Perilaku makan dengan kejadian sindrom premenstruasi pada remaja di Kabupaten Purworejo
NURMIATY, dr. Siswanto Agus Wilopo, SU, MSc, ScD
2009 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang: Masalah umum yang dirasakan remaja yang berhubungan dengan menstruasi adalah dysmenorrhea dan sindom premenstruasi (PMS). Beberapa studi terbaru menunjukkan sejumlah zat gizi mikro (kalsium, magnesium, vitamin D) berperan penting dalam gangguan mood dan perilaku yang berlangsung selama premenstruasi. Perilaku makan remaja umumnya mengkonsumsi makanan dengan kadar zat gizi mikro yang rendah dan selalu melakukan diet yang dapat menyebabkan kurang asupan zat gizi yang dibutuhkan dan lebih lanjut berdampak pada gangguan menstruasi. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan perilaku makan dengan kejadian sindrom premenstruasi pada remaja di Kabupaten Purworejo. Metode: Case control dengan pendekatan kuantitatif. Subyek penelitian siswa SMKN 3 dan SMAN 1 Purworejo. Analisis tahap I untuk mengetahui prevalensi PMS (n= 749). Tahap II untuk melihat hubungan perilaku makan dengan kejadian PMS, perbandingan sampel kasus kontrol 1:1 (n=160). Hasil: Prevalensi kejadian PMS pada remaja sebesar 24,6%. Tiga gejala yang paling berat yang dirasakan remaja adalah nyeri perut, gampang tersinggung/mudah marah dan nyeri otot/sendi. Uji antara perilaku makan dengan PMS menunjukkan hasil yang signifikan. Setelah mempertimbangkan variabel stres, risiko untuk mengalami PMS sebesar 2,3 kali. Analisis logistic regression asupan zat gizi menunjukkan bahwa lemak dan natrium memiliki pengaruh yang paling besar terhadap kejadian PMS dengan nilai standardized coefficient masing-masing 0,7982 dan 0,7834. Kesimpulan: Perilaku makan tidak sehat meningkatkan risiko mengalami sindrom premenstruasi sebesar 2,3 kali. Asupan lemak dan natrium paling berpengaruh terhadap PMS.
Background: Problems commonly encountered by teenagers in relation to menstruation are dysmenorrhea and premenstrual syndrome. Some recent studies reveal that micronutrients (calcium, magnesium and vitamin D) have an important role in causing disorder of mood and behavior during premenstruation. Teenagers generally consume foods with low nutrients and have a diet that causes lack of nutrient intake leading to menstrual disorder. Objective: To identify the association between eating behavior and the prevalence of premenstrual syndrome in teenagers at District of Purworejo. Method: This was a case control study with quantitative approach. Subject of the study were students of SMKN 3 and SMAN I Purworejo. Analysis stage I was made to identify the prevalence of premenstrual syndrome (n=749). Analysis stage II was made to identify the association between eating behavior and the prevalence of premenstrual syndrome; the comparison between samples of cases and control was 1:1 (n=160). Result: The prevalence of premenstrual syndrome in teenagers was 24.6%. The test in eating behavior and premenstrual syndrome showed the result was statistically significant. When variable of stress was controlled, the risk for premenstrual syndrome was 2.3 times greater. The result of logistic regression analysis on nutrient intake showed that fat and potassium had the most dominant effect to the incidence of premenstrual syndrome with standardized coefficient value as much as 0.7982 and 0.7834 subsequently. Conclusion: Unhealthy eating behavior increased risk for premenstrual syndrome 2.3 times greater. Intake of fat and potassium most dominantly affected premenstrual syndrome.
Kata Kunci : Perilaku makan,Sindrom premenstruasi (PMS) dan remaja, eating behavior, premenstrual syndrome, teenagers