Penggunaan partograf dengan kejadian seksio sesar di Rumah Sakit Provinsi Kepulauan Riau
PUSPARIANDA, Dewi, Prof. dr. Djaswadi D, SpOG(K), MPH, PhD
2009 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar belakang: Partograf digunakan sebagai salah satu praktek memonitoring perjalanan persalinan sebagai salah satu pencegahan dan deteksi dini sebelum keputusan tindakan seksio sesar. Dari studi pendahuluan pertolongan persalinan di RSUD Kota Tanjungpinang dan RS Awal Bros Batam telah menggunakan partograf untuk memantau proses persalinan namun masih terjadi peningkatan angka kejadian seksio sesar pada komunitas. Hal ini terbukti oleh peningkatan persentase kelahiran seksio sesar di RSUD Kota Tanjungpinang tahun 2006 dengan angka kejadian seksio sesaria 36% meningkat menjadi 41% pada tahun 2007, dan di RS Awal Bros Batam terjadi peningkatan dari 41,5% menjadi 49,6% pada tahun 2007. Tujuan: Mengetahui proporsi kejadian ibu bersalin dengan seksio sesar yang tidak menggunakan partograf dibandingkan dengan ibu bersalin yang menggunakan partograf di Rumah Sakit Propinsi Kepulauan Riau. Metoda: Penelitian menggunakan rancangan case control. Pengumpulan data menggunakan pedoman lembar observasi, dan informasi yang diperoleh, diperiksa dengan check list. Subjek penelitian adalah ibu bersalin dengan seksio sesar sebagai kasus dan ibu bersalin normal sebagai kontrol. Berdasarkan survei pendahuluan, ditemukan, ketentuan besar sampel adalah 94 orang untuk tiap kelompok. Analisa bivariabel dilakukan dengan menggunakan uji Chi square dengan nilai p<0,05 dan CI95%, dan analisa multivariabel menggunakan uji regresi logistik untuk melihat kebermaknaan variabel luar umur ibu, paritas dan tempat pelayanan dengan kejadian seksio sesar. Hasil: Ibu bersalin dengan tidak menggunakan partograf mempunyai risiko 2,62 kali (OR=2,62, 95%CI =1,40-4,90) dibandingkan dengan ibu bersalin dengan pertolongan persalinan menggunakan partograf, untuk mengalami kejadian sectio sesar. Variabel lain yang berpengaruh terhadap kejadian seksio sesar 1) primipara (OR=2,28; 95%CI =1,22- 4,32) dan 2) tempat pelayanan (OR=2,27, 95%CI=1,22-4,21). Kesimpulan: Ibu bersalin yang tidak menggunakan partograf lebih berisiko mengalami persalinan dengan seksio sesar dibanding yang menggunakan partograf.
Background: Partogram is commonly used to monitor progress of child delivery to prevent and make early detection before the decision for caesarean section. Preliminary study on childbirth assistance at the hospital of Tanjungpinang Municipality and Awal Bros of Batam shows that partogram has been used to monitor the process of childbirth; however the prevalence of caesarean section in the community is still relatively high. This is indicated from the fact that there was increase of the percentage of caesarean section at local hospital of Tanjung Pinang Municipality from 36% in 2006 to 41% in 2007; at Awal Bros Hospital of Batam from 41.5% in 2006 to 49.6% in 2007. Objective: To identify the proportion of mothers having caesarean section without being monitored with partogram and those monitored with partogram in hospitals at the Province of Kepulauan Riau. Method: The study used a case control design. Data were obtained from observation sheet and information was obtained and examined through checklist. Subject of the study were mothers having caesarean section as cases and those having normal childbirth as control. Based on preliminary study samples consisted of 94 mothers for each group. Bivariate analysis used chi square with p<0.05 and CI95% and multivariate analysis used logistic regression test to find out significance of external variables of age of mothers, parity and service provider and the prevalence of caesarean section. Result: Mothers giving birth without being monitored using partogram had 2.62 times greater risk (OR=2.62, 95% CI=1.40 – 4.90) for caesarean section than those using partogram. Other variables affecting the prevalence of caesarean section were 1) primipara (OR=2.28; 95% CI=1.22 – 4.32) and 2) service provider (OR=2.27, 95% CI=1.22 – 4.21). Conclusion: Mothers who gave birth without being monitored using partogram had greater risk for having caesarean section than those that used partogram.
Kata Kunci : Penggunaan partografi,Seksio sesar,Persalinan,Provinsi Kepri, partogram, caesarean section, childbirth