Perilaku seksual tidak aman sebagai faktor resiko terhadap infeksi menular seksual (IMS) pada remaja perempuan di Kotamadya Mataram
ANAM, Samsul, Prof. dr. M. Hakimi, SpOG(K), Ph.D
2009 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakathubungan seks, 46,26% diantara mereka telah melakukannya secara aktif, seks pertama terjadi pada umur 15 tahun. Penggunaan kondom untuk mencegah Infeksi Menular Seksual (IMS) hanya 40,09%. Sebagai akibat perilaku seksual yang tidak aman prevalensi IMS terus meningkat. Di Kotamadya Mataram Remaja yang terinfeksi IMS meningkat, dari 243 pada tahun 2007 menjadi 460 tahun 2008. Tujuan: Untuk mengetahui besarnya risiko terjadinya IMS pada remaja perempuan yang melakukan perilaku seksual tidak aman. Metode Penelitian: Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan rancangan case control. Jumlah responden 60 orang; kasus 30 diambil dari kasus di klinik PKBI NTB dari tanggal 31 Agustus 2007 sampai dengan 31 Agustus 2008 dan kontrol sebanyak 30. Analisis data dilakukan secara univariabel, bivariabel dengan uji statistik chi square. Analisis multivariabel menggunakan regresi logistik untuk memperkirakan model yang efektif. Hasil: Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa remaja yang melakukan perilaku seksual tidak aman mempunyai risiko 9,5 kali untuk terinfeksi IMS dibandingkan dengan remaja yang melakukan perilaku seksual yang aman.Hal tersebut dibuktikan dengan hasil perhitungan statistik OR = 9,3, p = 0,004. Kesimpulan: Remaja yang melakukan perilaku seksual tiak aman mempunyai risiko yang besar untuk terkena IMS, Kejadian IMS pada remaja juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan akses kondom.
Background: About 16.46% of Indonesian adolescents have had (premarital) sex and 46.26% of them have led an active sex life. Indonesian adolescents have also had their first sexual relationship by 15 years old. However, only 40.09% of them use condoms as protection against Sexual Transmitted Infections (STIs). This unsafe sex practice has led to more prevalent STIs. In Mataram District the cases of teenagers who have contracted STIs increased from 243 in 2007 to 460 in 2008. Objective: The study aimed to estimate the risks of contracting Sexual Transmitted Infections (STIs) amongst teenage girls who practice unsafe sex. Methods: The study was an observational study that used case-control design. Sample size was 60, divided into 30 cases and 30 as case-control. Samples were taken from cases reported to the Indonesian Planned Parenthood Federation (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia/PKBI) West Nusa Tenggara chapter from 31 August 2007 until 31 August 2008. Data collected were analysed using univariate analysis and bi-variate analysis of chi-square. To estimate the effective Model, a multivariate analysis using logistic regression was conducted. Results: The study found that teenage girls who practiced unsafe sex had risks of contracting Sexual Transmitted Infections (STIs) 9.5 times higher than those who practiced safe sex. This proved as computation resulted in OR 9.3, p 0.004. Conclusion: Teenage girls who practiced unsafe sex had high risks of contracting Sexual Transmitted Infections (STIs). Educational attainment and access to obtaining condoms contributed to the incident of STIs amongst teenage girls.
Kata Kunci : Perilaku seksual tidak aman,Infeksi menular seksual, Unsafe sex practice, Sexual Transmitted Infections (STIs)