Perilaku pencarian pengobatan gangguan menstruasi pada remaja putri di Kabupaten Tanjung Jabung Barat Provinsi Jambi
ROHMAH, Fatqiyatu, Prof. dr. M. Hakimi, SpOG(K), Ph.D
2009 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang: Gangguan menstruasi merupakan gangguan kesehatan reproduksi yang sering dikeluhkan oleh wanita, terutama remaja putri. Pada akhir masa remaja, 75 persen mempunyai pengalaman gangguan menstruasi mulai dari tingkat yang ringan sampai berat, yang berdampak pada aktivitas remaja sehari-hari, sehingga dapat menggagu produktifitas sekolah. Perilaku pencarian pengobatan untuk mengatasi gangguan menstruasi dilakukan dengan banyak cara, pengobatan ke pelayanan kesehatan, pengobatan tradisional, mengkonsumsi obat-obatan penghilang rasa sakit yang dijual bebas tanpa konsultasi dokter, hanya beristirahat dan mengobati sendiri. Tujuan: untuk mengetahui pengaruh pengetahuan dan sikap remaja putri tentang menstruasi, gangguan menstruasi dan pelayanan kesehatan, serta untuk mengetahui perilaku pencarian pengobatan gangguan menstruasi pada remaja putri di Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Metode: Jenis Penelitian adalah observasional menggunakan rancangan Cross Sectional dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Subjek penelitian adalah remaja putri yang yang bersekolah di SMP, dan SMU/SMK di Kab. Tanjung Jabung Barat propinsi Jambi, remaja yang sudah menarche mengalami gangguan menstruasi dengan jumlah sampel sebanyak 295 remaja putri. Analisis data uji statistik Chi-square dan binary regression pada tingkat kemaknaan p<0.05, 95% CI Hasil : Proporsi perilaku pencarian pengobatan ke nakes pada remaja putri yang pengetahuannya cukup baik satu setengah kali lebih besar dibandingkan dengan dengan remaja putri yang pengetahuannya kurang baik (PR=1,46;95%CI=1,01-2,09). Proporsi perilaku pencarian pengobatan ke nakes pada remaja putri yang sikapnya positif lebih besar satu setengah kali dibandingkan dengan dengan remaja putri yang sikapnya negatif (PR=1,49;95% CI=1,01-2,20). Faktor lain yang berpengaruh terhadap perilaku pencarian pengobatan adalah keluhan gangguan menstruasi, pendidikan ibu dan pendapatan keluarga. Variabel pendidikan responden tidak berpengaruh terhadap perilaku pencarian pengobatan. Keluhan gangguan menstruasi adalah variabel yang paling besar pengaruhnya terhadap perilaku pencarian pengobatan ke nakes. Kesimpulan : Proporsi perilaku pencarian pengobatan ke nakes pada remaja putri yang pengetahuannya cukup baik lebih besar dibandingkan dengan dengan remaja putri yang pengetahuannya kurang baik. Proporsi perilaku pencarian pengobatan ke nakes pada remaja putri yang sikapnya positif lebih besar dibandingkan dengan dengan remaja putri yang sikapnya negatif. Variabel lain yang berpengaruh terhadap perilaku pencarian pengobatan adalah keluhan gangguan menstruasi, pendidikan ibu dan pendapatan keluarga. Sedangkan variabel pendidikan responden tidak berpengaruh terhadap perilaku pencarian pengobatan.
Background: Menstrual disorder is a reproductive health disorder frequently suffered by women, especially adolescent girls. At post stage of adolescence, 75% have experienced menstrual disorder, ranging from mild to severe that its impact affects adolescents’ daily activity resulting in bad school achievement. Health-seeking behavior to overcome menstrual disorder is done with a variety of ways such as treatment in health care service, traditional treatment, free-marketed pain reliever consumption, taking a rest, and self treatment. Objective: To study the effect of adolescent girls’ knowledge and attitude on menstruation, menstrual disorder, and health care service and to study health-seeking behavior toward menstrual disorder among adolescent girls in Tanjung Jabung Barat District, Jambi Province. Method: This was an observational study using a cross-sectional study design with quantitative and qualitative approaches. Subjects were 295 female students at junior/senior/vocational high schools in Tanjung Jabung Barat District who had menarche and had experienced menstrual disorder. Data analysis used Chi-Square and binary regression with p<0.05, 95%CI. Result: The proportion of health-seeking behavior to health professionals among adolescent girls with good knowledge was 1.5 times greater than those with bad knowledge (RP=1.46;95% CI=1.01-2.09). The proportion of health-seeking behavior to health professionals among adolescent girls with positive attitude was 1.5 times greater than those with negative attitude (RP=1.49;95% CI=1.01-2.20). Other factors affecting healthseeking behavior were menstrual complaints, mother’s education, and family income. Menstrual complaint was the variable with the biggest effect toward health-seeking behavior to health professionals. Conclusion: The proportion of health-seeking behavior to health professionals among adolescent girls with good knowledge and was greater than those with bad knowledge. The proportion of health-seeking behavior to health professionals among adolescent girls with positive attitude was greater than those with negative attitude. Other factors affecting treatment-seeking behavior were menstrual complaints, mother’s education, and family income.
Kata Kunci : Pencarian pengobatan,Gangguan menstruasi,Remaja putri,health-seeking behavior, menstrual disorder, adolescent