Irigasi Cemer Atas. Pada tahapan optimasi Daerah Irigasi dibagi menjadi lima blok yaitu A, B, C, D dan E. Nilai faktor k(simbol) pada blok A sampai dengan D minimum = 1 dan nilai nilai rerata = 1. Hal ini berarti pada blok A sampai dengan blok D perbandingan antara suplai kebutuhan irigasi dan kebutuhan air irigasi seimbang. Sedangkan pada blok E memiliki nilai k(simbol)minimum=0,70 dan nilai k(simbol)rerata=0,95 berarti pada blok E suplai air irigasi tidak mencapai seluruh areal tanam. Intensitas tanam pada masing-masing blok tahunan sebesar A=107 %, B=96 %, C=93 %, D=92%, E=75 %. Dari jumlah total tersebut lahan optimal yang dapat dipenuhi sekitar 31% dari luas lahan irigasi keseluruhan. Berdasarkan data yang diperoleh tanpa ada optimasi nilai k(simbol)rerata di blok A= 1, B=0,76, C=0,98, D=0,51, dan blok E=0,29 dan k(simbol)minimum di blok A= 1, B=0,24, C=0,30, D=0,14, dan blok E = 0,05.
Water supply in the Cemer Atas irrigation area originates from springs in Cemer River and Girimarto, Coban, Bendorogo, and Klereman. Initial use of the water was only limited to meeting the need for irrigation, but it is then used also for water supply of PDAM and PAMDESA. The existence of both institutions is regarded, especially by irrigation water users, as an underlying cause of drought in downstream area, thus resulting in conflict between users. This study is aimed at analysis of the feasibility of water utilization by considering the potential of constructing reservoir in upstream area. The construction of reservoir ideally serves as to store water at a wet season, so the water can be utilized at dry season. An initial effort of constructing reservoir is to identify water potentials in the planned site. In the study, the water potentials are calculated on the base of upstream and the spring of Girimarto, and then compared to total number of needs for water in the overall irrigation area. Calculation of the needs for water is carried out based on two cropping patterns, i.e. rice cultivation pattern along the year and standard rice cropping pattern in Cropping Season I and II. The optimization of water allocation is done if water balance indicates that the water potentials are insufficient. The k factor is used to measure the optimum condition of irrigation water as a ratio of equal irrigation water supply to the demand irrigation water. Result of the study indicates that the existing water potential in the Cemer Atas irrigation area is not feasible for constructing reservoir since the annual volume of irrigation water demand less than 70% of the annual volume of water available. Therefore, other alternative is required through the optimization of water allocation in the Cemer Atas irrigation area. At the stage of optimization, the irrigation area was divided into five blocks, i.e. A, B, C, D, and E. The minimum values of k(symbol) factor in blocks A to D were 1 and mean value was 1. It means that in blocks A to D, a ratio of irrigation water supply to the need for the irrigation water was balanced. Meanwhile, in block E the value of k(symbol)minimum was 0,70 and that of k(symbol)mean was 0,96, meaning that in the block E the irrigation water supply could not cover all the cropping areas. Annual cropping intensities of each block were A=107%, B=96%, C=93%, D= 92%, and E=75%. Of the total number, optimum area used was 31% of the overall irrigation area. Based on the data obtained without such optimization, the values of kmean in each block were A=1, B=0,76, C=0,98, D=0,51, and E=0,29, and those of k(symbol)minimum were A=1, B=0,24, C=0,30, D=0,14, and E=0,05.
Kata Kunci : Imbangan air,Tampungan,Intensitas tanam, water balance, reservoir, cropping intensity