Analysis of community participation level on infrastructure recontruction after an earthquake :: A case study of community action planning (CAP) in Yogyakarta City Indonesia
DESTAMAL, Ir. Bakti Setiawan, M.A., Ph.D
2009 | Tesis | S2 MPKDTujuan dari studi ini adalah untuk 1) mengukur tingkat partisipasi masyarakat / komunitas dalam kegiatan rekonstruksi infrastruktur setelah gempa bumi dan 2) mengidentifikasi factor-faktor yang mempengaruhi setiap tingkat participasi masyarakat / komunitas tersebut. Semua hasil analisis didasarkan kepada sebuah studi kasus tentang Perencanaan Tindak Komunitas atau Community Action Planning (CAP) di Kota Yogyakarta, Indonesia. CAP diperkenalkan melalui program partisipasi masyarakat pada proses rekonstruksi dan rehabilitasi setelah Gempa Bumi Yogyakarta tahun 2006. Survey tentang persepsi masyarakat terhadap pelaksanaan CAP dilaksanakan di Desa Karang Anyar, Purbayan, dan Pandeyan untuk mengukur tingkat partisipasi masyarakat dan mengidentifikasi factor-faktor yang mempengaruhi pencapaian tingkat partisipasi tersebut. Responden dipilih dari rumah tangga (KK) dari ketiga desa diatas dengan menggunakan teknik pengambilan conto secara acak (a random sampling technique). Two-step Cluster Analysis dan Ordinal Regression dipergunakan untuk menganalisis data yang dikumpulkan melalui wawancara dan penyebaran questionnaire kepada para responden. Analisis mengungkapkan bahwa 1) pengukuran yang dilakukan terhadap tiga kasus di Kota Yogyakarta menempatkan partisipasi masyarakat pada tingkat / level yang tinggi, dan 2) factor-faktor yang berbeda yang berhubungan dengan sifat atau karakteristik personal dari partisipan dan suasana yang dibangun dalam CAP memberikan kontribusi terhadap pencapaian tingkat partisipasi masyarakat di setiap lokasi/desa. Di Karang Anyar, factor-faktor tersebut adalah tingkat pendidikan dan pengetahuan masyarakat tentang mekanisme partisipasi. Factor yang berpengaruh di Purbayan adalah adanya pengetahuan yang diterima masyarakat selama pelaksanaan CAP. Sedangkan di Pandeyan, factor-faktor yang berpengaruh adalah umur, pendapatan, diakomodirnya suara masyarakat melalui pertemuan-pertemuan atau workshop, dan adanya pengetahuan masyarakat tentang mekanisme partisipasi. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa secara umum ada tiga (3) macam factor yang berpengaruh di semua lokasi: a) umur dari partisipan, b) terjadinya transfer pengetahuan yang terkait dengan peningkatan keahlian dan kapasitas dari Organisasi Non Pemerintah (Non-Governmental Organizations / NGOs) kepada masyarakat setempat, dan c) rendahnya “gap†antar masyarakat dalam berinteraksi dan berkomunikasi di fase-fase awal pelaksanaan CAP.
The purpose of this study was to 1) measure the level of community participation in infrastructure reconstruction after an earthquake and 2) to identify the factors that influence the level of community participation. The results of this analysis are based on a case study of Community Action Planning (CAP) in Yogyakarta City, Indonesia. CAP was introduced through public participation in the reconstruction and rehabilitation process after the Yogyakarta earthquake in 2006. A community perception survey for CAP implementation was conducted in Karang Anyar, Purbayan, and Pandeyan to measure community participation levels and to identify factors influencing those levels. Respondents were chosen from households of all villages by using a random sampling technique. A Two-step Cluster Analysis and Ordinal Regression were used to analyze the data. The analyses revealed that 1) the measurement of the three cases in Yogyakarta City ranked the level of community participation highest, and 2) different factors associated with personal attributes and circumstances of CAP, contributed to the level of community participation for each location. The factors in Karang Anyar included education level and community knowledge about the mechanism of participation. The factor in Purbayan was the knowledge which community received during the process of CAP. The factors in Pandeyan included age, income, accommodation of community voices through meetings or workshops, and community knowledge about the mechanism of participation. Moreover, the analysis illustrated that three factors were most important for all locations: a) the age of the participants, b) the occurrence of transferring knowledge related skills and capacity building from the Non-Governmental Organizations (NGOs) to the community, and c) the gap among the communities in interaction and communication in the initial phase of the CAP.
Kata Kunci : Indonesia,Partisipasi,Community action planning (CAP),Rekonstruksi,Infrastruktur, Indonesia, participation, community action planning (CAP), reconstruction, infrastructure